Ketika Ceramah Agama Menjadi Klise

Apakah anda sering mendengar ceramah agama yang selalu diulang-ulang?

Apakah anda merasa bosan?

Jika pertanyaan itu dilemparkan kepada saya, maka jawabannya: ya, saya pernah. Saya merasa bahwa ceramah agama yang kini sering saya dengar adalah materi yang terus menerus diulang. Tentang kewajiban dan larangan. Tentang dosa dan pahala. Selalu berulang. Selalu begitu. Hal-hal yang sering diulang memang sering menjatuhkan orang ke dalam kubangan kebosanan.

Tidak, saya tidak ingin jadi pongah dan enggan belajar menimba ilmu agama lagi. Tentu saya masih merasa dhaif dan kotor. Namun, rasanya ceramah agama yang kini saya butuhkan jauh lebih itu. Saya ingin mendapatkan petuah-petuah agama yang bukan klise. Bukan petuah agama yang mendikte. Apalagi petuah agama yang kadang bersalin rupa menjadi pesan kampanye politik.

Manusia tumbuh secara perlahan. Ketika kanak-kanak, manusia serupa tumbuhan hijau yang memang perlu disirami. Petuah agama adalah air yang menumbuhkan. Ketika beranjak dewasa, manusia tumbuh menjadi begitu kompleks, serupa belukar. Bahkan lebih kompleks ketimbang papan sirkuit komputer. Sehingga, tentu banyak masalah yang harus diurai. Menusia menjadi gersang.

Di sinilah, entah mengapa, saya menyukai kajian agama yang diampu oleh KH Quraish Shihab ketika memberi ceramah tentang tafsir Al-Misbah pada setiap bulan Ramdhan. Beliau menjelaskan agama dengan cara yang santun dan memantik orang untuk berpikir. Tidak terjebak dalam meja penghakiman antara yang halal dan haram.

Bahkan, si penanya boleh dengan bebas menanyakan keresahannya. Sampai wilayah yang paling personal. Dan KH Quraish Shihab akan menjelaskannya dengan alur logika yang runut dan lurus. Dan tentu saja, berdasar dengan dalil. Beliau adalah pakar tafsir Al-Quran yang disegani oleh ulama-ulama di dunia. Maka, jika ada orang yang menuduh Quraish Shihab adalah ahli tafsir yang ngawur, sungguh itu adalah tuduhan paling serampangan.

Ceramah Quraish Shihab adalah oase. Saya adalah manusia gersang yang dahaga. Di saat itulah, ceramah agama tak lagi jadi klise.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s