Esai dan Sunyi yang Lain

Membaca sebuah buku kumpulan esai mampu menimbulkan sensasi berbeda dengan ketika membaca prosa atau puisi. Terkadang, ketika membaca esai, saya justru menemukan jejak-jejak wangi puisi di dalamnya atau terkadang juga alir prosa yang filmis. Saya termasuk salah satu pembaca yang cukup gandrung dengan tulisan berjenis esai. Banyak esais yang saya gandrungi. Goenawan Mohamad dan Mahbub Djunaidi, adalah diantaranya. Dua orang esais itulah yang paling mampu memicu rasa kagum saya. Goenawan Mohamad—atau yang lebih akrab dpanggil GM—selalu mampu menghadirkan esai-esai puitik dengan berbagai macam tema. Di tambah lagi, dengan pembendaharaan wawasan ensiklopedik itu, saya kian di buatnya bengong. Betapa samuderanya wawasan orang ini! Di satu sisi, Mahbub Djunaidi—atau yang akrab di sapa Bung Mahbub—adalah esais dengan kepiawain yang lain. Bung Mahbub mampu meracik sebuah esai serius dengan sedikit kritik pedas dan kelakar. Seringkali, saya dibuatnya tertawa tergelak oleh esai-esai satirnya.

*

Tapi, dua nama barangkali itu sudah cukup dikenal oleh para pembaca Indonesia. Nama mereka telah jadi klasik. Namun, mungkin, banyak orang yang belum tahu dan mengenal nama Agus Rois. Seorang esais muda berambut gondrong dengan kulit legam yang eksotis. Saya pun baru mengenal nama itu ketika ia ramai dibicarakan di Ubud Writer Festival karena memakai nama samaran Raisa Papa. Sebuah nama yang semacam jadi alegori bagi tulisannya. Tulisan yang rendah hati dan penuh sunyi. Sekilas, membaca esai-esai seperti sensasi ketika membaca esai-esai GM. Ada nafas puisi di situ. Ada yang sunyi dan transendental. Di Benoa, Saya Bertemu Sidharta—buku esai esai pendek Agus Rois— barangkali, dengan sembrono saya sebut, adalah anak tiri dari buku esai Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai karya Goenawan Mohamad. Dua buku ini lebih-kurang, membahas tema-tema yang hampir sama. Kemanusiaaan yang musykil atau Tuhan yang sembunyi dari sunyi ke sunyi.

*

Seperti dalam esai Pupuan, Agus Rois, dengan kalemnya, menuturkan pengalamannya ketika berjalan sendirian di sebuah jalan setapak di Pupuan bali. Dan dengan nada lirih, di antara pepohonan dan sayup senja, ia juga memcoba mengingat kembali peristiwa-peristiwa peperangan di masa lampau. Peristiwa-peristiwa yang menunjukkan tentang betapa pongah dan degilnya manusia. Nuansa ini juga pernah saya temukan di esai tatal pertama, ketika GM mengolok-olok manusia pongah yang sering bangga dengan lembing dan takhta.  Yang padahal kebijaksanaan dan keluhuran itu bisa saja muncul dari serpihan kayu yang rompal—yang disebut tatal.

Di beberapa esai lainnya, Agus juga menyelipkan puisi ketika ingin menggambarkan sebuah maksud. Ia menukil Sapardi dan Tagore ketika membahas anak-anak pasar badung. Mencoba melihat betapa anak-anak adalah lawan dari orang dewasa. Ketika nasib ditangan anak-anak tak pernah jadi rumit. Ketika orang dewasa begitu mudah suntuk dan putus asa, sedang anak-anak mungkin hanya tergelak dan menangis seperlunya.

Lalu di esai Di Benoa, Saya Bertemu Sidharta—esai yang diambil sebagai judul buku—Agus menceritakan kembali tentang hikayat Sidharta, sang pangeran yang diasingkan dari wajah muram dunia itu. Ia, lagi-lagi bicara tentang sunyi. Tentang apa yang perlu dipetik dan diabaikan. Dan tentu saja, pada akhirnya kensunyian adalah nama lain dari kekosongan. Dan ternyata, nuansa membaca esai ini juga saya temukan ketika membaca tatal ketiga dari GM. Ketika GM bertutur tentang Sidharta dan laku hidupnya menempuh ruang hidup yang sunya.

Mungkin saya berlebihan ketika membandingkan esai Agus Rois dan GM. Atau mungkin saya juga seolah-olah ingin menunjukkan bahwa Agus Rois adalah epigon dari GM. Tapi, di satu titik, maksud saya jauh dari itu. Saya hanya ingin menikmati tulisan yang tunggal dan memiliki nyawanya sendiri. Meskipun, dalam satu kesempatan, saya pernah bertanya kepada penulisnya:

“Apakah mas Agus suka baca GM?”

Nggak ada penulis di kita yg nggak terpengaruh GM. Secara bacaan ya,tulisnya di jendela percakapan di facebook.

*

Namun, di luar itu semua, esai-esai Agus Rois cocok untuk dinikmati oleh mereka yang yang sudah lelah dengan kejumudan hidup.

Dibaca di gigir telaga berwarna hijau sayu dengan gelombangnya yang tenang, sembari sesekali melirik dedaunan yang gugur dari pokok pohon. Atau melihat seekor kadal yang lintang pukang masuk ke dalam semak-semak. Sesederhana itu. Sesunyi itu.

Tanaman Hijau di Meja Kantor

Ketika memasuki belantara bernama dunia kerja, kau tak boleh terlalu hijau.

Kira-kira pesan semacam itulah yang tercetus dari kepala saya setelah menjalani sakit dan pahitnya menjadi pegawai kantoran fresh graduated. Tak punya pengalaman sama sekali, jam terbang nol. Saya tak tahu rimba, saya hanyalah bocah polos yang kelewat girang karena bisa langsung bekerja tanpa jeda waktu yang terlalu lama setelah pesta wisuda. Namun, ternyata kegirangan itu hanya berlangsung selama beberapa minggu saja, setelahnya saya dipaksa untuk mencicipi pahit dan perihnya dunia kerja.

Mulai dari olok-olok rekan kerja, tekanan dari atasan, atau bahkan harus menjadi wadah luapan kemarahan klien. Tapi, ada yang lebih pahit dan lebih perih dari itu semua, yaitu ketika saya harus merasakan pengalaman ketika dijatuhkan oleh rekan kerja yang sudah saya percaya. Itu, rasanya lebih pahit ketimbang buah mengkudu, lebih perih ketimbang luka yang ditetesi air jeruk nipis.

Padahal, sejauh itu saya sudah memperlakukan mereka dengan baik, bahkan saya sebisa mungkin menaruh rasa hormat yang sepantasnya. Paling tidak, saya tak mengganggu mereka atau mencurangi mereka. Namun ternyata hasrat untuk bertindak culas memang bisa muncul dengan sendirinya tanpa harus dipicu oleh alasan apapun. Yang sering terjadi adalah, saya harus menerima masalah yang sebetulnya bukanlah ulah saya. Semata-mata itu adalah ulah mereka. Dan itu menyakitkan. Ketika saya membela diri, justru malah saya yang mendapatkan kesan sebagai orang yang gemar melempar kesalahan kepada orang lain. Alhasil, kesan itu terus-menerus menempel pada saya dan saya menjadi wadah yang selalu sedia menampung segala macam kesalahan dan omelan-omelan atasan.

Hari-hari pun berlalu, saya lewati semua dengan hati dongkol dan penuh gerutu. Saya mulai terserang berbagai gejala yang umum melanda para pekerja kantoran: nyeri di tengkuk dan susah tidur.  Belum lagi pekerjaan yang tak kunjung beres.

Saya pun mulai mencoba meluapkan keresahan saya dengan berbagai cara. Mengeluh kepada orang tua atau sahabat. Mencoba menyerap nasihat-nasihat dari orang-orang yang pernah mengalami hal yang sama, dan sebagainya, dan sebagainya.

Hasilnya pun tak terlalu buruk. Saya kembali kedalam hidup yang seimbang. Dan kuncinya adalah:

  1. Jika kau curangi, kau harus terlebih dulu memasang benteng untuk menghindarinya. Atau bahkan, berbohong memang diperlukan untuk menyelamatkanmu dari lubang kesalahan. Dan sebisa mungkin jangan sampai siasatmu itu ikut mencelakakan orang lain. Tetaplah menjadi orang baik. Jangan jadi orang jahat dan jangan jadi orang yang dijahati.
  2. Jangan terbiasa mengandalkan orang lain. Kau tahu, kepercayaan itu mahal harganya. Terkadang, orang yang kau andalkan bisa dengan mudah mencurangimu.
  3. Tutup telingamu. Taruh hatimu di tempat kedap suara. Dan bekerjalah dengan sebaik-baiknya.

Nah, begitulah kawan. Semoga saranku ini cukup berguna untuk kalian yang baru saja (atau yang akan) terjun ke dalam dunia kerja.

Ingat, jangan terlalu hijau. Sebab, di luar sana terlampau banyak manusia bertaring dan matahari panasnya sudah kepalang jalang.

 

Kasur: Sebuah Perkara Sepele Yang Tak Sepele

Seringkali kita abai dengan asal mula segala macam benda yang fungsinya sangat membantu hidup kita. Kasur, misalnya. Benda ini adalah perangkat yang sungguh membantu manusia dalam menjaga kualitas tidurnya dan menghindarkan kepala dari serangan senewen. Coba bayangkan saja bilamana kasur tak pernah ada, maka manusia akan terus menerus-terus diserang penyakit nyeri punggung dan masuk masuk angin karena tidur di lantai atau tanah.

*

Oh, tapi hal itu memang pernah dilalui nenek moyang kita—para manusia, kawan. Berabad-abad yang lalu, ketika zaman neolitikum, manusia masih terbiasa tidur tanpa alas. Hanya tanah tempat mereka berbaring dan tidur. Namun, kebiasaan itu mulai berkembang ketika manusia mulai merasa tidurnya tak nyaman ketika harus terganggu oleh serang hama semacam semut dan kecoa, atau terbangun dengan ditempeli kotoran. Maka sedikit demi sedikit manusia mulai berpikir, mereka mulai mencoba tidur dengan alas dedaunan atau ranting pohon.

Waktu terus berjalan dan manusia kian hari kian cerdik. Untuk terus meningkatkan kualitas kenyamanan tidur mereka, manusia pun mulai memanfaatkan kulit binatang yang dijahit sebagai bantal. Agar tidur menjadi lebih hangat dan akhirnya pulas. Dan pada tahun 3600 SM ditemukanlah sebuah alas tidur yang terbuat dari Goatskins berisi air di Persia. Lalu, 200 SM di zaman romawi kuno kasur dibuat dari tas yang di isi dengan rumput, bulu wol, dan jerami kering. Dan begitulah, kasur semakin membikin manusia makin manja dalam tidur dan terus mendengkur.

Hingga pada akhirnya, kasur diciptakan dengan teknologi lateks oleh Dunlop pada tahun 1926. Kasur inilah yang mulai banyak digunakan oleh kebanyakan orang-orang kelas menenga atas karena empuk-lentur layaknya karet. Atau bahkan pada tahun 1970 NASA mengembangkan kasur yang terbuat dari bahan bernama busa memori. Semata-mata, untuk tidur yang lebih nikmat.

*

Yah, kasur adalah perangkat sederhana yang sepele. Tapi, apakah hidupmu akan tetap baik-baik saja jika kasur tak pernah ada dan beban pekerjaan terus-menerus menonjok tengkukmu?

 

Kurasa, terserang insomnia dan stress bukanlah hal yang membahagiakan.

 

*) sebagian informasi dari tulisan ini disarikan dari laman Wikipedia

Malas Bangun Pagi

Dik, kau tahu kenapa aku selalu malas bangun pagi?

Sebab, pagi adalah waktu dimana aku harus memikul kembali hidupku sebagai manusia yang ringkih. Padahal pada mulanya pagi adalah waktu yang harusnya dinikmati dengan suasana sendu dan lembam, tanpa direpotkan dengan rasa was-was dan tekanan. Pagi adalah angin dingin yang membelai tengkuk dan suara-suara riuh yang melenakan telinga.

Namun, ternyata kenyataan tak selalu menyediakan hal-hal indah. Setiap pagi aku harus menjadi manusia yang mau tak mau harus sedikit memelihara sedikit sifat culas. Sebab, pada momen itu para manusia merasa dirinya dituntut untuk bersaing dan menang!

Menindas atau ditindas?

Pagi, pada titik lain adalah belantara kehidupan yang liar. Ia bisa mencelakakan. Jika kau tak tahu jalan setapak untuk mencapai tempatmu, kau akan mudah tersesat. Jika kau setia menjadi tanaman hijau yang polos, kau akan mudah terinjak bahkan dibabat.

Begitulah, Dik, memang. Pagi adalah waktu ketika rasa lapar begitu menyala, maka tak heran jika manusia-manusia lapar itu menjadi beringas.

Namun, Dik, yang perlu kau ingat adalah: pagi tetaplah pagi. Waktu ketika langit sedang begitu indah untuk dinikmati. Waktu ketika udara begitu sejuk untuk dihirup. Waktu ketika tanaman-tanaman hijau masih digelayuti embun, sehingga begitu segar untuk dipandangi mata.

Pagi, Dik, pada titik yang lain akan selalu menjagamu untuk tetap menjadi manusia yang baik-baik saja.