Surat Terbuka Untuk Kang Gilang Kazuya Shimura

17203217_10212576663834218_761379897379387028_n-730x355Apa kabar Kang Gilang?

Semoga rahmatNya senantiasa menyertai hidup Kang Gilang.

Maaf telah lancang memanggil Anda dengan sapaan ‘Kang’. Karena, saya pikir itu adalah yang paling cocok untuk membangun keakraban. Lagi pula, ternyata saya dan Kang Gilang punya mutual friend—yang sebagian besar adalah kawan saya dari Bandung. Konon, menurut sumber info akun facebook, Kang Gilang ini adalah orang Sukabumi, jadi tentu tak ada salahnya saya menggunakan sapaan khas sunda itu.

Jadi begini, langsung saja saya utarakan maksud saya. Linimasa saya penuh dengan status yang mengolok-olok nama Kang Gilang. Ada yang menyebut Kang Gilang sebagai Akhi Cupet. Ada yang memasukkan Kang Gilang ke dalam varietas timun bongkok. Dan ada yang paling lugas menyebut Kang Gilang: tolol!

Pangkal masalahnya adalah status Kang Gilang ini—yang saya tahu merupakan tanggapan dari tulisan Mbak Kalis di situs Mojok.co :

kykny si tante Kalis yg katanya sekolah tinggi itu maen nya kurang jauh ya? rata2 ukhti2 yg gw kenal itu gelar nya S3 dan kebanyakan jd ibu rumah tangga. mereka sadar betul bahwa jadi ibu rumah tangga butuh pendidikan setinggi tinggi nya.

Sori tante, kita yg cowok juga mikir2 kali ngelirik cewek macem tante yg belum apa-apa udah sombong kyk gt. emang ada cowok yg tahan sm cewek arogan yg ngerasa bisa segala nya?

tante udah nikah belum? kalau udah, semoga suami nya sabar ya ngadepin tante. kalau belum, mending buruan minta maaf deh ke akhi2 yg tante ejek, sebelum jadi perawan tua beneran yang ujung-ujung nya mohon2 jadi istri ke 4 ke akhi2 raja minyak di arab

Tidak. Saya tidak akan tersulut amarah seperti yang lain dan mengolok-olok Kang Gilang. Sebab, saya tahu diri. Apalah saya ini dibandingkan dengan Kang Gilang yang bisa kuliah di Kampus Dresden. Kampus mentereng di Jerman sana. Lagipula, saya lelah membangun dialog yang penuh olok-olok, sebab seringkali itu justru nir-faedah. Saya ingin mengajak Kang Gilang memahami benang masalahnya terlebih dahulu.

Tulisan yang ditulis mbak Kalis itu adalah tanggapan untuk salah seorang akhi yang sembrono membuat meme tentang perempuan berpendidikan tinggi yang bikin laki-laki lari lintang-pukang. Sudah tentu jelas dalam tulisan itu Mbak Kalis mencoba meluruskan—melawan—anggapan terbelakang yang (masih) mengira bahwa perempuan itu melulu harus diam di rumah ngemong anak dan masak di dapur. Mbak Kalis hanya ingin menunjukkan bahwa perempuan itu juga manusia. Bisa memilih menjadi apapun dan bisa melakukan apa saja. Mbak Kalis, saya kira sedang bicara soal keadilan posisi antara perempuan dan lelaki.

Jelas, sejelasnya ada dalam tulisan itu. Tak ada maksud untuk jadi arogan dan memusuhi lelaki atau menjajah lelaki. Apalagi menjadi sombong. Saya pernah bertemu dengan Mbak Kalis sekali, dan dari penampilannya, ia nampak begitu sederhana. Jauh sekali dari kesan seram.

Maksud Mbak Kalis sungguh sederhana. Ia berharap agar perempuan dan lelaki bisa berjalan beriringan membangun mimpi masa depan tanpa perlu menempatkan yang lainnya ke dalam posisi yang lebih rendah.

Tapi, sayangnya Kang Gilang sudah kelewat emosi dan menyerang Mbak Kalis dengan kasar. Bahkan sampai menempelkan sebutan ‘tante’ dan ‘perawan tua’ untuk mendiskreditkannya. Lalu, Kang Gilang mengatakan bahwa kebanyakan ukhti yang Kang Gilang kenal, banyak yang sekolah tinggi tapi malah memilih jadi ibu rumah tangga.

Wajar jika banyak yang marah karena sesat pikir Kang Gilang itu. Tanpa sadar, Kang Gilang telah ikut menyetujui bahwa perempuan adalah makhluk kelas dua. Makhluk yang wajib patuh kepada suami dan tak punya pilihan profesi lain kecuali menjadi Ibu Rumah Tangga.

Saya kira, bila Kang Gilang benar mengamini ini, maka Kang Gilang tak layak menyebut diri sebagai Akhi. Sungguh tak layak.

Karena, akhi yang matang ilmunya takkan pernah berujar seperti itu. Kang Gilang pernah mendengar nama Ust. Salim A. Fillah? Jika mendengarnya saja belum pernah, Kang Gilang sebaiknya jangan mengaku-aku sebagai Akhi.

Ust. Salim A. Fillah adalah salah satu rujukan paling populer bagi para aktivis dakwah. Dia dikenal karena lihai menyampaikan dakwahnya dalam balutan tulisan nan sastrawi. Mereka, akrab memanggilnya akhi Fillah.

Dalam bukunya yang berjudul Agar Bidadari Cemburu Padamu halaman 21, Akhi Fillah menulis seperti ini:

“…maka tidak ada larangan bagi wanita untuk menguasainya, seperti wilayah fatwa dan ijtihad, pendidikan dan pengajaran, ilmu hadits, administrasi dan lain sebagainya. Maka oleh itulah, Umar mengangkat Asy Syifa’ binti Abdullah Al Adawiyah sebagai pemimpin Jawatan Pengawas Pasar di masanya.”

Sehingga jelas, yang ditulis oleh mbak Kalis sama sekali bukan sesuatu yang arogan. Karena, dalam khazanah pemikiran kaum pergerakan aktivis dakwah pun, perempuan punya ruang bergerak yang sama. Bebas menjadi apa saja.

Bila Kang Gilang tetap merasa sebagai seorang akhi, sudah seharusnya menyetujui tulisan Mbak Kalis dan Akhi Fillah. Karena pendapat bahwa wanita melulu di bawah ketiak lelaki hanya milik kaum degil macam Taliban dan ISIS. Sekelompok orang jahat yang sering mengaku-ngaku sebagai islam.

Jadi, sekali lagi saya meminta maaf kepada Kang Gilang, apabila surat terbuka ini lancang. Saya hanya gemas karena status Kang Gilang itu. Saya berharap Kang Gilang yang kini sudah terkenal di jagad facebook tidak mengikuti jejak seleb facebook lain seperti Tuan Jonru yang gemar menebar kebencian dan status-status sesat pikir.

Tapi, tenang saja, saya takkan sampai hati menyebut Kang Gilang sebagai orang tolol, akhi cupet atau timun bongkok.

Namun, jika Kang Gilang masih tetap jumawa dengan pendapat ‘perempuan yang sekolah tinggi itu ngeri’, maaf saya tak bisa tahan untuk tidak memasukkan Anda ke dalam golongan Amorphophallus titanum.

 

 

Ya, itu adalah nama ilmiah dari bunga bangkai.

Advertisements

17 Replies to “Surat Terbuka Untuk Kang Gilang Kazuya Shimura”

  1. Hebat sekali yang beranggapan perempuan tempatnya cuma di dapur ketika Rasulullah menikahi seorang janda dan saudagar kaya yakni Khadijah, lalu memiliki dua istri terpelajar yakni Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshan binti Umar yang mampu baca tulis (sementara beliau sendiri buta huruf sepanjang hidupnya), mafhum dengan syair2, dan hafal genealogi Arab yang kesemuanya sulit untuk dipelajari.

    Tapi saya tidak heran sih. Sebelumnya Gilang juga melakukan pembelaan yang ujung2nya malah mencoreng agamanya sendiri dengan mengatakan Islam sebagai satu2nya agama yang diwahyukan Allah. Padahal tengok lah sedikit saja ke dalam Al-Quran, banyak serangkaian ayat yang mengakui keimanan Ahli Kitab.

    Like

  2. Ga usah di anggep omongan Gilang sih, kayanya cuman mau ngetop. Hari gini kan lebih gampang ngetop jadi orang tolol daripada beneran pinter 😄.

    Like

  3. Tulisan yang mencerahkan juga. Semua berpulang pada pilihan masing-masing. Sekolah jauh-jauh ke luar negeri belum tentu membuka wawasan. Banyak yg pikirannya cupet dan merasa dirinya keren. Sepertinya Gilang itu orang yang pengen ngetop, ditambah dengan era medsos sekarang ini. Pengen ngetop tapi caranya salah.

    Like

  4. Naiss kak, heran aja sih, orang yang harusnya berpendidikan tinggi, berwawasan luas, cara ngomongnya kaya orang yang nggak pernah makan bangku sekolahan. Emang bener ya, sekarang banyak banget orang yg pinter yg cerdas, tapi kalo nggk dibarengi sama moral atau akhlakul karimah yg baik semua itu akan sia-sia. Malu atuh kang sama jidat yg item kalo omonganya masih kaya gitu terus nggak diperbaiki.

    Like

  5. “rata2 ukhti2 yg gw kenal itu gelar nya S3 dan kebanyakan jd ibu rumah tangga. mereka sadar betul bahwa jadi ibu rumah tangga butuh pendidikan setinggi tinggi nya.”

    “Wajar jika banyak yang marah karena sesat pikir Kang Gilang itu. Tanpa sadar, Kang Gilang telah ikut menyetujui bahwa perempuan adalah makhluk kelas dua. Makhluk yang wajib patuh kepada suami dan tak punya pilihan profesi lain kecuali menjadi Ibu Rumah Tangga.”

    Coba disebutkan mbak, kalimat mana yg menunjukkan kalau Gilang ini setuju dgn wanita tida boleh punya profesi lain kecuali menjadi Ibu rumah tangga.

    Like

  6. Sekolah jauh tak membuatnya mempunyai wawasan yg “jauh” lebih luas memaknai ciptaan Tuhan, perempuan diciptakan untuk mendampingi laki-laki.
    Btw laki-laki itu yang dipegang lisannya dlm berujar.. jadi hati-hatilah dlm berujar .. apa yg keluar dari mulut berasal dari hati… bila perkataanmu tidak baik artinya hatimu tidak baik jugaaa 😑

    Like

  7. Jadi yang sombong sebenarnya siap ya? Tulisan yang bagus dan semoga kang gilang ga sombong lagi dengan ilmu dan.jenis kelaminnya. Atau mungkin dia sombong untuk menutupi ketidakmampuannya sekolah lebih tinggi?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s