Mengobati Mood Buruk

Sebelumnya saya tak pernah berpikir bahwa suatu hari kelak saya bisa mencari uang dari kegiatan menulis. Ide semacam itu, tak pernah sama sekali mampir di benak saya. Sebab, saya pun menganggap kegiatan menulis hanya sebatas hobi dan kesenangan belaka. Jari jemari saya sudah cukup bahagia bisa menari di atas keyboard komputer. Namun, kita memang tak bisa memilih lajur nasib. Apa mau dikata, kini saya justru mencari pundi-pundi rupiah dari kegiatan menulis. Menulis ternyata bisa mendatangkan uang. Meski tak banyak. Meski jumlah tak sebanding dengan pekerjaan jenis lainnya.

Saya pun harus bisa menulis tulisan dengan tema apa pun. Tak boleh tidak bisa. Tentu dengan tenggat waktu juga. Harus bisa. Oleh sebab itu, saya harus sebisa mungkin mengendalikan mood saya dalam menulis. Banyak orang yang menganggap mood adalah item penting dalam menulis. Saya tak sepenuhnya sepakat. Namun, dalam waktu lain dan hal lain, itu memang benar.

Mood bisa mempengaruhi tulisan saya. Saya bisa begitu lancar menulis ketika mood sedang dalam keadaan berbahagia. Bahkan, ketika mood dalam keadaam yang sangat prima, jemari saya bisa menari dengan ketangkasan tingkat tinggi. Ia bisa mengetik 200 kata dalam waktu dua menit saja. Menurut saya itu cepat, menurut ukuran penulis amatiran macam saya. Tetapi, keadaan itu bisa jungkir balik. Bila mood sedang tidak baik atau ringsek. Jangankan 200 kata, 1 kata pun rasanya tidak bisa keluar. Seperti sebuah kemacetan yang tak membiarkan kendaraanmu melaju meski hanya sejengkal.

Namun, syukurlah. Saya punya beberapa upaya jitu untuk mengatasinya. Saya pernah membaca sebuah buku psikologi (yang sebenarnya lebih cocok disebut buku motivasi) yang mengatakan bahwa nuansa itu bisa merubah mood. Misalkan, jika sedang marah, cobalah untuk meneguk es jeruk. Atau kamu bisa menggosok gigimu kemudian berkumur. Dan coba rasakan lagi, apakah kemarahanmu masih ada?

Atas saran buku itu, saya mencoba mempraktekkannya dalam situasi saya. Situasi ketika saya tidak bisa menulis sama sekali. Ketika mood saya sedang tidak sehat, saya mencoba merubah nuansanya. Seperti menyeduh green tea latte dan meneguknya secara perlahan. Menikmati sensasi relax sejenak. Kemudian menulis lagi. Atau, saya juga pernah berkumur  dengan obat kumur rasa green tea. Dan benar, cara itu mujarab. Saya kembali bisa memerintahkan sepuluh jemari saya yang tidak lentik untuk mengetik lagi. Barangkali anda memiliki masalah yang sama dengan saya, tak ada salahnya untuk mencoba cara ini.

Oiya, green tea latte dan obat kumur rasa green tea itu bisa anda dapatkan di minimarket terdekat. Maaf, ini bukan promosi 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s