Meremas Kebenaran

Akan tiba suatu masa, ketika orang-orang lebih sibuk mempercayai kebenarannya sendiri ketimbang menghargai orang lain. Dan kita, telah sampai pada masa itu. Kita bisa melihat buktinya dari riuh hingar bingar interaksi orang-orang di jagad internet. Kebenaranku adalah yang utama. Akulah manusia paling unggul yang paling paham segala hal tentang dunia. Orang lain hanyalah orang bodoh. Akulah Zarathrustra, mereka hanya kaum paria. Perkataanku adalah sabda. Perkataan mereka hanya suara berisik.

Di masa ini, kita telah mengenal istilah post-truth—atau yang secara umum dikenal sebagai kebenaran setelah kebenaran. Kebenaran sintetis yang diciptakan oleh presepsi masing-masing dari setiap orang. Orang-orang menjadi begitu teguh memegang kebenaran yang ia ciptakan dan percayai itu. Mereka abai terhadap kebenaran-kebenaran umum yang sangat dekat diri mereka. Mereka lebih memilih untuk asyik-masyuk ke dalam diri mereka. Mereka dengan gegabah menolak kebenaran dari luar yang sesungguhnya telah terang benderang. Mereka lebih suka dengan kebenaran dalam bentuknya yang paling elok. Kebenaran yang membuat mereka memiliki kuasa dan segala hal yang ingin dimiliki manusia.

Namun, sialnya mereka terlalu teguh memenggam kebenaran itu. Mereka sesungguhnya sedang meremas kebenaran. Sampai remuk.

Pada akhirnya, yang mereka pegang hanyalah kekosongan.

Barangkali.

Advertisements

One Reply to “Meremas Kebenaran”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s