Sefi

Sefi adalah perempuan yang aduhai. Senyumya seperti mampu membekukan detak waktu.

Ia adalah perempuan dengan tubuh jangkung. Kakinya jenjang, lehernya jenjang. Matanya lebar dan jernih. Titik bulat hitam matanya begitu pekat dan nyalang. Kulitnya putih dan licin, mengingatkanku pada lantai marmer sebuah masjid agung di tengah kota. Dan, yang paling menarik dari semua itu adalah rambut dan kacamatanya. Ia punya rambut panjang dengan gaya ombre warna biru langit yang menggemaskan. Seperti salah seorang tokoh utama di film Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Kacamatanya yang berbentuk bulat, seperti yang biasanya dipakai oleh gadis-gadis korea selatan yang lucu itu.

Sefi menyukai filsafat. Ia suka Nietzche dan Foucault. Ia menyukai filsafat nihilis karena terkadang ia juga membenci hidup dan melihatnya sebagai sebuah nonsense. Ia menertawakan kekerdilan manusia di tengah banjir bah informasi. Ia mengamini Foucault, ketika Foucault mengatakan bahwa manusia tak lebih dari agen infomasi dalam sebuah rantai komando institusi yang tak nampak. Ia mengamini Nietzche, ketika Nietzche menantang derita hidup dengan kredo Amor Fati. Dan Sefi memanggil dua tokoh ini dengan panggilan yang lucu. Nica untuk Nietzche. Fuko untuk Faucoult.

Aku menyukai Sefi seperti aku menyukai segala hal. Aku menyukainya seperti aku membenci segala hal.

Namun, sayang, ia hanya tokoh fiksi yang kukarang belaka.

Sefi. Kamu cuma fiksi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s