“Bahagia sekali ya mereka…”

Senin memang bukan hari yang ramah. Hari senin punya nafas yang khas, selalu identik dengan kesibukan dan ketergesaan. Saya tak tahu, mengapa setiap hari senin orang-orang secara rutin melakukan kesibukan serentak. Orang-orang seperti bersepakat untuk hal itu.

Datanglah ke Bank pada hari senin. Datanglah ke kantor Pos pada hari senin. Datanglah ke kantor Pegadaian pada hari senin. Maka, yang anda lihat adalah pemandangan yang sama belaka: ular antrian yang begitu panjang, dan keriuhan sebuah pasar. Bahkan, jika anda mendatangi rumah sakit pada hari senin, pemandangan juga tak jauh berbeda. Orang-orang seperti punya jadwal sakit setiap hari senin. Padahal, sebaiknya hari senin cukup untuk upacara bendera saja.

Senin itu, seperti biasa, saya selalu datang paling awal. Biasanya datang berbarengan dengan satpam dan office boy.

Setelah meletakkan tas, melepas jaket dan memakai pomade, saya langsung menuju meja kerja. Menyalakan komputer dan mengerjakan tumpukan berkas. Jika tidak disiasati seperti ini, saya bakal kerepotan nantinya. Karena begitu pintu masuk dibuka, para nasabah akan langsung duduk di depan saya dan minta agar segera dilayani. Saya sering mengalami hal itu.

Sedang asyik-asyiknya memulai kerja, teman saya yang biasanya telat masuk kantor tiba-tiba sudah ada di ruangannya. Aneh, saya pikir. Jin muslim mana yang merasuki tubuhnya.

Setelah melepas jaket kulitnya dan meletakkan tas, ia menghampiri meja saya.

“Kamu itu rajin kerjanya. Tapi, kerjaannya numpuk terus.”

“Ya terus harus gimana kalau engga dikerjain? Kamu sendiri, tumben udah datang jam segini.”

“Iya, pengen ngeliat suasana pagi aja.”

“Hmmm… terus.”

“Aku tadi lihat sesuatu yang menarik di jalan. Waktu lewat kebun teh, aku ngeliat ada orang naik sepeda fixie.”

“Oh. Menariknya apa?”

“Aku mikir, itu yang namanya hidup. Bahagia sekali ya mereka. Hari senin bisa main sepeda. Hari senin, bukan hari minggu. Suatu saat nanti, kalau hutang tanggunganku sudah lunas semua, aku ingin resign saja.”

Saya mendengarkannya dan tetap memandangi layar monitor komputer saya. Seolah tidak acuh dengan ceritanya. Namun, diam-diam sebenarnya saya sedang mendengarkannya dengan hikmat. Apa yang ia ceritakan, mempunyai irisan yang sama dengan apa yang saya alami ketika masuk dalam dunai kerja. Setelah kerja, semuanya berubah. Rutinitas pekerjaan adalah tuntutan wajib yang harus dituntaskan. Berbeda dengan kuliah yang masih bisa ditolerir.

Saya pernah membayangkannya, apakah nanti, ketika sudah tua tetap akan duduk dan mengerjakan ini?

Apakah saya bisa menikmati pengalaman bersepeda di hari senin?

“Urip iku mung sawang sinawang le,” pesan itu selalu dilontarkan oleh Ibu ketika saya sudah mulai mengeluh. Tapi, pada akhirnya, saya keluar juga dari pekerjaan itu dan belum mendapatkan pekerjaan baru lagi.

Namun, ternyata saya juga masih belum bisa menikmati pengalaman bersepeda di hari senin. Padahal sekarang di hari senin tak ada kesibukan lagi. Kira-kira anda tahu apa penyebabnya?

Ya. Karena saya belum punya sepedanya.

Plak!

Advertisements

Buku dan Identitas

Bertahun-tahun lalu, saya mengobrol dengan kawan saya yang ada di Jakarta. Kawan saya ini bisa masuk dalam kategori masyarakat kelas menengah dan generasi milenial. Saya sering merepotkannya ketika membutuhkan saran . Sesi obrolan itu, bisa disebut juga sebagai sesi curhat. Sebab, memang pada saat itu saya sedang dalam keadaan tertekan dan sangat membutuhkan dukungan dari orang lain.

“Teh, kenapa ya aku sering dibully?”

“Kalau menurutku sih, mungkin karena hobimu dengan buku itu. Mungkin, mereka punya sentimen khusus dengan orang-orang sepertimu. Apalagi kamu kan tinggal di daerah, di desa, jadi mungkin mereka berpikir “halah, sok-sokan tinggal di desa baca buku serius”

Sejenak, saya mencoba mencerna pendapat kawan saya itu. Rasanya, pangkal masalah yang coba ia uraikan juga ada benarnya. Identitas dan buku barangkali memang punya hubungan erat yang tak nampak.

Buku, jika kita telusuri sejarahnya, adalah bagian yang tak terelakkan dalam proses perabadan manusia. Buku adalah sejilid kertas yang memuat aksara. Dalam aksara itulah, pengetahuan dan segala informasi tersimpan. Manusia yang sadar bahwa ia adalah makhluk peradaban, seharusnya tak boleh merasa asing dengan benda bernama buku. Maka, rasanya aneh sekali bila ada orang yang merasa bahwa buku adalah benda asing.

Namun, pada beberapa sisi lain, buku memang bisa menjadi benda asing dan previlege bagi kaum kelas menengah. Semisal, orang-orang desa mungkin menganggap bahwa buku-buku sastra terjemahan adalah bacaan yang asing. Mereka barangkali belum mengenal nama-nama asing seperti Goerge Orwell dan Haruki Murakami. Berbeda ketika mereka berhadapan dengan buku “budidaya ikan lele” atau “Berkebun Cabe” atau semisalnya. Tetapi, sejatinya, anggapan ini tak bisa kita jadikan sebagai pandangan yang generik.

Sebab, ada pula orang-orang desa yang mengenal nama-nama itu. Atau bahkan, wawasan mereka lebih ensiklopedik lagi. Wawasan mereka mungkin bisa merentang sampai pada karya-karya sastra klasik Era Victorian. Saya mengenal orang seperti itu. Ia adalah seorang penggemar sastra klasik, penulis prosa, dan penerjemah yang baik. Ia bahkan telah mengkhatamkan naskah-naskah drama Shakespeare. Dan juga, yang paling mencengankan, ia pernah khatam membaca novel babon karya Marcel Proust.

Hal ini juga berlaku ketika kita memandang kelas menengah. Mereka, mungkin bisa menjadi pelanggan kafe-kafe mahal di jajaran wilayah urban. Hal itu tak lantas membuat mereka menjadi akrab dengan buku. Buku bisa jadi previlege untuk mereka. Tapi, tak semua orang kota punya hubungan sensitif dengan buku. Mungkin juga mereka hanya mengenal nama Tere Liye atau Ika Natassa. Mungkin.

Jadi, anggapan-anggapan generik semacam itu tak boleh digunakan secara gegabah.

Anggapan-anggapan yang terlalu lancang akan membuat hubungan antara buku dan identitas menjadi tidak baik. Kita akan dengan mudah menganggap orang desa sebagai orang bodoh dan orang kota adalah seorang intelektuil yang selalu benar. Tidak bisa.

Buku adalah kenikmatan yang sangat boleh diakses oleh semua kalangan. Bebas. Atau bahkan ia menjadi tuntutan wajib. Untuk semua jenis buku apa pun. Karena buku dan identitas, tak punya hubungan yang berbanding lurus.

Mengobati Mood Buruk

Sebelumnya saya tak pernah berpikir bahwa suatu hari kelak saya bisa mencari uang dari kegiatan menulis. Ide semacam itu, tak pernah sama sekali mampir di benak saya. Sebab, saya pun menganggap kegiatan menulis hanya sebatas hobi dan kesenangan belaka. Jari jemari saya sudah cukup bahagia bisa menari di atas keyboard komputer. Namun, kita memang tak bisa memilih lajur nasib. Apa mau dikata, kini saya justru mencari pundi-pundi rupiah dari kegiatan menulis. Menulis ternyata bisa mendatangkan uang. Meski tak banyak. Meski jumlah tak sebanding dengan pekerjaan jenis lainnya.

Saya pun harus bisa menulis tulisan dengan tema apa pun. Tak boleh tidak bisa. Tentu dengan tenggat waktu juga. Harus bisa. Oleh sebab itu, saya harus sebisa mungkin mengendalikan mood saya dalam menulis. Banyak orang yang menganggap mood adalah item penting dalam menulis. Saya tak sepenuhnya sepakat. Namun, dalam waktu lain dan hal lain, itu memang benar.

Mood bisa mempengaruhi tulisan saya. Saya bisa begitu lancar menulis ketika mood sedang dalam keadaan berbahagia. Bahkan, ketika mood dalam keadaam yang sangat prima, jemari saya bisa menari dengan ketangkasan tingkat tinggi. Ia bisa mengetik 200 kata dalam waktu dua menit saja. Menurut saya itu cepat, menurut ukuran penulis amatiran macam saya. Tetapi, keadaan itu bisa jungkir balik. Bila mood sedang tidak baik atau ringsek. Jangankan 200 kata, 1 kata pun rasanya tidak bisa keluar. Seperti sebuah kemacetan yang tak membiarkan kendaraanmu melaju meski hanya sejengkal.

Namun, syukurlah. Saya punya beberapa upaya jitu untuk mengatasinya. Saya pernah membaca sebuah buku psikologi (yang sebenarnya lebih cocok disebut buku motivasi) yang mengatakan bahwa nuansa itu bisa merubah mood. Misalkan, jika sedang marah, cobalah untuk meneguk es jeruk. Atau kamu bisa menggosok gigimu kemudian berkumur. Dan coba rasakan lagi, apakah kemarahanmu masih ada?

Atas saran buku itu, saya mencoba mempraktekkannya dalam situasi saya. Situasi ketika saya tidak bisa menulis sama sekali. Ketika mood saya sedang tidak sehat, saya mencoba merubah nuansanya. Seperti menyeduh green tea latte dan meneguknya secara perlahan. Menikmati sensasi relax sejenak. Kemudian menulis lagi. Atau, saya juga pernah berkumur  dengan obat kumur rasa green tea. Dan benar, cara itu mujarab. Saya kembali bisa memerintahkan sepuluh jemari saya yang tidak lentik untuk mengetik lagi. Barangkali anda memiliki masalah yang sama dengan saya, tak ada salahnya untuk mencoba cara ini.

Oiya, green tea latte dan obat kumur rasa green tea itu bisa anda dapatkan di minimarket terdekat. Maaf, ini bukan promosi 🙂

Maraton Film

Waktu berlalu cukup lekas. Tak terasa, sebentar lagi bulan suci ramadhan akan segera tiba. Tak banyak hal yang berubah dari keadaan saya. Tetap dalam keadaan yang selalu dijaga untuk baik-baik saja. Namun, akhir-akhir ini, saya mencoba lebih menyibukkan diri untuk menyerap lebih banyak wawasan. Dari buku dan film. Urusan film, dalam minggu ini saya sudah melakukan maraton dari film-film karya Quentin Tarantino sampai Woody Allen. Harapannya, tentu agar saya bisa terhibur. Dan juga menyerap semua gagasan dari para maestro film.

Woody and Death.png
Dari film Love and Death karya Woody Allen

Dari film Quentin Tarantino, saya belajar, bahwa hidup memang tak melulu harus lurus dan sehat. Terkadang ia bisa bengkok dan berdarah-darah. Dan, dari situlah komedi hadir. Supaya hidup tak terlampau getir untuk dijalani. Sedangkan dari Woody Allen, saya belajar tentang bagaimana memperlakukan hidup. Siapapun yang sudah menonton film-film Woody Allen pasti paham. Woody memang dikenal sebagai sutradara. Tapi, sesungguhnya ia adalah seorang filsuf eksistensialis yang menyaru sebagai seorang sutradara.

Sudahkah kamu menonton film mereka?

Aku, Buku, dan Engkau

Aku, Buku, dan Engkau

—untuk hari buku sedunia

Adinda, malam terlampau lengang jika hanya ada aku dan engkau. Di antara bulan yang redup remang dan bintang yang tak hendak jadi terang. Bolehkah aku ajak sehimpun kawanku dari negeri yang tersimpan dalam lemariku yang usang?

Mereka adalah sejilid buku yang memuat aksara dan luka kita, Adinda.

Buku adalah sejarah kesedihanku dan kesedihanku. Kota-kota yang sudah lama punah dari percakapan kita. Cinta yang terlampau remuk untuk memanggul kesalahan-kesalahan manusia. Buku adalah belantara ihwal segala hal. Sederet kata yang mengkhianti lupa. Ingatan-ingatan usang yang tertanam dalam ladang kering kerontang.

Buku adalah penanda batas antara kebodohanku dan kepandaianmu. Buku adalah jurang curam yang senantiasa menjagamu agar tak terlampau pongah jika mencapai puncak. Buku adalah sederet hutangku pada setiap kealpaanku.

Buku adalah cawan madu yang senantiasa kucicipi kala akhir pekan Buku adalah pil mujarab yang bakal menyelamatkan kepalaku dari dunia yang kepalang biadab.

Buku adalah dengus napasku, yang tiada putus menyebut namamu, Adinda.

Sefi

Sefi adalah perempuan yang aduhai. Senyumya seperti mampu membekukan detak waktu.

Ia adalah perempuan dengan tubuh jangkung. Kakinya jenjang, lehernya jenjang. Matanya lebar dan jernih. Titik bulat hitam matanya begitu pekat dan nyalang. Kulitnya putih dan licin, mengingatkanku pada lantai marmer sebuah masjid agung di tengah kota. Dan, yang paling menarik dari semua itu adalah rambut dan kacamatanya. Ia punya rambut panjang dengan gaya ombre warna biru langit yang menggemaskan. Seperti salah seorang tokoh utama di film Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Kacamatanya yang berbentuk bulat, seperti yang biasanya dipakai oleh gadis-gadis korea selatan yang lucu itu.

Sefi menyukai filsafat. Ia suka Nietzche dan Foucault. Ia menyukai filsafat nihilis karena terkadang ia juga membenci hidup dan melihatnya sebagai sebuah nonsense. Ia menertawakan kekerdilan manusia di tengah banjir bah informasi. Ia mengamini Foucault, ketika Foucault mengatakan bahwa manusia tak lebih dari agen infomasi dalam sebuah rantai komando institusi yang tak nampak. Ia mengamini Nietzche, ketika Nietzche menantang derita hidup dengan kredo Amor Fati. Dan Sefi memanggil dua tokoh ini dengan panggilan yang lucu. Nica untuk Nietzche. Fuko untuk Faucoult.

Aku menyukai Sefi seperti aku menyukai segala hal. Aku menyukainya seperti aku membenci segala hal.

Namun, sayang, ia hanya tokoh fiksi yang kukarang belaka.

Sefi. Kamu cuma fiksi.

Bergunjing

Rasanya, tak ada orang yang tak pernah bergunjing. Setiap orang, disadari atau pun tidak, pasti pernah bergunjing. Entah menggunjingkan hal-hal baik atau keburukan orang lain. Menggunjingkan yang hal kedualah yang dilarang. Kita tak boleh membicarakan keburukan orang lain. Dalil-dalil agama sudah sering memperingatkan hal ini. Bahkan, agama menggambarkan ‘orang yang suka bergunjing ‘ seperti seekor gagak yang memakan bangkai sodaranya. Namun, sialnya saya sering lalai untuk  tak melanggar larangan ini. Saya sering bergunjing. Menggunjingkan hal apapun yang membuat saya resah.

Saya tidak bisa tidak untuk menggunjingkan bos atau rekan kerja saya di kantor dulu. Sebab, rasanya jika tak membicarakan mereka, saya seperti sebuah pipa yang mampet. Namun, pada beberapa waktu khusus saya berusaha menahannya. Dan tentunya, hobi bergunjing itu bukan tanpa sebab. Bos dan rekan kerja saya waktu itu memang kepalang menyebalkan. Lalu, saya pikir satu-satunya cara untuk menjaga diri tetap baik-baik saja adalah dengan cara menggunjingkannya.

Tapi, apakah mereka juga tak bergunjing? Jawabannya: mereka juga bergunjing. Setiap usai doa pagi, ketika saya sudah duduk di kursi kerja, mereka  masih asyik di dapur untuk mengobrol. Oh, tidak. Mereka tidak sekedar mengobrol. Mereka sedang bergunjing. Dari soal manager kredit mikro yang kemaruk soal amplop pelicin (padahal, kelakuan mereka soal amplop juga tak jauh berbeda) sampai gossip perselingkuhan para manager dengan pegawai-pegawai cantik di kantor cabang. Mereka bergunjing dengan begitu asyik. Sedangkan saya harus menahan kesal di depan sembari memasang wajah yang dibuat ‘sok asyik’ ketika menghadapi nasabah.

Saya jadi ingat salah satu satu scene film Annie Hall karya Woody Allen yang mashyur itu. Pada adegan film itu, Woody terlihat sedang sibuk mengantri di lobi bioskop. Di belakangnya, ada orang meyebalkan yang sok tahu dan nyerocos soal tokoh komunikasi terkenal bernama Marshall McLuchan. Woody tak tahan dengan bualan orang di belakangnya itu. Kemudian, Woody menarik orang tadi dan tiba-tiba mempertemukannya dengan Marshall McLuchan yang keluar dari balik pot. Saya terbahak ketika menonton adegan ini. Saya bayangkan, bilamana ketika orang sedang menggunjingkan orang lain, tiba-tiba orang yang digunjingkan itu langsung ada di hadapannya. Sepertinya menyenangkan. Berbicara di depan muka orang memang lebih terhormat ketimbang mengobrol dengan pantatnya. Tapi, mengobrol dengan pantat orang yang menyebalkan jauh lebih lucu ketimbang mengobrol di depan mukannya yang memaksamu untuk memaki.

Kerja Keras

Kerja Keras

 

Di ujung titian waktu,

Apakah yang lebih berharga ketimbang nasib baik, tuan?

Ketika kesedihanmu mulai tanak

Ketika harapanmu mulai melunak

Dan keringatmu telah jadi jinak

Apakah yang lebih karib dari nasib baik, tuan?

Manusia hanya bisa menunggu, sampai ajal dipetik

dari kebun sang khalik.

 

2017

Halusinasi

Halusinasi

 

Angin menyembunyikan risik suaramu

di antara gerumbul kemuning di selasar rumahku.

Tapi, kutahu, ia hanya sebatas uap perasaanku

Apakah rindu senantiasa menciptakan halusinasi, sayangku?

 

2017

Hutang

Kusnadi datang dengan tiba-tiba di hadapanku. Tanpa mengucapkan sepatah kata salam, Kusnadi lansung mengoceh seenaknya sendiri di depan mukaku. Beberapa tempias ludahnya melayang di udara. Beberapa mencemari baju yang kukenakan.

“Dasar pemerintah kafir! Negara ini telah dipimpin oleh pemimpin fasik yang sangat membenci islam. Ada banyak nilai-nilai islam yang telah diabaikan oleh rezim ini.”

Ia terus mengoceh dan aku tetap berusaha merasa baik-baik saja. Sekilas, penampilannya memang cukup mencolok.  Penampilan Kusnadi tidak seperti orang kebanyakan. Orang lain akan mudah mengira bahwa Kusnadi adalah orang alim dan ia memang orang alim. Kusnadi sering menghabiskan waktunya di mushola kecil yang ada di kampungku dan sesekali mengobrol dengan siapa saja. Ia memakai kopiah warna putih abu. Dengan baju koko warna hitam mengkilap. Ia juga memakai celana cingkrang di atas mata kaki. Dan satu tanda yang paling mencolok adalah tanda hitam lebam yang terpahat di dahinya.

“Aku baru saja membaca berita di Koran, bahwa Presiden pilihanmu baru saja menanda tangani surat perjanjian hutang luar negeri. Presiden pilihanmu itu tukang berhutang dan hanya bisa menjual asset negara ini.”

Aku diam saja dan berusaha merasa baik-baik saja.

“Presidenmu itu…”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, aku buru-buru memangkasnya,

“Kus, apakah uangnya sudah ada? Dua minggu yang lalu kau meminjam uang satu juta lima ratus dariku. Kau bilang untuk modal membeli kambing. Apakah maksudmu datang kemari untuk melunasi hutang itu?”

“Eh… Hehehe. Nganu.”

Aku masih diam dan mulai merasa tidak baik-baik saja.