Hari Belut Nasional

belut-uuu

Di Jepang, ada hari peringatan nasional yang unik. Hari itu adalah hari belut nasional atau Doyo No Ushi No Hi. Pada hari itu, seluruh masyarakat Jepang, dari anak-anak hingga kaum lansia merayakannya dengan memakan belut bersama-sama. Semacam festival, dimana berbagai macam belut diolah menjadi masakan yang bisa menerbitkan air liur. Salah satu jenis yang paling digemari adalah belut panggang. Belut panggang, biasanya adalah masakan yang diolah dari belut pilihan. Belut ini di ambil dari danau sekitar Shizuoka. Belut yang ditangkap kemudian dikuliti dan dibaluri oleh bumbu lokal khusus. Kemudian dipanggang dan taraa…

belut-panggang
belut panggang khas jepang

Ada juga belut yang direbus dan disajikan bersama wasabi. Segala macam jenis menu belut itu niscaya akan membuat anda semua meneteskan air liur. Namun, yang harus diingat dari makhluk yang serupa ular itu adalah: kelicinannya. Kelicinan itulah yang sesungguhnya berbahaya. Sifatnya itu, diam-diam bisa membunuh anda.

Saya pernah membaca sebuah berita dari portal berita daring, bahwa ada seorang bocah yang mati karena isi perutnya hancur setelah menelan belut yang masih hidup. Bocah itu, sesungguhnya tak sengaja. Ia tak hendak menelan belut itu, ia hanya ingin menciumnya. Namun, naas. Belut itu melewati tenggorokan, lalu ususnya, lalu mati.

Begitulah. Belut juga bisa berbahaya.

Dan saya pikir, tanggal 15 Februari 2017 kemarin, Indonesia seharusnya juga merayakan hari belut nasional. Karena…..

 

 

Tentu anda tahu alasannya.

Advertisements

Membaca adalah kegemaran sia-sia?

Bagi saya membaca adalah bentuk kebahagiaan lain selain tidur dan makan. Tapi, bagi sebagian orang-orang di sekitar saya, kegemaran saya adalah laku sia-sia. Tentu saja, pada beberapa poin mereka memang benar. Sebab, tujuan saya membaca hanya karena ingin membaca. Saya tak berharap dengan membaca lantas tiba-tiba saya akan jadi kaya mendadak. Atau dengan membaca lantas saya akan secara ajaib menjadi bocah jenius yang mampu memenangi olimpiade sains internasional. Saya tak berharap mendapatkan manfaat semacam itu. Meskipun banyak pula buku yang menjanjikan banyak hal semacam itu.

membaca-adalah-kunci-1
buku-buku aneh yang seharusnya jangan dibaca 🙂

Pernah pula, di kantor saya dulu, bos saya memarahi saya: “kamu itu jangan baca terus. Ini tuh dunia nyata. Bukan dunia mimpi kayak buku-buku yang kamu baca,” katanya dengan sedikit nada menghardik. Bahkan, ada rekan kerja yang menganjurkan saya untuk membakar semua buku-buku koleksi saya. Pada titik itu, saya sempat putus asa, dan sempat berpikir bahwa mereka seutuhnya benar. Buku-buku yang saya baca pun, sebagian besar adalah buku-buku aneh. Buku-buku yang tak menawarkan manfaat konkret bagi kehidupan. Buku jenis sastra dan filsafat, misalnya. Buku-buku jenis itu hanya akan membuat alam pikiran saya mengambang di semesta hampa, pikir saya waktu itu. Namun untunglah, saya bisa membunuh setan pembenci buku dalam kepala saya itu. Saya terus membaca dan tetap berbahagia.

Saya jadi ingat seloroh dari seorang dramawan norwegia, Henrik Ibsen: “Jika kau membongkar kebohongan hidup dari orang kebanyakan, maka kau telah merampas juga kebahagiaannya.” Mungkin itulah poinnya. Kebahagiaan tak lain adalah himpunan kebohongan yang tidak kita sadari. Kita tetap melakukan banyak hal yang kita sukai meskipun itu bohong dan sia-sia. Seperti kegemaran membaca. Banyak orang di dunia ini berpikir bahwa hidup harus konkret. Hidup harus menghasilkan manfaat nyata. Padahal pada satu titik hidup yang mereka jalani adalah kebohongan jenis lainnya. Dan saya, tentu enggan mengusik dan membongkarnya. Saya mengamini apa yang dikatakan Ibsen dan berharap semua orang menyadarinya. Kita harus terus berusaha membuat hidup ini baik-baik saja. Tidak boleh ada yang usil. Sebab kita terus berbahagia, dengan kebohongan yang terus kita jaga.

Sepakat kawan?

Kenapa Mereka Gemar Berkelahi?

“Kira-kira, apa yang menyebabkan orang gemar berkelahi?”

“Pada akhirnya, semua perkelahian selalu berujung pada urusan perut.”

“Maksudmu?”

“Ia, rasa laparlah yang memaksa orang untuk berebut. Dan perkelahian selalu dimulai dari perebutan akan sesuatu, yang menentukan siapa yang menang dan kalah.”

“Aku tak paham maksudmu.”

“Kau ini bodoh atau tolol atau dungu? Begitu saja tidak tahu.”

“Apa maksudmu? Kau menantangku berkelahi?”

“*&@$&@^&^!&@&*^@*^$”

 

Continue reading “Kenapa Mereka Gemar Berkelahi?”

Pekerja Rentan

Untuk mengisi waktu setelah melepaskan sebuah pekerjaan yang menyebalkan, saya menikmati waktu untuk membaca buku dan menonton film. Tentu, kedua kegiatan tersebut adalah selingan belaka di antara ritus hidup saya sebagai manusia. Sekarang, saya sedang membaca sebuah buku—masih dalam proses, belum tuntas—berjudul Surplus Pekerja di Kapitalisme Pinggiran karya Muhtar Habibi, diterbitkan oleh Penerbit MarjinKiri. Sebuah buku yang secara bernas menguliti masalah klasik yang hampir menjangkiti semua negara di dunia: pengangguran dan lapangan kerja!

Ya, masalah itu sangat berkaitan sekali dengan kondisi saya saat ini. Status saya sebagai seorang penganggur, menciptakan nuansa yang lain ketika saya memulai membaca buku ini. Muhtar, dalam bukunya mencoba untuk mengkritik negara karena secara tak langsung telah menciptakan lanskap buruk pada ranah lapangan kerja kita hari ini. Alih-alih menurunkan angka pengangguran, pemerintah justru menciptakan para pekerja rentan. Surplus pekerja. Alias mereka yang bekerja dari luar pagar produksi. Mereka, bekerja pada ranah yang menjadikan mereka sekedar baut dari sebuah mesin raksasa. Dengan upah yang minimal, mereka harus dipaksa bekerja dengan nafas yang selalu terengah. Hal ini, tidak lain dan tidak bukan, menurut Muhtar dalam bukunya, adalah ulah dari neoliberalisme negara. Muhtar dalam buku ini juga tak segan-segan menggunakan sebilah pisau bedah teori Marxis yang seringkali dianggap kacangan (entah, saya heran dengan mereka yang selalu menyebut komunis telah bangkrut).

Selama membuka tiap lembarnya, saya seolah-olah kembali pada masa ketika saya bekerja dulu. Sejujurnya, saya tak bisa dengan lantang menyatakan bahwa kemarin, saya adalah bagian dari pekerja rentan seperti contoh dalam buku ini. Bukan. Posisi saya pada waktu itu juga tak terlalu buruk sebenarnya. Bekerja di sebuah ruangan ber-AC dan dengan penampilan yang (cukup) necis. Namun, tentu saja, beban kerja itu tetap ada. Bahkan lebih berat. Sebenernya kemarin, saya juga adalah buruh. Bedanya, saya adalah buruh dengan penampilan rapi.

Memang, menjadi seorang pekerja pada ranah yang tak didisukai tak ubahnya seperti seorang pekerja rentan. Bekerja di luar pagar produksi. Varian lain dari sebuah alienasi.

Saya terus membaca buku ini.

Sembari menunggu, barangkali ada pekerjaan yang lebih baik. Pekerjaan yang tak memaksa saya menjadi baut mesin atau bolpoint dengan tinta yang bocor.

Saya merekomendasikan buku ini bagi meraka yang ingin, tahu bagaimana kondisi kaum pekerja rentan saat ini.

Berjalan

*

cemara

Aku berjalan saja. Menuju hutan cemara. Melalui setapak jalan batu-batu. Di sore hari yang semenjana. Melihat pucuk-pucuk cemara yang mulai ranggas. Seperti usiaku yang lekas. Mencuri dingin dari kulit pohon cemara yang mengelupas.  Juga galur-galur cahaya dari matahari yang tergantung di ufuk barat. Mengapa hidup harus dimaknai, tuan?

Alir sungai tak pernah mengirimkan bunyi riuh. Ia hanya menuntunku pada ricik yang tenang dan sendu. Suara sungai, adalah ritus doa yang tak pernah putus. Bukankah begitu, puan?

*

Berwisata Sebagai Laku Kolonial?

Tidak seperti orang kebanyakan, setiap akhir pekan saya lebih memilih diam di rumah— lebih tepatnya di kamar, ketimbang harus pergi pakansi ke tempat-tempat jauh yang menawarkan segala paket hiburan pereda penat. Ah, tentu saja saya naif. Tapi, saya punya alasan tersendiri; karena saya termasuk orang introvert yang lebih betah berlama-lama di kamar untuk melakukan banyak hal seperti membaca, menulis (seperti yang saya lakukan sekarang), menonton film di laptop dan tidur (inilah kegiatan yang lebih sering saya lakukan). Barangkali juga karena saya tak punya banyak uang untuk ke sana dan belum ada orang yang mengajak saya untuk pakansi. Namun, tentu saja, apa yang saya lakukan ini juga beralasan. Saya tidak ingin berwisata ke tempat–tempat yang biasa dikunjungi banyak orang karena saya tak ingin jadi turis. Ya, itulah sikap politik saya: saya tak mau jadi turis.

Tidak, saya tidak berlebihan. Karena sikap politik saya itu tidak terbersit tiba-tiba, ia muncul dan dibentuk oleh pergulatan pemikiran yang cukup sengit setelah saya membaca A Small Place karya Jamaica Kincaid. Sebuah buku kecil yang berisi narasi poskolonial tentang sebuah negeri kecil bernama Antigua. Negara ini terletak di antara apitan samudra pasifik dan laut Karibia.

kincaid

Dalam buku ini saya seolah-olah menjadi turis. Dan Kincaid adalah pemandu wisatanya. Kincaid memandu saya untuk menyusuri Antigua. Namun bedanya, bila kebanyakan pemandu wisata akan menceritakan segala hal yang baik tentang tempat itu, maka Kincaid justru sebaliknya. Saya diajak Kincaid untuk melihat betapa keadaan sosial di Antigua begitu menyedihkan. Orang-orang miskin dan para pejabat yang korup. Bahkan, pada salah satu bagian saya diajak untuk melewati sebuah rumah sakit bernama Holberton. Rumah sakit dengan fasilitas buruk dan hanya memiliki tiga orang dokter yang oleh warga Antigua tidak disegani. Belum lagi ketika saya diajak oleh Kincaid untuk mengenal para pejabat Antigua yang memiliki moral bobrok. Pendapatan yang diperoleh Antigua dari sektor wisata, sudah jelas tak menetes ke warganya. Dan telak, Kincaid membuat saya terlihat sebagai turis yang bodoh dan menjijikan. Ternyata, di balik pemandangan indah Antigua, terserak kotoran dan kebobrokan di pemerintahannya. Ini juga mengingatkan juga saya pada sebuah novel White Tiger karya Aravind Adiga.

Barangkali itulah yang disebut warisan kolonial. Lalu, apakah mereka pergi ke sana untuk berwisata, diam-diam telah melakukan laku kolonial?

Ah, saya tak tahu. Yang pasti, saya tak mau jadi turis yang ditunjuk hidungnya oleh Kincaid.

Tapi sungguh, jika memang berwisata itu perlu, maka saya akan lebih memilih tempat yang tak umum dikunjungi orang. Seperti hutan pinus yang berjarak 2 kilometer dari rumah. Saya akan berjalan dengan sepasang sandal butut saya, dan membawa buku bagus—mungkin puisi, kumpulan cerpen atau novel. Mungkin di sana saya hanya akan duduk dan melamun di bawah pohon pinus yang mulai ranggas. Begitu saja.

Bosku Adalah Mesin

Lebih Baik Bekerja Dengan Robot, Ketimbang Dengan Manusia

 

Seperti biasa, saya masuk dengan perasaan canggung. Saya melihat telinganya memerah. Itu pertanda dia sedang kesal. Wajahnya sedang bersungut-sungut. Dan dia adalah bos saya. Orang yang selalu saya patuhi setiap perintahnya dan terkadang saya abaikan juga.

“Kesal saya. Lebih baik bekerja dengan robot deh, daripada sama orang. Capek ngasih tahunya.”

Setelah mendengar omelannya, saya pergi dari ruangannya dengan membawa setumpuk pekerjaan yang tentu saja juga membikin saya capek dan kesal. Pernyataannya menggaung dalam batok kepala saya. Pernyataannya membawa saya pada pergolakan pemikiran yang cukup sengit. Tentang betapa absurdnya manusia itu.

Saya tahu, pada titik tertentu manusia adalah makhluk yang menyebalkan. Namun, manusia tentu saja tak bisa disamakan dengan robot atau mesin. Dua instrumen yang memiliki kepatahuan seratus persen. Jika disuruh A maka ia akan menjalankan A. Jika disuruh B dia akan menjalankan B. Sebab manusia adalah makhluk yang dibekali dengan perasaan. Maka, tentu saja ia harus diperlakukan dengan cara yang berbeda.

Jika, Anda memperlakukan seorang manusia layaknya mesin dan robot, Anda tak jauh berbeda dengan seorang fasis yang gemar mencabuki rakyatnya. Atau, barangkali Anda memang lebih baik bekerja dengan mesin yang berdengung atau robot dengan kecerdasan buatan dengan suara monoton. Saya yakin, kurang dua minggu Anda akan kehilangan kemampuan berbicara dan mendengar. Anda sedang berubah menjadi mesin.

Prinsip Hidup

Prinsip hidup adalah sebilah pedang yang ditempa oleh seorang pandai besi bernama pengalaman. Kira-kira, itulah gambaran saya tentang: apa itu prinsip hidup?

Seringkali, ada beberapa orang yang gemar bertanya dengan pertanyaan “apa prinsip hidupmu?”. Dan tentu saja, pertanyaan itu tak mudah ditemukan jawabnya. Sebab, tak selamanya setiap orang punya sepaket definisi instan tentang prinsip hidup yang diyakininya. Kebanyakan orang, termasuk saya, adalah manusia-manusia yang sedang mencari atau membikin prinsip hidup itu sendiri.

Prinsip hidup bukanlah jamu pahit yang harus dicekokan kedalam batok kepala tiap manusia. Tiap manusia, berhak dan bebas memilih, membuat dan memakai prinsip hidup yang diyakiniya. Karena pada akhirnya kita tahu, setiap manusia berada pada posisi jarak pandang yang berbeda.

Yang perlu kita terima ialah: prinsip hidup yang baik adalah prinsip hidup yang tak merugikan orang lain. Prinsip hidup adalah sebilah pedang yang tak dipakai untuk memerangi musuh, melainkan sebilah pedang yang cukup digunakan untuk menebas segala benalu hidup yang membikin dirimu tetap kerdil dalam ketakutan.

 

Merenung

 

Merenung. Adalah salah satu hobi yang sejak kecil tak pernah saya tinggalkan. Sebagian orang, barangkali, yang sering melihat saya bengong, akan lebih mudah menyebut saya sedang melamun. Semacam kegiatan mubazir yang rentan. Konon, orang yang banyak melamun itu mudah dirasuki roh halus dan tak punya visi. Karena pekerjaannya hanya melamun. Terbuai dalam angan-angan dan ilusi. Abai dengan dunia yang serba keras dan cepat.

Saya kira, anggapan-anggapan semacam itu memang ada benarnya. Namun, pada titik lain, saya justru menganggap kebiasaan saya itu (jika tak pantas disebut hobi) adalah kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Kehidupan saya, menurut saya, sudah terlampau aus jika harus dijalani dengan rutinitas yang padat tanpa ada jeda untuk sekedar waktu merenung. Apalagi ketika bekerja telah menjadi bagian dari tanggung jawab. Hidup rasanya sudah menjadi begitu penat dan membosankan. Kadangkala, ada pikiran-pikiran jahat yang membujuk saya untuk bunuh diri saja. Dengan cara menabrak mobil tronton atau mengerat nadi di pergelangan tangan. Tapi, syukurlah, saya selalu disadarkan, bahwa masih ada kebahagiaan-kebahagiaan lain yang belum pernah saya cicipi. Ah, ironi!

Esai dan Sunyi yang Lain

Membaca sebuah buku kumpulan esai mampu menimbulkan sensasi berbeda dengan ketika membaca prosa atau puisi. Terkadang, ketika membaca esai, saya justru menemukan jejak-jejak wangi puisi di dalamnya atau terkadang juga alir prosa yang filmis. Saya termasuk salah satu pembaca yang cukup gandrung dengan tulisan berjenis esai. Banyak esais yang saya gandrungi. Goenawan Mohamad dan Mahbub Djunaidi, adalah diantaranya. Dua orang esais itulah yang paling mampu memicu rasa kagum saya. Goenawan Mohamad—atau yang lebih akrab dpanggil GM—selalu mampu menghadirkan esai-esai puitik dengan berbagai macam tema. Di tambah lagi, dengan pembendaharaan wawasan ensiklopedik itu, saya kian di buatnya bengong. Betapa samuderanya wawasan orang ini! Di satu sisi, Mahbub Djunaidi—atau yang akrab di sapa Bung Mahbub—adalah esais dengan kepiawain yang lain. Bung Mahbub mampu meracik sebuah esai serius dengan sedikit kritik pedas dan kelakar. Seringkali, saya dibuatnya tertawa tergelak oleh esai-esai satirnya.

*

Tapi, dua nama barangkali itu sudah cukup dikenal oleh para pembaca Indonesia. Nama mereka telah jadi klasik. Namun, mungkin, banyak orang yang belum tahu dan mengenal nama Agus Rois. Seorang esais muda berambut gondrong dengan kulit legam yang eksotis. Saya pun baru mengenal nama itu ketika ia ramai dibicarakan di Ubud Writer Festival karena memakai nama samaran Raisa Papa. Sebuah nama yang semacam jadi alegori bagi tulisannya. Tulisan yang rendah hati dan penuh sunyi. Sekilas, membaca esai-esai seperti sensasi ketika membaca esai-esai GM. Ada nafas puisi di situ. Ada yang sunyi dan transendental. Di Benoa, Saya Bertemu Sidharta—buku esai esai pendek Agus Rois— barangkali, dengan sembrono saya sebut, adalah anak tiri dari buku esai Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai karya Goenawan Mohamad. Dua buku ini lebih-kurang, membahas tema-tema yang hampir sama. Kemanusiaaan yang musykil atau Tuhan yang sembunyi dari sunyi ke sunyi.

*

Seperti dalam esai Pupuan, Agus Rois, dengan kalemnya, menuturkan pengalamannya ketika berjalan sendirian di sebuah jalan setapak di Pupuan bali. Dan dengan nada lirih, di antara pepohonan dan sayup senja, ia juga memcoba mengingat kembali peristiwa-peristiwa peperangan di masa lampau. Peristiwa-peristiwa yang menunjukkan tentang betapa pongah dan degilnya manusia. Nuansa ini juga pernah saya temukan di esai tatal pertama, ketika GM mengolok-olok manusia pongah yang sering bangga dengan lembing dan takhta.  Yang padahal kebijaksanaan dan keluhuran itu bisa saja muncul dari serpihan kayu yang rompal—yang disebut tatal.

Di beberapa esai lainnya, Agus juga menyelipkan puisi ketika ingin menggambarkan sebuah maksud. Ia menukil Sapardi dan Tagore ketika membahas anak-anak pasar badung. Mencoba melihat betapa anak-anak adalah lawan dari orang dewasa. Ketika nasib ditangan anak-anak tak pernah jadi rumit. Ketika orang dewasa begitu mudah suntuk dan putus asa, sedang anak-anak mungkin hanya tergelak dan menangis seperlunya.

Lalu di esai Di Benoa, Saya Bertemu Sidharta—esai yang diambil sebagai judul buku—Agus menceritakan kembali tentang hikayat Sidharta, sang pangeran yang diasingkan dari wajah muram dunia itu. Ia, lagi-lagi bicara tentang sunyi. Tentang apa yang perlu dipetik dan diabaikan. Dan tentu saja, pada akhirnya kensunyian adalah nama lain dari kekosongan. Dan ternyata, nuansa membaca esai ini juga saya temukan ketika membaca tatal ketiga dari GM. Ketika GM bertutur tentang Sidharta dan laku hidupnya menempuh ruang hidup yang sunya.

Mungkin saya berlebihan ketika membandingkan esai Agus Rois dan GM. Atau mungkin saya juga seolah-olah ingin menunjukkan bahwa Agus Rois adalah epigon dari GM. Tapi, di satu titik, maksud saya jauh dari itu. Saya hanya ingin menikmati tulisan yang tunggal dan memiliki nyawanya sendiri. Meskipun, dalam satu kesempatan, saya pernah bertanya kepada penulisnya:

“Apakah mas Agus suka baca GM?”

“Nggak ada penulis di kita yg nggak terpengaruh GM. Secara bacaan ya,” tulisnya di jendela percakapan di facebook.

*

Namun, di luar itu semua, esai-esai Agus Rois cocok untuk dinikmati oleh mereka yang yang sudah lelah dengan kejumudan hidup.

Dibaca di gigir telaga berwarna hijau sayu dengan gelombangnya yang tenang, sembari sesekali melirik dedaunan yang gugur dari pokok pohon. Atau melihat seekor kadal yang lintang pukang masuk ke dalam semak-semak. Sesederhana itu. Sesunyi itu.