Resah

Keresahan. Hidup tanpa keresahan adalah hidup yang berhenti. Hidup yang seperti mobil rombeng yang sudah dilabur karat.

Saya tak mau jadi mobil rombeng. Karena pasti saya ditinggalkan dan dibiarkan bobrok begitu saja. Saya tak mau berhenti. Tapi, di waktu lain, saya memang mengharapkan hidup tanpa keresahan. Hidup yang selalu menawarkan jalan aspal yang halus tanpa terjal.

Tapi mustahil.

Lalu, sebaiknya bagaimana saya harus memperlakukan keresahan?

Advertisements

Gita Savitri dan Kemerdekaan Kita

Kim-Ji-Won2
mirip gak?

Cantik, pintar, dan solehah. Barangkali tiga kata itu bisa meringkas semua persona yang ada pada Gita Savitri. Ia adalah seorang mahasiswi asal Indonesia yang kini menuntut ilmu di Freie Universität Berlin, Jerman. Gita mengambil jurusan kimia murni dan sekarang ia meneruskan jenjang S2-nya.

Gita Savitri dikenal karena aktif membuat berbagai macam konten dari tulisan sampai vlog. Hampir semua platform sosial medianya, punya ratusan ribu pengikut setia. Para pengikutnya begitu aktif memberikan tanda like atau sekadar cuap-cuap pujian. Maklum, kecantikan Gita Savitri memang sulit sekali disangkal. Ia bahkan sering dianggap kembaran identik dari Kim Ji Won pemain drama korea Descendant of the Sun.

Namun, Gita Savitri lebih sohor dikenal sebagai selebgram dan youtuber dengan ratusan ribu pengikut. Bisa dibilang ia merupakan salah satu orang paling berpengaruh di jagad Instagram regional Indonesia. Bahkan, ia juga pernah menjadi salah satu Youtuber profesional yang diundang ke kantor Youtube di eropa. Gita Savitri, kini mendapat manajer khusus untuk akun Youtube. Konten vlog yang akan ia sebarkan, akan dikurasi terlebih dahulu oleh manajer itu. Jadi, silahkan tebak sendiri pendapatan Gita Savitri sebagai seorang Youtuber.

Ia juga rutin mengunggah foto-foto dirinya yang rupawan gilang gemilang di Instagram. Dalam balutan busana muslimah casual atau istilah milenial, ootd—Outfit of The Day,. Jangan tanya pula berapa tarif jasa endorse Gita Savitri untuk sekali posting. Tentu harganya mungkin tak setara dengan gaji budak korporat yang gurem itu—mungkin saya dan anda termasuk.

Dan hampir pasti, pasti banyak sekali orang yang bersedia menengok semua postingannya. Walaupun itu diambil ketika Gita Savitri sedang melahap nasi padang. Sebab, sulit untuk tak tergoda mengintip akun Instagramnya. Apapun pose dan momennya, Gita tetap cantik absolut!

Gita Savitri juga merupakan ikon generasi milineal yang (katanya) sangat inspiratif. Hal itu terbukti dari konten-konten edukatif yang sering ia bagikan. Kontennya, selalu membahas tips dan tutorial tentang kesehariannya selama berkuliah di jerman. Mirip-mirip seperti isi buku self-help.

Gita adalah perempuan luar biasa dengan paket komplit. Cantik dan cerdas.

Lalu, apakah anda masih ragu dengan persona yang saya jelaskan itu? Apakah anda masih ragu bahwa Gita Savitri itu tak hanya cantik, tapi juga cerdas?

Anda barangkali perlu menyimak tulisan Gita Savitri yang berjudul Generasi Tutorial. Berikut ini akan saya sajikan ulasannya dan mari kita kupas secara menyuluruh.

Banyak Tanya dan Orang Indonesia yang Malas

Dalam pembuka tulisan berjudul Generasi Tutorial, Gita langsung menyuguhi kita dengan pertanyaan-pertanyaan ini:

“Kak, gimana sih caranya biar bisa kritis kayak Kak Gita?”

“Kak, gimana caranya Kak Gita bisa banyak tau tentang macem-macem?”

“Kak, biasanya kak Gita baca berita dimana?”

“Kak, gimana sih cara Kak Gita baca berita gitu? Liat dimana? Kak Gita kan sibuk kuliah.”

Dari pertanyaan-pertanyaan itu, Gita Savitri langsung bisa dengan mudah menghakimi bahwa orang Indonesia itu, apalagi generasi sekarang, adalah orang yang banyak tanya tapi malas mencari. Dalam benak Gita, orang Indonesia serupa para bayi yang hanya makan jika disuapi.

“Kalo lo tanya ke gue kenapa Indonesia, walaupun udah berkali-kali upacara 17 agustusan, sampe sekarang tetep nggak maju-maju, jawabannya adalah karena orang Indonesia itu pemalas dan nggak ada inisiatif. Semua-muanya harus dikasih tau, harus dicekokin, harus disuapin.”

Anggapan jamak seperti itu sepertinya sesuatu yang wajar saja. Toh, untuk urusan buang sampah sembarangan saja, kita juga sering menyebut itu sebagai budaya orang Indonesia. Jadi, Gita dan kita tak jauh berbeda.

Namun, yang agak menganggu di sini adalah sikap jumawa Gita Savitri yang mengesankan bahwa dia paling tahu segalanya dan dia sangat pantas bersikap sinis seperti itu.

Padahal, berdasarkan pertanyaan-pertanyaan itu kita bisa membuat dua asumsi. Pertama, pertanyaan-pernyataan itu sangat mungkin hanya keluar dari para pengikut setia Gita Savitri—para dedek emesh itu—yang memang kebanyakan adalah bocah lugu yang rewel. Kedua, mungkin juga Gita Savitri memang punya kualitas pengetahuan yang sangat luas serupa laut. Gita, di mata para bocah itu, adalah Google dalam bentuk perempuan cantik.

Saya tak meragukannya. Gita kuliah di Jerman dan itu sudah menjadi bukti. Ada banyak raksasa pemikiran yang tumbuh dan berkembang di di negeri adiluhung itu. Karl Marx, Nietzche dan bahkan yang paling kontemporer: Jurgen Habermas. Mereka pernah tinggal di Jerman. Sehingga kita mafhum dengan sikap kritis Gita Savitri yang sedikit pongah itu. Ia pasti sudah khatam membaca kitab German Ideology atau Also Sprach Zarathrusta.

Tapi, kak Gita, sepertinya kak Gita belum pernah mendengar nama sastrawan Indonesia ini: Eka Kurniawan. Ia adalah sastrawan hebat yang pernah masuk dalam bursa calon pemenang penghargaan buku bergengsi dunia Man Booker Prize. Novel Lelaki Harimau dan Cantik Itu Luka, adalah dua karyanya yang sering diresensi di banyak media internasional, misal seperti New York Times dan media dunia lainnya. Dan Eka Kurniawan adalah orang Indonesia dan kuliah di kampus lokal.

Dan saya yakin, Eka tak mau buang waktu untuk membuat tulisan kritik tentang kemalasan orang-orang Indonesia. Semua itu sudah klise. Eka sering menulis tulisan satir, tapi itu ia sampaikan dengan nada oto-kritik, bukan dalam benak seorang megalomania serba tahu segala hal.

72 tahun Indonesia merdeka. 72 tahun bangsa ini selalu dianggap kerdil dalam segala hal. Tapi, sudahlah, jangan terlalu lama seperti itu. Kini waktu yang tepat guna menguatkan pijakan.

Kita memang sudah lazim dikenal sebagai bangsa yang gemar kelahi, mudah diprovokasi dan fanatik tapi daya kritisnya tumpul. Namun sampai kapan kita merawat anggapan itu dengan siraman sinisme? Bakar saja semua emblem stereotipe tentang budaya medioker orang Indonesia.

Buang jauh-jauh sinisme tentang orang-orang Indonesia itu. Budaya malas baca dan buang sampah sembarangan sudah usang. Sinisme takkan membuat bangsa ini besar, tapi tetap akan membuatnya awet menjadi tanaman bonsai.

Jadi, kak Gita Savitri yang kecantikannya paripurna, percayalah bahwa orang Indonesia (sudah) bukan pemalas! Please, saya tak mau kak Gita Savitri jadi orang sombong seperti mahasiswa Indonesia yang juga kuliah di jerman itu.

*) tulisan ini juga telah diterbitkan di Semay Media, sebuah portal yang hadir dalam bentuk aplikasi. Silahkan download secara gratis di googleplay

Konsumerisme dan Daya Beli

Dulu, waktu masih menjadi budak korporat industri perbankan, saya sering sekali dicap sebagai orang pelit. Orang kantor menganggap saya orang pelit yang terlalu hemat. Tiap kali tanggal gajian, saya selalu disindir dan dimintai traktiran. Padahal, di waktu lain, tak jarang juga saya mentraktir mereka. Namun saya tahu kalau itu tidak masuk dalam hitungan mereka.

Sesungguhnya, musabab cap ‘orang pelit’ itu muncul setelah saya bicara blak-blakan soal pengeluaran saya tiap bulan. Mereka kaget dan geleng kepala. Karena pengeluaran saya per bulan hanya mencapai 500 ribu saja. Tentu itu sangat tak masuk akal bagi skema nalar homo economicus mereka. Kebanyakan dari mereka memang sering menghabiskan paling sedikit 1,5 juta tiap bulannya. Dan angka itu masih bisa bertambah lagi bila ada pengeluaran tak terduga. Beberapa dari mereka juga punya status seperti saya: lajang dan belum punya tanggungan.

Jadi sebenarnya, bukan saya yang terlalu hemat, namun merekalah yang terlalu boros. Lagipula, pengeluaran itu bagi saya masih dalam ambang batas wajar. Saya tak punya pengeluaran khusus untuk rokok. Sedangkan sebagian besar dari mereka adalah perokok rokok putihan yang harganya jauh lebih mahal. Lalu, untuk jajan, saya sendiri jarang jajan. Paling banter, hanya sesekali membeli susu kotak di minimarket. Sedangkan mereka terlalu sering menghamburkan uang untuk jajan atau main ke rumah karaoke bila penat menghujam.

Maka mereka adalah orang-orang yang tanpa sadar telah menjalankan traktat: kosumerisme sebagai panglima!

Setelah resign dari pekerjaan itu, tentu saja pengeluaran saya harus disesuaikan. Karena jadwal gajian dan nominal pendapatan tak pasti seperti dulu. Tapi, saya tetap merasa semuanya berjalan baik-baik saja dan tak berpikir sedang berada dalam krisis yang gawat.

Setelah resign, pengeluaran saya tiap bulan rata-rata adalah 450 ribu. Itu artinya, setiap hari maksimal bisa mengeluarkan uang sebesar 15 ribu. Sebagian besar pengeluaran itu sekarang justru untuk jajan. Jajan cilok, seblak, susu, es krim alice, gorengan, sarapan bubur, kupat tahu. Alhamdulillah, saya tinggal di kampung dengan harga makanan yang masih murah meriah.

Saya tertawa ketika membaca data yang disiarkan oleh katadata tentang turunnya omset restoran cepat saji dan usaha ritel. Konon, turunnya omset itu menjadi indikasi bahwa daya beli masyarakat menurun. Lucu. Pada satu sisi saya percaya dengan kemungkinan ini.

Tapi poin pertanyaannya adalah:

Apakah daya beli masyarakat memang menurun karena ini?

Atau apakah itu artinya masyarakat kelas menengah kini mulai meninggalkan budaya konsumerismenya, sehingga berpindah dari restoran cepat saji ke warteg?

Daya beli yang menurun atau konsumerisme yang menurun?

Najwa Shihab dan Hal-hal yang Tak Selesai

 

Najwa Shihab adalah mata pisau yang siap melucuti kenaifan siapa pun yang ada di hadapannya.

Itulah kesan pertama yang saya tangkap ketika menonton acara Talkshow Mata Najwa yang disiarkan Metro TV. Setiap episode acara ini selalu meninggalkan kesan mendalam untuk saya.

Mata Najwa selalu bisa menghadirkan narasumber dengan segudang informasi menarik. Dari tokoh-tokoh besar seperti mantan Presiden BJ. Habibie atau mantan Wakil Presiden Boediono, hingga orang-orang biasa yang luar biasa seperti para keluarga korban pelanggaran HAM.

Saya suka sekali gaya Najwa Shihab ketika ia berhadapan dengan para narasumbernya. Tatapan tajam dan pose jari telunjuk dan jempol dibuka kemudian ditempelkan ke sisi sudut bibirnya, selalu jadi kesan yang saya ingat. Persona yang ia bangun menunjukkan bahwa ia adalah orang yang teliti dan serius.

akurat_20170808092504_5L6Zcd
Pose khas Najwa Shihab. Tangan dan picingan mata.

Dan benar, Najwa Shihab selalu bisa mencecar para narasumbernya dengan pertanyaan-pertanyaan tajam. Najwa, tak menyediakan celah untuk berkelit. Hal itu jelas terbukti dari beberapa episode Mata Najwa yang pernah saya tonton.

Saya ingat betul bagaimana ketika dalam acara Mata Najwa edisi sarasehan kampus, Najwa bisa menjebak Sudjiwo Tedjo dengan pertanyaannya. Ketika itu, Sudjiwo Tedjo begitu enggan menyebut calon Presiden pilihannya di pilpres 2014—ketika Jokowi dan Prabowo bersaing sengit.

Lantas, Najwa berusaha menggiring si Dalang Nyentrik ke dalam pertanyaan jebakan. Kira-kira obrolan itu mengalir seperti ini:

“Jadi, menurut Mbah Tedjo Presiden ideal untuk Indonesia itu seperti apa?”

“Menurutku, Presiden yang ideal itu seperti seorang Rahwana yang mencintai Dewi Sinta. Karena cintanya yang begitu besar kepada Sinta, ia melampiaskannya untuk memakmurkan rakyatnya.”

“Oh, jadi Presiden yang ideal itu harus punya istri?”

Sontak tawa pun menggelegar. Najwa memang serupa busur panah yang selalu mampu membidik titik sasarannya dengan tepat.

Tapi, di waktu lain Najwa Shihab adalah sebuah trademark. Ia adalah gambaran purna seorang perempuan cerdas. Sering terlontar ujaran, “perempuan cerdas itu Najwa Shihab”

Maka tak jarang banyak pria dengan fantasi liar yang membayangkan bisa memperistri Najwa Shihab. Namun, mereka juga kadang merasa takut dan was-was. Karena pasti para pria itu musykil berani melakukan tindakan serong. Siapa yang bisa lari dari pertanyaan investigatif Najwa Shihab?

Bahkan mantan aktivis 98—yang juga mantan ketua PRD—Budiman Sudjatmiko pernah dibikin gelagapan oleh Najwa Shihab. Ketika dicecar dengan pertanyaan seputar kasus korupsi E-KTP, Budiman nampak canggung dan seringkali menjawab pertanyaan Najwa dengan retorika berbelit-belit. Sekali lagi, Najwa telak melucuti para narasumbernya.

Maka jelas saya bakal bersedih ketika membaca pernyataan Najwa Shihab di akun Instagram pribadinya bahwa ia resign dari acara itu dan kantor Metro TV. Mata Najwa tanpa Najwa Shihab tentu saja sebuah lelucon.

Sementara itu, banyak spekulasi yang beredar tentang alasan kenapa Najwa Shihab hengkang dari Metro TV— stasiun TV berita yang telah membesarkan namanya itu. Salah satu yang paling ngawur datang dari Jonru. Jonru membuat spekulasi bahwa Najwa Shihab keluar karena Metro TV adalah stasiun tv penipu yang kotor. Sehingga itu sangat bertolak belakang dengan nurani Najwa yang suci. Jonru meyakinkan spekulasinya itu setelah Novel Baswedan diundang menjadi narasumber. (dan sepertinya Jonru lupa kalau Najwa Shihab adalah putri Quraish Shihab yang ia benci itu)

Tapi kita tahu, Jonru itu adalah manusia megalomaniak yang sedang mengidap delusi. Sehingga, kita tak perlu terlalu serius menyimaknya.

Apapun alasan Najwa berhenti, bagi saya keputusan itu adalah sebuah kesedihan. Tapi saya tetap menghargainya.

Karena menurut saya, masih banyak tokoh yang perlu dilucuti oleh selusin pertanyaan tajam dari Najwa. Tommy Soeharto, misalnya. Adalah salah satu tokoh politik yang dilingkupi kabut misteri.

Hingga hari ini, saya masih penasaran tentang seberapa kaya orang itu? Sampai-sampai ia pernah disebut mampu mendalangi aksi makar dan ikut menyumbang untuk beberapa proyek besar. Saya penasaran, seberapa besar kartel bisnis yang ia jalankan?

Dan saya kira, hanya Najwa Shihab yang bisa dan mampu menyibak misteri itu dengan pertanyaan dan tatapannya.

Najwa Shihab belum usai. Masih banyak kerja-kerja melawan lupa yang masih terbengkalai di luar sana. Seonggok perkara yang mesti ia kupas secara tuntas. Benar kata Sudjiwo Tedjo, Indonesia tanpa Mata Najwa seperti orang yang kehilangan pandangannya.

Tapi, tentu saya akan tetap menghormati keputusan Najwa Shihab itu dengan riang gembira.

Oiya, omong-omong Mbak Najwa keluar dari Metro TV bukan karena ingin gabung dengan partai kumpulan orang-orang cantik itu kan?

Surat Terbuka Untuk Kang Gilang Kazuya Shimura

17203217_10212576663834218_761379897379387028_n-730x355Apa kabar Kang Gilang?

Semoga rahmatNya senantiasa menyertai hidup Kang Gilang.

Maaf telah lancang memanggil Anda dengan sapaan ‘Kang’. Karena, saya pikir itu adalah yang paling cocok untuk membangun keakraban. Lagi pula, ternyata saya dan Kang Gilang punya mutual friend—yang sebagian besar adalah kawan saya dari Bandung. Konon, menurut sumber info akun facebook, Kang Gilang ini adalah orang Sukabumi, jadi tentu tak ada salahnya saya menggunakan sapaan khas sunda itu.

Jadi begini, langsung saja saya utarakan maksud saya. Linimasa saya penuh dengan status yang mengolok-olok nama Kang Gilang. Ada yang menyebut Kang Gilang sebagai Akhi Cupet. Ada yang memasukkan Kang Gilang ke dalam varietas timun bongkok. Dan ada yang paling lugas menyebut Kang Gilang: tolol!

Pangkal masalahnya adalah status Kang Gilang ini—yang saya tahu merupakan tanggapan dari tulisan Mbak Kalis di situs Mojok.co :

kykny si tante Kalis yg katanya sekolah tinggi itu maen nya kurang jauh ya? rata2 ukhti2 yg gw kenal itu gelar nya S3 dan kebanyakan jd ibu rumah tangga. mereka sadar betul bahwa jadi ibu rumah tangga butuh pendidikan setinggi tinggi nya.

Sori tante, kita yg cowok juga mikir2 kali ngelirik cewek macem tante yg belum apa-apa udah sombong kyk gt. emang ada cowok yg tahan sm cewek arogan yg ngerasa bisa segala nya?

tante udah nikah belum? kalau udah, semoga suami nya sabar ya ngadepin tante. kalau belum, mending buruan minta maaf deh ke akhi2 yg tante ejek, sebelum jadi perawan tua beneran yang ujung-ujung nya mohon2 jadi istri ke 4 ke akhi2 raja minyak di arab

Tidak. Saya tidak akan tersulut amarah seperti yang lain dan mengolok-olok Kang Gilang. Sebab, saya tahu diri. Apalah saya ini dibandingkan dengan Kang Gilang yang bisa kuliah di Kampus Dresden. Kampus mentereng di Jerman sana. Lagipula, saya lelah membangun dialog yang penuh olok-olok, sebab seringkali itu justru nir-faedah. Saya ingin mengajak Kang Gilang memahami benang masalahnya terlebih dahulu.

Tulisan yang ditulis mbak Kalis itu adalah tanggapan untuk salah seorang akhi yang sembrono membuat meme tentang perempuan berpendidikan tinggi yang bikin laki-laki lari lintang-pukang. Sudah tentu jelas dalam tulisan itu Mbak Kalis mencoba meluruskan—melawan—anggapan terbelakang yang (masih) mengira bahwa perempuan itu melulu harus diam di rumah ngemong anak dan masak di dapur. Mbak Kalis hanya ingin menunjukkan bahwa perempuan itu juga manusia. Bisa memilih menjadi apapun dan bisa melakukan apa saja. Mbak Kalis, saya kira sedang bicara soal keadilan posisi antara perempuan dan lelaki.

Jelas, sejelasnya ada dalam tulisan itu. Tak ada maksud untuk jadi arogan dan memusuhi lelaki atau menjajah lelaki. Apalagi menjadi sombong. Saya pernah bertemu dengan Mbak Kalis sekali, dan dari penampilannya, ia nampak begitu sederhana. Jauh sekali dari kesan seram.

Maksud Mbak Kalis sungguh sederhana. Ia berharap agar perempuan dan lelaki bisa berjalan beriringan membangun mimpi masa depan tanpa perlu menempatkan yang lainnya ke dalam posisi yang lebih rendah.

Tapi, sayangnya Kang Gilang sudah kelewat emosi dan menyerang Mbak Kalis dengan kasar. Bahkan sampai menempelkan sebutan ‘tante’ dan ‘perawan tua’ untuk mendiskreditkannya. Lalu, Kang Gilang mengatakan bahwa kebanyakan ukhti yang Kang Gilang kenal, banyak yang sekolah tinggi tapi malah memilih jadi ibu rumah tangga.

Wajar jika banyak yang marah karena sesat pikir Kang Gilang itu. Tanpa sadar, Kang Gilang telah ikut menyetujui bahwa perempuan adalah makhluk kelas dua. Makhluk yang wajib patuh kepada suami dan tak punya pilihan profesi lain kecuali menjadi Ibu Rumah Tangga.

Saya kira, bila Kang Gilang benar mengamini ini, maka Kang Gilang tak layak menyebut diri sebagai Akhi. Sungguh tak layak.

Karena, akhi yang matang ilmunya takkan pernah berujar seperti itu. Kang Gilang pernah mendengar nama Ust. Salim A. Fillah? Jika mendengarnya saja belum pernah, Kang Gilang sebaiknya jangan mengaku-aku sebagai Akhi.

Ust. Salim A. Fillah adalah salah satu rujukan paling populer bagi para aktivis dakwah. Dia dikenal karena lihai menyampaikan dakwahnya dalam balutan tulisan nan sastrawi. Mereka, akrab memanggilnya akhi Fillah.

Dalam bukunya yang berjudul Agar Bidadari Cemburu Padamu halaman 21, Akhi Fillah menulis seperti ini:

“…maka tidak ada larangan bagi wanita untuk menguasainya, seperti wilayah fatwa dan ijtihad, pendidikan dan pengajaran, ilmu hadits, administrasi dan lain sebagainya. Maka oleh itulah, Umar mengangkat Asy Syifa’ binti Abdullah Al Adawiyah sebagai pemimpin Jawatan Pengawas Pasar di masanya.”

Sehingga jelas, yang ditulis oleh mbak Kalis sama sekali bukan sesuatu yang arogan. Karena, dalam khazanah pemikiran kaum pergerakan aktivis dakwah pun, perempuan punya ruang bergerak yang sama. Bebas menjadi apa saja.

Bila Kang Gilang tetap merasa sebagai seorang akhi, sudah seharusnya menyetujui tulisan Mbak Kalis dan Akhi Fillah. Karena pendapat bahwa wanita melulu di bawah ketiak lelaki hanya milik kaum degil macam Taliban dan ISIS. Sekelompok orang jahat yang sering mengaku-ngaku sebagai islam.

Jadi, sekali lagi saya meminta maaf kepada Kang Gilang, apabila surat terbuka ini lancang. Saya hanya gemas karena status Kang Gilang itu. Saya berharap Kang Gilang yang kini sudah terkenal di jagad facebook tidak mengikuti jejak seleb facebook lain seperti Tuan Jonru yang gemar menebar kebencian dan status-status sesat pikir.

Tapi, tenang saja, saya takkan sampai hati menyebut Kang Gilang sebagai orang tolol, akhi cupet atau timun bongkok.

Namun, jika Kang Gilang masih tetap jumawa dengan pendapat ‘perempuan yang sekolah tinggi itu ngeri’, maaf saya tak bisa tahan untuk tidak memasukkan Anda ke dalam golongan Amorphophallus titanum.

 

 

Ya, itu adalah nama ilmiah dari bunga bangkai.

Jakarta Itu Keras

Jakarta itu keras. Tentu saja klaim itu tak serta merta saya bikin hanya karena melihat citra metropolis itu dari televisi. Klaim itu murni dari pemandangan saya setelah beberapa kali berplesir (berplesir ke Jakarta? Aneh!) ke kota ini.

Setiap kali datang ke Jakarta, saya pasti mendapati orang yang marah-marah. Baru menginjakkan kaki di lantai stasiun, saya melihat seseorang berbaju safari sedang membentak para pengguna mobil di parkiran.

“Cepat woy, maju terus jangan berhenti. Kalau berhenti, saya kempesin bannya!”

Mobil-mobil berbaris dengan tertib. Suara klakson menciptakan hiruk pikuk.

Setelah berhasil keluar dari stasiun, saya menaiki bus Transjakarta. Suasana lambung bus nampak sepi. Hanya ada beberapa penumpang. Setelah melewati beberapa koridor busway, penumpang mulai penuh. Ada aturan bahwa bagian depan hanya untuk perempuan, sedangkan bagian belakang untuk laki-laki.

Tapi, tetap saja ada seorang lelaki yang berdesakan di bagian depan. Sontak, sang kondektur berteriak.

“Cowok di belakang. Cewek di depan. Cowok yang ada di depan itu banci ya woy!”

Lelaki tadi langsung mundur merangsek ke belakang setelah mendengar sindiran (atau bentakan) itu.

Turun dari bus, saya langsung menuju tempat tujuan saya. Sebuah festival sastra yang sedang berlangsung di area kota tua.

Lagi dan lagi, saya mendengar orang marah-marah ketika saya bertanya kepada salah seorang di tempat itu.

“Maaf mbak, lantai dua acara diskusinya Pak Haidar Bagir dimana ya?”

“Nggak tahu mas, tanya aja sama panitianya. Para panitianya nggak mau ngurusin!”

Perempuan yang saya tanya tadi menjawabnya dengan nada marah yang seram.

Tontonan itu, semakin menebalkan keyakinan saya bahwa Jakarta itu keras. Orang-orang Jakarta telah kehilangan diksi yang lembut. Kehidupan metropolis yang barbar seringkali membikin orang-orang itu terkena senewen.

Di Jakarta, keramahan adalah sebuah kemewahan.

Barangkali itu sebabnya saya selalu berdoa seperti ini:

“Tuhan, jika rezeki ada di Jakarta, ku mohon jangan pernah mengangkat keramahan dari hatiku.”