Jakarta Itu Keras

Jakarta itu keras. Tentu saja klaim itu tak serta merta saya bikin hanya karena melihat citra metropolis itu dari televisi. Klaim itu murni dari pemandangan saya setelah beberapa kali berplesir (berplesir ke Jakarta? Aneh!) ke kota ini.

Setiap kali datang ke Jakarta, saya pasti mendapati orang yang marah-marah. Baru menginjakkan kaki di lantai stasiun, saya melihat seseorang berbaju safari sedang membentak para pengguna mobil di parkiran.

“Cepat woy, maju terus jangan berhenti. Kalau berhenti, saya kempesin bannya!”

Mobil-mobil berbaris dengan tertib. Suara klakson menciptakan hiruk pikuk.

Setelah berhasil keluar dari stasiun, saya menaiki bus Transjakarta. Suasana lambung bus nampak sepi. Hanya ada beberapa penumpang. Setelah melewati beberapa koridor busway, penumpang mulai penuh. Ada aturan bahwa bagian depan hanya untuk perempuan, sedangkan bagian belakang untuk laki-laki.

Tapi, tetap saja ada seorang lelaki yang berdesakan di bagian depan. Sontak, sang kondektur berteriak.

“Cowok di belakang. Cewek di depan. Cowok yang ada di depan itu banci ya woy!”

Lelaki tadi langsung mundur merangsek ke belakang setelah mendengar sindiran (atau bentakan) itu.

Turun dari bus, saya langsung menuju tempat tujuan saya. Sebuah festival sastra yang sedang berlangsung di area kota tua.

Lagi dan lagi, saya mendengar orang marah-marah ketika saya bertanya kepada salah seorang di tempat itu.

“Maaf mbak, lantai dua acara diskusinya Pak Haidar Bagir dimana ya?”

“Nggak tahu mas, tanya aja sama panitianya. Para panitianya nggak mau ngurusin!”

Perempuan yang saya tanya tadi menjawabnya dengan nada marah yang seram.

Tontonan itu, semakin menebalkan keyakinan saya bahwa Jakarta itu keras. Orang-orang Jakarta telah kehilangan diksi yang lembut. Kehidupan metropolis yang barbar seringkali membikin orang-orang itu terkena senewen.

Di Jakarta, keramahan adalah sebuah kemewahan.

Barangkali itu sebabnya saya selalu berdoa seperti ini:

“Tuhan, jika rezeki ada di Jakarta, ku mohon jangan pernah mengangkat keramahan dari hatiku.”

Advertisements

3 Replies to “Jakarta Itu Keras”

  1. Welcome to jakarta lah mas :p. Dulu aku ga prnh mimpi bakal kerja di sini. Amit2 mikirnya, capek di jalan.. Tp rezekiku ama jodoh di sini, trs mau bilang apa :D. Nikmatin aja.. Kalo macet ya berarti hrs bawa buku utk bisa ngabisin waktu di jalan. Kita marah2 juga g ada gunanya toh 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s