Terbangun

Aku terbangun dengan singlet yang basah kuyup. Bulir-bulir keringat menderas dari pori-poriku. Tubuhku panas dan gerah sekali. Apakah aku bermimpi?

Suara guruh menyalak, menggetarkan kaca jendela yang ada di balik punggungku. Ada embun. Ada gelap. Ada sepi yang menyelinap. Terbangun pada jam dinihari yang berhujan bukanlah sebuah rahmat. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Melanjutkan tidur atau tetap terjaga?

Tadi, kupikir, aku baru saja bermimpi. Tentang orang-orang yang berjalan meninggalkanku dengan wajah dingin. Mereka tak hirau. Tanpa pernah menelengkan mukanya padaku. Aku sendiri, tertinggal di belakang. Memeluk kesendirian yang sunyi belaka.

Hujan masih begitu curah. Guruh masih bersuara dengan galak. Aku masih tercenung merenungi sebuah mimpi yang musykil.

Apakah itu mimpi buruk atau mimpi indah, Tuan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s