Melihat Suriah

“Ambillah contoh Ayatullah Khomeini. Ia pasti berpaham Shiah. Dengan sendirinya menganggap dirinya unggul karena asal-usulnya dari Hussein cucu Nabi Muhammad SAW. Tapi, mengapa ia tidak bisa menahan diri dan menyetop peperangan dengan Irak? Bukankah Saddam Hussein presiden Irak itu juga mengaku keturunan ke-45 dari Nabi seperti terbaca jelas dalam pohon silsilah yang terpampang di tembok Mesjid di Kerbala? Ataukah karena keduanya satu turunan itu makanya merasa perlu saling hantam satu sama lain?”
—Mahbub Djunaidi, dalam esai berjudul “Keturunan”

Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri sebuah acara bedah buku berjudul “Salju di Aleppo”. Buku itu adalah kumpulan tulisan tentang analisis tragedi perang Suriah, ditulis oleh Dina Y Sulaeman. Seorang pengamat isu timur tengah yang (konon) Syiah itu. Akan tetapi, sejujurnya ketika mengamati jelujur paparan analisisnya soal konflik Suriah, saya tak ingin melihat background syiah yang ia sandang. Saya ingin menyimak dari ruang objektivitas yang kedap dari prasangka.

Dan benarlah, Dina Sulaeman mengurai permasalahan konflik Suriah dengan kacamata netral, alih-alih menyelipkan dikotomi Syiah-Sunni dalam perang ini. Memang begitulah seharusnya kita melihat konflik Suriah. Kita tak boleh abai dengan fakta bahwa banyak campur tangan negara lain di Suriah. Amerika, adalah salah satu negara adikuasa itu.

Omong-omong soal Amerika, dalam diskusi buku ini, Dina memutar sebuah video yang menayangkan betapa fasiknya Amerika itu. Dahulu, jauh-jauh hari sebelum konflik Suriah meletus, kita tentu ingat ketika Amerika menyerang Iraq. Iraq yang kala itu dipimpin oleh Saddam Husein, dicabik-cabik layaknya ayam potong. Hampir setengah juta orang tewas dalam perang itu. Selain memakan nyawa-nyawa warga sipil yang tak berdosa, perang ini juga menghabiskan dana yang tak sedikit. Sampai-sampai Joseph Stiglitz—seorang ekonom penerima hadiah nobel—menulis buku khusus tentang kerugian perang Iraq. Perang Iraq, didasari oleh tuduhan Amerika dan konco konconya yang menyebut Iraq menyimpan senjata pemusnah massal. Perang berlangsung lama dan senjata pemusnah massal itu tak diketemukan juga. Maka, pada tahun 2011, Bush—mantan presiden amerika itu, menyatakan bahwa di Iraq tidak ada senjata pemusnah massal. Pernyataan ini dibarengi oleh penyataan dari tokoh-tokoh lainnya. Menyebalkan bukan?  Namun, sialnya, sebagian dari kita terjangkit amnesia akut.

Kita lebih sibuk memandang Suriah sebagai konflik perang saudara. Antara warga sipil dengan pemerintah. Padahal, justru inilah yang menggiring opini dunia untuk percaya bahwa Suriah harus diselamatkan dengan kiriman bala tentara bantuan. Inilah satu langkah pijakan yang akan menjadi alasan bagi negara-negara Nato untuk memborbardir pemerintahan Suriah. Pemerintah Assad laknatullah yang kejam itu. Alih-alih ingin menyelamatkan Suriah, bukan tak mungkin bila mereka melakukan hal yang sama seperti tragedi Iraq.

Perang Sunni-Syiah?

Apakah anda yakin yang terjadi di Suriah adalah perang antara Sunni dan Syiah? Jika jawabannya iya, anda sudah terjebak dalam wacana mainstream yang menggelikan. Sekali lagi, ini sesungguhnya bukanlah perang sekterian. Perang ini adalah perang yang murni karena kepentingan. Jika anda menganggap ini memang perang antara Sunni-Syiah, anda telah mengabaikan beberapa hal mendasar. Itulah mengapa saya menyebutnya sebagai wacana mainstream yang menggelikan. Assad, sang diktator yang sering dicaci sebagai syiah laknatullah itu, sesungguhnya bukanlah orang syiah. Ia adalah seorang Alawy. Sebuah sekterian minoritas di Suriah . Kemudian, jika anda mengira bahwa tentara Suriah adalah Syiah. Berikut ini adalah komposisi susunan militer Suriah: 43% komandan militer Suriah adalah Sunni, 37% adalah Alawy, dan sisanya berasal dari kelompok lain.

Hoax Suriah

Satu lagi yang paling menyedihkan tentang Suriah adalah: di sana berhamburan berita-berita hoax. Hoax inilah yang sering dijadikan negara-negara proxy tadi untuk menarik opini umum dunia. Bukankah manusia mudah terjerat belas kasihan?

Contohnya adalah video bocah dikursi oranye yang sempat menjadi viral di jagat sosial media dunia. Bocah itu bernama Omran, ia dicitrakan sebagai korban kebengisan tentara Suriah yang kemudian diselamatkan oleh timsar dari reruntuhan gedung yang telah dibom dan dibawa bersama ambulans. Jika sejenak melihat peristiwa ini, kita akan  dengan mudah bersedih dan memaki si pelakunya. Tapi, sayangnya, semua itu hanyalah pertunjukkan teatrikal dari White Helmets. Video itu hanyalah settingan. Dan white helmets merupakan bagian dari organisasi teroris bernama Al-Nusra.

Apakah saya percaya?

Semua paparan yang saya kemudian tadi adalah secuil ulasan dari buku “Salju di Aleppo” karya Dina Y. Sulaeman. Apakah saya percaya?

Saya percaya dengan paparan itu setelah melakukkan penelusuran di link-link yang trsemat di catatan kaki. Hanya sebatas itu. Tanpa maksud tendensius.

Namun, sekali lagi, saya ingin melihat Suriah ini dengan kacamata objektivitas. Saya tidak mau untuk tidak menyalahkan Bashar Assad dalam perang ini. Ia, juga bersalah dan harus bertanggung jawab atas darah yang menetes di Suriah. Sebab, ia adalah pemimpin Suriah. Tapi, satu sudut lagi yang tak boleh luput: amerika itu pembohong, kenapa kita masih belum bisa ingat?

Tragedi di Suriah itu, bukanlah civil war, tuan dan puan, melainkan sebuah proxy war!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s