setitik nila

setitik nila

 

aku menemukan setitik nila di pipimu

ketika hendak kuusap, kau melerai tanganku

“itu bukan darah, tuan

setitik nila itu adalah kenangan

kenanganmu yang selalu basah.”

 

aku urung mengusapnya,

hanya memandangi bukit pipimu dengan sehikmat mungkin

namun perlahan-lahan ada yang berubah

setitik nila itu melebar,

semakin lebar hingga menutupi seluruh wajahmu

kemudian lehermu yang jenjang

kemudian kakimu yang panjang

 

dan setelahnya, aku tak melihat apa-apa lagi

kecuali kesedihanku yang tergenang dalam kenangan serupa titik nila.

 

2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s