Melihat Siput Sembari Melamun

Salah satu penyair favorit saya—Aan Mansyur, pernah menulis sebuah esai berjudul “Para Penyembah dan Penyembuh Kecepatan”. Kira-kira, dalam esai panjang itu Aan memaparkan sebuah sketsa panjang tentang kebiasaan manusia ketika berlomba dalam hal kecepatan, yang justru membuat manusia terjerembab pada masalah lain yang lebih gawat. Misalnya, suatu ketika ada seorang reporter yang ingin mewartakan berita dengan memegang teguh prinsip kecepatan. Ia—sang reporter itu, mengabarkan berita tentang seorang public figure yang baru saja meninggal dunia. Ia begitu bangga karena menjadi yang pertama ketika berita itu dikabarkan. Namun, sialnya tiba-tiba si public figure tadi kemudian muncul kembali dengan napas yang masih panjang. Si public figure itu belum mati. Dari kejadian itu, kita tahu bahwa kecepatan tak selalu berbanding lurus dengan keabsahan sebuah kebenaran.  Tapi, betapa orang pada zaman ini masih saja mengimani hukum kecepatan: siapa cepat, ia menang!

Maka jangan heran, bila banyak orang yang tak acuh pada hal-hal sederhana yang sesungguhnya mengandung makna dalam. Sungguh sulit rasanya, menemukan seorang pegawai kantoran dengan jadwal padat, yang ingin merelakan waktunya untuk sekedar melamunkan keadaan sekitarnya. Melihat laju orang-orang atau mengamati laku seorang pedagang asongan ketika menawarkan barang dagangannya, misalnya. Apalagi, untuk membaca sebuah novel serius yang tak menawarkan konflik yang intens dan keseruan cerita. Seperti novel berjudul Piknik yang ditulis oleh seorang penulis muda bertampang kalem bernama Nurul Hanafi.

Piknik
Piknik terbitan Interlude

Dalam novel Piknik, Nurul, menerapkan sebuah gaya bercerita yang panjang dan liris. Untuk menceritakan sebuah adegan cerita, ia harus membuat paragraf panjang yang kadang terasa sebagai sebuah pengulangan.  Dalam bangunan ceritanya, Nurul  juga sering membuat lubang di sana-sini. Setiap fragmennya seperti menyediakan kekosongan yang ganjil. Kekosongan inilah memaksa pembaca untuk membuat berbagai macam tafsir.

Contohnya adalah yang ada pada tuturan sang tokoh utama ini:

Dengan rindu dendam? Mungkin. Karena aku biasa berpikir betapa pulang adalah sikap yang buruk, seolah penanda bahwa aku tidak tahan bertarung di luar dengan rasa sepi, dalam liputan keberjarakan.

Dari tuturan sang tokoh utama—yang belakangan diketahui bernama Ruh, saya menduga, ia adalah pribadi yang ringkih dan terlalu sering membuat hal sederhana menjadi rumit. Ruh adalah jenis orang yang suka berpikir panjang sebelum mencentuskan sebuah keputusan. Dan, dugaan saya itu tak sepenuhnya salah.

Dugaan itu akan semakin menguat ketika pembaca sudah berniat untuk menyimak obrolan panjang  Ruh dengan Ibunya. Obrolan itu berkisar tentang masa kecil ruh dan riwayat kisah ayahnya sebelum ajal. Ruh, sering mengeluarkan pendapat-pendapatnya yang rumit ketika ibunya bercerita tentang sosok dan pribadi sang ayah. Namun, Ruh seolah ingin mengelak dari sebuah kenyataan yang tak saya ketahui apa itu. Pembaca juga harus bersabar ketika sedang menyimak obrolan panjang ini. Karena Nurul, bertutur dengan kalimat-kalimat panjang yang liris dan eksperimental. Terkadang, ia juga sering membubuhi kalimatnya dengan frasa-frasa yang kurang lazim untuk digunakan pada sebuah novel berbahasa Indonesia. Seperti misalnya frasa “terombang-ambing seperti perahu mabuk,” yang merupakan salah satu frasa yang dicuri dari puisi Arthur Rimbaud atau mungkin Saut Situmorang.

Namun, saya rasa, kita bisa mafhum. Karena, seperti kata Budi Darma, Nurul adalah pembaca novel bagus. Jadi, pembaca harus bersedia untuk membiasakan diri.

Percakapan antara Ibu dan anak itu bergulir di antara nostalgia masa lalu. Meskipun diceritakan dengan panjang dan kadang berulang, sesungguhnya percakapan mereka bukanlah sebuah melodrama. Seperti ketika mengisahkan kematian sang Ayah, mereka menceritakan ingatan itu dengan datar saja sebenarnya. Mungkin ada sebuah kesedihan. Tapi, mereka seperti menggiring kita kepada sebuah definisi bahwa kematian adalah: sebuah bentuk kepulangan sederhana ke alam baka. Tak ada yang lain!

Novel ini juga dituturkan dengan nada yang lirih sekali. Mungkin juga karena latar waktunya pada malam hari dan terjadi pada sebuah rumah yang lengang.

Kalimat-kalimat lirih itu mampu menghadirkan citra puitik. Namun, sejatinya novel ini tidak menghamba pada lirisme yang melankolik menye-menye. Nurul berusaha menyuarakan sebuah perasaan. Barangkali sejenis kemarahan. Tapi, saya tak tahu kenapa saya bisa merasakan itu.

Ruh, sejatinya juga merupakan orang yang rumit dan terkesan filosofis. Seperti yang saya duga pada bagian awal. Bisa-bisanya ia bertanya seperti ini kepada ibunya:

 ‘Tapi tidakkah hampa jika kita hidup tanpa pembicaraan filosofi?”

“Kau memandang hidup dengan cara yang tidak kuketahui.”

Menurut saya, pada titik itu Ruh malah menjerumuskan dirinya pada kerumitan yang nihil. Alih-alih ingin memandang hidup dalam bingkai filosofis, Ruh justru tak lebih filosofis ketimbang ibunya.

Namun sebenarnya, hal-hal yang membentuk pribadi Ruh menjadi filosofis adalah ayahnya. Watak itu adalah gen turunan dari sang Ayah. Ayahnya adalah orang yang hidup dengan bakat yang tak terlalu dalam pada hal-hal praktis. Ayahnya adalah orang yang gandrung pada kegemaran yang menurut Ruh lebih batiniah.

Pribadi itu jelas tergambar dalam paragraph ini

“Ayahku tak meninggalkan satu pun kegemaran yang bersifat praktis. Ia tidak memelihara burung, ia tidak suka berkebun, ia tidak suka bersepeda, dan ia pun bukan seorang pelanggan kedai makan terdekat. Semua kegeramaran ayahku bersifat batiniah. Menyimak wayang kulit semalam suntuk, mendongeng tentang pahitnya hidup di masa Jepang, dan mengarang tembang-tembang Jawa…”

Sampai pada pembahasan ini, kita bisa bersepakat bahwa Nurul Hanafi adalah penulis dengan nada serius. Kita tentu tak bisa dengan mudah mengabaikan muatan-muatan maksud dalam sepanjang obrolan Ruh dengan Ibunya.

Budi Darma dalam buku kumpulan esainya berjudul Solilokui, pernah membuat sebuah klaim tentang sastra sepintas lalu. Menurutnya, sastra Indonesia dipenuhi oleh mereka yang hanya mengerjakan sastra sepintas lalu. Yang sepintas dan lalu begitu saja. Sastra yang dikerjakan alakadarnya. Namun, tulisan itu di tulis pada medio 1982. Ketika itu, Nurul Hanafi tentu saja belum menulis novel ini. Dan saya kira, Budi Darma mesti meralat klaim itu. Sastra Indonesia kini, setidaknya bisa sedikit bergeliat dengan kemunculan banyak penulis muda dengan karya sastra eksperimental.

Tapi, sekali lagi, novel Piknik karya Nurul Hanafi ini bukanlah sebuah karya yang patut dinikmati sekejap saja. Butuh ketabahan khusus untuk menyelesaikannya. Mungkin, jika bisa saya gambarkan, menikmati novel Piknik adalah seperti melihat seekor siput yang merangkak pada sebuah ranting sembari melamun.

Dan itu dilakukan pada sebuah pagi yang basah di kebun yang sepi.

Sendirian.

Oleh seorang pemuda pengangguran, seperti saya.

Silahkan membacanya, jika anda memiliki waktu yang teramat luang untuk melakukan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s