Aku, Buku, dan Engkau

Aku, Buku, dan Engkau

—untuk hari buku sedunia

Adinda, malam terlampau lengang jika hanya ada aku dan engkau. Di antara bulan yang redup remang dan bintang yang tak hendak jadi terang. Bolehkah aku ajak sehimpun kawanku dari negeri yang tersimpan dalam lemariku yang usang?

Mereka adalah sejilid buku yang memuat aksara dan luka kita, Adinda.

Buku adalah sejarah kesedihanku dan kesedihanku. Kota-kota yang sudah lama punah dari percakapan kita. Cinta yang terlampau remuk untuk memanggul kesalahan-kesalahan manusia. Buku adalah belantara ihwal segala hal. Sederet kata yang mengkhianti lupa. Ingatan-ingatan usang yang tertanam dalam ladang kering kerontang.

Buku adalah penanda batas antara kebodohanku dan kepandaianmu. Buku adalah jurang curam yang senantiasa menjagamu agar tak terlampau pongah jika mencapai puncak. Buku adalah sederet hutangku pada setiap kealpaanku.

Buku adalah cawan madu yang senantiasa kucicipi kala akhir pekan Buku adalah pil mujarab yang bakal menyelamatkan kepalaku dari dunia yang kepalang biadab.

Buku adalah dengus napasku, yang tiada putus menyebut namamu, Adinda.

Advertisements

One Reply to “Aku, Buku, dan Engkau”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s