Merah dan Hijau (Seri Belajar Marxisme #1)

“Kalau tak ada PKI dan Masyumi, Indonesia tidak akan merdeka, Cu. Indonesia akan terus di jajah.”

Perkataan itu keluar dari mulut kakek saya. Saya mendengarkan ceritanya dengan khusyuk sekali. Saya sebisa mungkin bersikap sebagai anak manis yang menunggu cerita dimulai. Namun, cerita yang ia tuturkan bukanlah selusin dongeng, melainkan himpunan fakta sejarah yang sulit saya temukan dalam buku-buku sejarah di sekolah dulu.

Lalu, ia melanjutkan cerita, “PKI itu hebat sekali dalam perkara menggerakkan rakyat dan menggerakkan roda pembangunan. Semuanya maju waktu zaman PKI masih jaya. Mulai dari pertanian sampai urusan seni. Setiap kali perayaan hari besar seperti 17 Agustus, ulang tahun PKI dan Ulang tahun Subang, jalanan Subang selalu dipenuhi oleh seniman-seniman Lekra. Mereka mempertontonkan pertunjukkan seni yang meriah. Rasanya, kemeriahan itu sampai hari ini belum bisa terulang lagi.”

“Tapi sayangnya, orang-orang PKI itu katanya tak punya agama. Dan Aki kurang setuju dengan program landform tanah yang memberi setiap orang tanah garapan. Aki melihat ada yang tidak adil pada program itu.”

Kakek saya, pada beberapa titik memang bersimpangan dengan PKI. Kadang ia juga membeci PKI. Namun, ia juga tak lupa tentang bagaimana peran PKI dalam memobilisasi massa. Tapi, di satu sisi kakek saya juga punya perhatian khusus dengan partai Masyumi. Bahkan, konon, kakek nenek saya adalah salah satu tokoh partai Masyumi di Subang.

“Selain PKI, Masyumi juga merupakan salah satu partai yang punya peran besar terhadap diplomasi Indonesia. Kakeknya almarhumah nenekmu itu adalah salah satu tokoh Masyumi di sini.”

PKI dan Masyumi
diambil dari Rappler.com

***

“Dulu, yang bertikai selalu itu-itu saja. Merah dan hijau. Padahal mereka itu sama-sama punya andil besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Misal tak ada dua warna itu, Indonesia mungkin sampai sekarang masih dijajah.”

Kakek saya menceritakan cerita itu dengan ingatan yang masih kokoh. Saya percaya dengan ceritanya. Ia tidak sedang membual. Sebab, beberapa ujarannya cocok dengan buku-buku sejarah yang pernah saya baca. Kakek saya dulu adalah salah seorang buruh PT. Perkebunan. Ia bekerja sebagai teknisi di sebuah gedung PLTA di Subang. Dan ia adalah salah seorang anggota organisasi buruh bernama Sarbupri.

Sarbupri merupakan singkatan dari Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia. Organisasi serikat buruh ini menginduk pada organisasi yang lebih besar bernama SOBSI. Organisasi yang secara langsung menjadi onderbouw dari Partai Komunis Indonesia. Meskipun Sabupri tak cukup dinamis dalam masa pendiriannya, namun perannya pada pemogokan buruh untuk penuntutan kenaikan upah buruh pada medio 1950 tak bisa diabaikan. Atau perannya dalam proses Nasionalisasi perusahaan-perusahaan peninggalan Belanda seharusnya juga layak diingat. Bila anda berminat untuk melihat sejarah Sabupri dan Sobsi dalam proses nasionalisasi perusahaan belanda, anda bisa membacanya dalam buku berjudul Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia, yang ditulis oleh Bondan Kanumoyoso.

***

“Awas, jangan baca-baca buku merah. Atau ikut-ikutan politik. Taruhannya adalah leher, Cu. Aki sudah melihat bola-bola kepala dan banjir darah pada waktu itu,”

Ketika kakek saya mengatakan itu, alih-alih berhenti membaca, saya justru makin haus dengan bacaan-bacaan tentang sejarah kiri Indonesia. Saya tahu, kakek saya hingga hari ini masih dihantui rasa takut yang mungkin takkan bisa saya bayangkan. Ia telah melihat semuanya pada tahun 1965. Bola-bola kepala dan genangan darah. Ia juga pernah jadi korban ketidakadilan dari rezim degil itu. KTPnya pernah dibubuhi noda. Padahal ia tak pernah punya urusan langsung dengan PKI. Ia hanya punya rekan-rekan dengan semangat merah. Dan rekan lainnya juga menjadi jagal bagi temannya sendiri. Alhamdulillah, kakek saya selamat dari banjir bah mala itu.

Barangkali, melalui tulisan ini, saya akan melangkah lebih jauh. Anggap saja tulisan ini sebagai pintu gerbang saya untuk mempelajari Marxisme. Karena, saujana saya, itulah salah satu isme yang melepaskan Indonesia dari rantai kolonialisme. Meskipun tentu saja saya tak bisa bisa bersepakat seutuhnya dengan Marxisme. Ia juga punya sejarah berdarah.

Kita  juga tak boleh lupa bahwa para bapak pendiri bangsa Indonesia punya benang merah dengan Marxisme. Tan Malaka adalah salah seorang tokoh penting dalam PKI pada era Musso. Ia adalah orang pertama yang membuat konsep Republik yang dipakai oleh Indonesia saat ini. Soekarno, si bung besar itu, juga adalah tokoh yang hidup dalam kelindan pemikiran Marxisme. Atau mungkin kita juga tidak tahu bahwa Bung Hatta juga merupakan orang yang pernah belajar Marxisme. Ia pernah menerjemahkan beberapa tulisan Karl Marx.

Dan, satu tokoh lagi yang mungkin tidak kita tahu bahwa ia pernah bersinggungan dengan komunisme. Beliau adalah Ki Hajar Dewantara, sang bapak pendidikan Indonesia itu. Ki Hajar Dewantara pernah menerjemahkan lagu Internationale, lagu wajib kaum komunis sedunia itu dari bahasa Belanda.

Dan tentah, siapa lagi tokoh yang pernah bersinggungan dengan komunisme. Namun, sialnya komunisme telah dilabur arang hitam. Sejarahnya dianggap najis oleh rezim orde baru. Syukurlah, sang jendral itu telah direnggut ajal, kini akhirnya kita bisa kembali mengkaji Marxisme. Oiya, kakek saya sepertinya juga punya kesumat dengan Soeharto. Katanya begini:

“Hartanya Soeharto takkan habis dimakan oleh 7 turunan. Selama itu pulalah anak cucunya memanggul dosa politiknya. Anak-anak Soeharto takkan mungkin pernah bisa jadi presiden. Jangan pernah ada.”

*) kakek saya menceritakan kisah itu dalam bahasa Sunda yang langsung saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia

Advertisements

2 Replies to “Merah dan Hijau (Seri Belajar Marxisme #1)”

  1. Wah, menurut saya nih, bisa ditulis dalam buku nih pernyataan dari kakek kamu sob 🙂
    ASELI, itu adalah fakta sejarah… fakta yang tak terbantahkan…

    Tentang komunis dan Marxis, saya sependapat kalau bung besar juga bersinggungan dengan itu.
    Bahkan konon kata ustadz saya, pancasila itu juga hasil dari bacaan bung besar ttg azas2 kehidupan dari masyarakat komunis/China… SAN MIN CHU I…
    Ada tuh di buku sejarah ttg san min chu i 🙂

    Ulasan yg sangat bagus sob..
    i like it…

    salam kenal yah!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s