Aku Ingin Kembali Menjadi Anak-Anak

Tiga anak menari
tentang tiga burung gereja
Kemudian senyap
disebabkan senja

—Goenawan Mohamad, dalam sajak Anak-Anak Mati

Hidup adalah kelana yang tiada putus. Aku mulai tumbuh dewasa dan memanggul sekarung beban tanggung jawab sebagai orang dewasa. Aku harus dihantui oleh masa depan dan masa lalu.

Anak-anak berlarian dan pergi dari kepalaku. Perasaanku mudah rapuh serupa permen kapas. Aku merasa menjadi orang dewasa berarti harus siap menerima serpihan-serpihan kesedihan. Aku mudah bersedih tanpa sebab, tanpa kata-kata. Anak-anak pergi dan membawa ransel berisi tawa.

Hidup adalah kelana yang tiada putus. Namun, jika anak-anak meninggalkan diriku sendiri, aku pasti bakal lekas mampus.

Aku ingin kembali menjadi anak-anak.

Tanpa kesedihan dan kebencian.

Pagi Adalah Tidur Lebih Nyenyak

Insomnia adalah kutukan bagi mereka yang mencintai pagi. Aku masih terjaga pada pukul 6.00. Berusaha untuk lelap adalah satu-satunya cara yang masih kulakukan. Pagi, dengan tembilang ayam dan suara deru kendaraan yang mulai riuh, adalah lagu pengantar tidurku. Barangkali, aku hanya butuh barang satu atau dua jam untuk merebahkan kepalaku.

Dalam kepalaku ada pasar yang tak pernah tutup. Selalu ramai dan sibuk. Pikiranku serupa pedagang yang terlalu cerewet menawarkan barangnya. Pikiranku juga serupa pembeli yang tak mau berhenti menawar harga dengan harga paling rendah. Kepalaku dipenuhi oleh pikiran-pikiran menyebalkan yang tak mau tidur.

Selamat pagi. Aku hanya butuh tidur yang cukup. Sebelum tidur yang abadi: mati.