Organisasi Bukan Ring Tinju

Pada sebuah siang menjelang jam istirahat, saya dipanggil oleh atasan saya ke ruangannya. Saya beserta seorang rekan kerja yang sama-sama bekerja di bagian frontliner. Saya dipanggil bukan karena ingin diberi bonus atau hadiah oleh atasan. Saya dipanggil untuk diceramahi dan dimarahi. Alasannya, menurut atasan saya, organisasi ini sedang tak kondusif. Katanya, pangkal masalahnya ada pada diri saya.

Saya masuk dan duduk di kursinya yang empuk itu. Ruangan itu dingin sekali karena AC menyala terus. Berbeda dengan suasana hati saya yang panas dan berkobar-kobar sejak sang atasan memanggil saya.

Ia mulai berbicara. Pertama pelan. Lama-lama nadanya meninggi.

Saya hanya bisa diam dan mendengarkan. Saya pikir, membantah omongannya adalah usaha yang sia-sia. Saya tak mau banyak berdebat dengan seorang pemimpin berpikiran tertutup dan degil. Ia adalah golongan orang yang percaya bahwa PKI bakal bangkit lagi dan hobi membaca novel adalah pekerjaan para pengkhayal.

“Kamu itu gimana sih, Mas. Kerja 6 bulan tapi belum bisa kerjasama sama rekan kerja.”

“Bagaimana saya bisa bekerjasama, Pak, kalau setiap kali saya minta bantuan, dia tak acuh,” jawab saya sembari menunjuk rekan yang ada di samping saya.

“Dia selalu mengabaikan permintaan tolong saya. Giliran dia ada pekerjaan sulit, dilimpahkan ke saya. Giliran saya yang kelabakan mengerjakan banyak pekerjaan, dia santai saja sembari main hp. Dan jika dia mau mengerjakan permintaan saya, dia bilang saya ini tukang suruh. Jadi, siapa sesungguhnya yang tidak bisa bekerjasama?”

Saya mengatakan pembelaan itu dengan nada biasa saja. Tanpa intonasi kemarahan. Bahkan, sekilas, terdengar suara ingin menangis. Ya, hati saya memang ringkih. Saya adalah seorang lelaki, tetapi terkadang mental tempe saya muncul.

Yang saya katakana itu adalah apa yang saya alami saat bekerja. Itu adalah pembelaan saya. Namun, sialnya, saya selalu jadi dari golongan kambing hitam. Barangkali, memang begitulah nasib seorang anak baru dalam sebuah kantor. Selalu dijadikan korban dan dianggap sebagai junior yang pantas untuk dikerjai.

Si rekan tak berkomentar apa-apa. Ia hanya menunduk saja.

Saya memang berharap dia sebaiknya tak berkomentar apa-apa. Karena, yang saya katakan adalah benar adanya.

Sebenarnya upaya sang atasan menuduh saya sebagai pangkal dari berbagai masalah yang timbul di kantor adalah kelucuan. Karena, toh suasana tidak kondusif ini dirasakan oleh “semua warga kantor”. Dan, tentu saja lucu jika saya,  yang anak baru ini, yang tak tahu apa-apa ini, bisa berbuat banyak hal. Padahal, otoritas pekerjaan saya hanya sebatas itu saja. Tapi, semua kesalahan selalu dilemparkan ke muka saya.

Si atasan kembali mencercar saya. Kali ini dengan nada galak yang membuat saya sedikit tersinggung. Karena, ia telah menyentuh wilayah personal saya.

“Kamu ini dulu nggak pernah ikut organisasi ya, Mas?”

“Pernah, Pak. Bahkan sering.”

“Lalu, kenapa kamu tidak bisa berorganisasi? Hah?”

“Karena organisasi saya dulu, diisi oleh orang-orang yang menyenangkan. Dan konfliknya jarang-jarang. Biasa saja.”

“Berarti organisasi kamu itu belum matang!”

Sejenak, saya terhenyak. Saya tak membalas pernyataan itu dengan argumen. Pernyatannya, yang mengatakan bahwa organisasi yang konfliknya jarang-jarang itu sebagai “organisasi kamu itu belum matang!” membuat saya semakin percaya bahwa bos saya ini memang orang degil. Ia seolah-olah mempercayai sebuah organisasi dengan suasana saling sikut yang sengit. Organisasi yang diiisi oleh kelahi dan caci maki. Bahkan, kalau perlu juga harus ada baku hantam. Ia tanpa sadar telah menyamakan sebuah organisasi dengan sebuah ring tinju.

Dalam hati saya hanya bisa berujar:”Pak, jujur, selama empat tahun kuliah, saya belum pernah belajar teori organisasi yang diciptakan oleh orang barbar, Pak. Maaf, mungkin kampus saya juga bukan kampus yang matang. Da aku mah apa atuh, cuma map sobek.

Kejadian itu, semakin menebalkan keyakinan saya untuk mengajukan surat resign. Karena, bertahan dengan seorang pemimpin yang tak punya jiwa mengayomi sama saja dengan bunuh diri.

Padahal, seorang pemimpin tak perlu repot untuk bersikap galak kepada bawahannya jika ada masalah. Barangkali ia hanya perlu jadi seorang teman yang baik dan mau mendengar. Tapi, saya lupa bahwa lelaku seperti itu hanya bisa dilakukan oleh seorang pemimpin unggul. Pemimpin yang selalu mampu menciptakan suasana organisasi seperti sebuah taman bermain. Menyenangkan tapi tetap ada aturan. Seperti sebuah larangan: jangan membuang sampah sembarangan dan mencabut bunga yang ada di taman. Dan sialnya, atasan saya tak masuk dalam golongan itu.

Atasan saya, barangkali, memang lebih memilih sebuah gaya kepemimpinan a la pelatih tinju.

“Pukul dong. Kamu harus serang dia terus.”

Barangkali.

Saya tak peduli. Karena saya sudah tak bekerja di situ. Dan semoga ini menjadi pelajaran bagi semua.

Pada masa itu, hanya ada satu kalimat motivasi yang terngiang dalam kepala saya:

“Kamu harus sabar. Ini ujian.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s