Aku, Buku, dan Engkau

Aku, Buku, dan Engkau

—untuk hari buku sedunia

Adinda, malam terlampau lengang jika hanya ada aku dan engkau. Di antara bulan yang redup remang dan bintang yang tak hendak jadi terang. Bolehkah aku ajak sehimpun kawanku dari negeri yang tersimpan dalam lemariku yang usang?

Mereka adalah sejilid buku yang memuat aksara dan luka kita, Adinda.

Buku adalah sejarah kesedihanku dan kesedihanku. Kota-kota yang sudah lama punah dari percakapan kita. Cinta yang terlampau remuk untuk memanggul kesalahan-kesalahan manusia. Buku adalah belantara ihwal segala hal. Sederet kata yang mengkhianti lupa. Ingatan-ingatan usang yang tertanam dalam ladang kering kerontang.

Buku adalah penanda batas antara kebodohanku dan kepandaianmu. Buku adalah jurang curam yang senantiasa menjagamu agar tak terlampau pongah jika mencapai puncak. Buku adalah sederet hutangku pada setiap kealpaanku.

Buku adalah cawan madu yang senantiasa kucicipi kala akhir pekan Buku adalah pil mujarab yang bakal menyelamatkan kepalaku dari dunia yang kepalang biadab.

Buku adalah dengus napasku, yang tiada putus menyebut namamu, Adinda.

Sefi

Sefi adalah perempuan yang aduhai. Senyumya seperti mampu membekukan detak waktu.

Ia adalah perempuan dengan tubuh jangkung. Kakinya jenjang, lehernya jenjang. Matanya lebar dan jernih. Titik bulat hitam matanya begitu pekat dan nyalang. Kulitnya putih dan licin, mengingatkanku pada lantai marmer sebuah masjid agung di tengah kota. Dan, yang paling menarik dari semua itu adalah rambut dan kacamatanya. Ia punya rambut panjang dengan gaya ombre warna biru langit yang menggemaskan. Seperti salah seorang tokoh utama di film Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Kacamatanya yang berbentuk bulat, seperti yang biasanya dipakai oleh gadis-gadis korea selatan yang lucu itu.

Sefi menyukai filsafat. Ia suka Nietzche dan Foucault. Ia menyukai filsafat nihilis karena terkadang ia juga membenci hidup dan melihatnya sebagai sebuah nonsense. Ia menertawakan kekerdilan manusia di tengah banjir bah informasi. Ia mengamini Foucault, ketika Foucault mengatakan bahwa manusia tak lebih dari agen infomasi dalam sebuah rantai komando institusi yang tak nampak. Ia mengamini Nietzche, ketika Nietzche menantang derita hidup dengan kredo Amor Fati. Dan Sefi memanggil dua tokoh ini dengan panggilan yang lucu. Nica untuk Nietzche. Fuko untuk Faucoult.

Aku menyukai Sefi seperti aku menyukai segala hal. Aku menyukainya seperti aku membenci segala hal.

Namun, sayang, ia hanya tokoh fiksi yang kukarang belaka.

Sefi. Kamu cuma fiksi.

Bergunjing

Rasanya, tak ada orang yang tak pernah bergunjing. Setiap orang, disadari atau pun tidak, pasti pernah bergunjing. Entah menggunjingkan hal-hal baik atau keburukan orang lain. Menggunjingkan yang hal kedualah yang dilarang. Kita tak boleh membicarakan keburukan orang lain. Dalil-dalil agama sudah sering memperingatkan hal ini. Bahkan, agama menggambarkan ‘orang yang suka bergunjing ‘ seperti seekor gagak yang memakan bangkai sodaranya. Namun, sialnya saya sering lalai untuk  tak melanggar larangan ini. Saya sering bergunjing. Menggunjingkan hal apapun yang membuat saya resah.

Saya tidak bisa tidak untuk menggunjingkan bos atau rekan kerja saya di kantor dulu. Sebab, rasanya jika tak membicarakan mereka, saya seperti sebuah pipa yang mampet. Namun, pada beberapa waktu khusus saya berusaha menahannya. Dan tentunya, hobi bergunjing itu bukan tanpa sebab. Bos dan rekan kerja saya waktu itu memang kepalang menyebalkan. Lalu, saya pikir satu-satunya cara untuk menjaga diri tetap baik-baik saja adalah dengan cara menggunjingkannya.

Tapi, apakah mereka juga tak bergunjing? Jawabannya: mereka juga bergunjing. Setiap usai doa pagi, ketika saya sudah duduk di kursi kerja, mereka  masih asyik di dapur untuk mengobrol. Oh, tidak. Mereka tidak sekedar mengobrol. Mereka sedang bergunjing. Dari soal manager kredit mikro yang kemaruk soal amplop pelicin (padahal, kelakuan mereka soal amplop juga tak jauh berbeda) sampai gossip perselingkuhan para manager dengan pegawai-pegawai cantik di kantor cabang. Mereka bergunjing dengan begitu asyik. Sedangkan saya harus menahan kesal di depan sembari memasang wajah yang dibuat ‘sok asyik’ ketika menghadapi nasabah.

Saya jadi ingat salah satu satu scene film Annie Hall karya Woody Allen yang mashyur itu. Pada adegan film itu, Woody terlihat sedang sibuk mengantri di lobi bioskop. Di belakangnya, ada orang meyebalkan yang sok tahu dan nyerocos soal tokoh komunikasi terkenal bernama Marshall McLuchan. Woody tak tahan dengan bualan orang di belakangnya itu. Kemudian, Woody menarik orang tadi dan tiba-tiba mempertemukannya dengan Marshall McLuchan yang keluar dari balik pot. Saya terbahak ketika menonton adegan ini. Saya bayangkan, bilamana ketika orang sedang menggunjingkan orang lain, tiba-tiba orang yang digunjingkan itu langsung ada di hadapannya. Sepertinya menyenangkan. Berbicara di depan muka orang memang lebih terhormat ketimbang mengobrol dengan pantatnya. Tapi, mengobrol dengan pantat orang yang menyebalkan jauh lebih lucu ketimbang mengobrol di depan mukannya yang memaksamu untuk memaki.

Kerja Keras

Kerja Keras

 

Di ujung titian waktu,

Apakah yang lebih berharga ketimbang nasib baik, tuan?

Ketika kesedihanmu mulai tanak

Ketika harapanmu mulai melunak

Dan keringatmu telah jadi jinak

Apakah yang lebih karib dari nasib baik, tuan?

Manusia hanya bisa menunggu, sampai ajal dipetik

dari kebun sang khalik.

 

2017

Halusinasi

Halusinasi

 

Angin menyembunyikan risik suaramu

di antara gerumbul kemuning di selasar rumahku.

Tapi, kutahu, ia hanya sebatas uap perasaanku

Apakah rindu senantiasa menciptakan halusinasi, sayangku?

 

2017

Hutang

Kusnadi datang dengan tiba-tiba di hadapanku. Tanpa mengucapkan sepatah kata salam, Kusnadi lansung mengoceh seenaknya sendiri di depan mukaku. Beberapa tempias ludahnya melayang di udara. Beberapa mencemari baju yang kukenakan.

“Dasar pemerintah kafir! Negara ini telah dipimpin oleh pemimpin fasik yang sangat membenci islam. Ada banyak nilai-nilai islam yang telah diabaikan oleh rezim ini.”

Ia terus mengoceh dan aku tetap berusaha merasa baik-baik saja. Sekilas, penampilannya memang cukup mencolok.  Penampilan Kusnadi tidak seperti orang kebanyakan. Orang lain akan mudah mengira bahwa Kusnadi adalah orang alim dan ia memang orang alim. Kusnadi sering menghabiskan waktunya di mushola kecil yang ada di kampungku dan sesekali mengobrol dengan siapa saja. Ia memakai kopiah warna putih abu. Dengan baju koko warna hitam mengkilap. Ia juga memakai celana cingkrang di atas mata kaki. Dan satu tanda yang paling mencolok adalah tanda hitam lebam yang terpahat di dahinya.

“Aku baru saja membaca berita di Koran, bahwa Presiden pilihanmu baru saja menanda tangani surat perjanjian hutang luar negeri. Presiden pilihanmu itu tukang berhutang dan hanya bisa menjual asset negara ini.”

Aku diam saja dan berusaha merasa baik-baik saja.

“Presidenmu itu…”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, aku buru-buru memangkasnya,

“Kus, apakah uangnya sudah ada? Dua minggu yang lalu kau meminjam uang satu juta lima ratus dariku. Kau bilang untuk modal membeli kambing. Apakah maksudmu datang kemari untuk melunasi hutang itu?”

“Eh… Hehehe. Nganu.”

Aku masih diam dan mulai merasa tidak baik-baik saja.

setitik nila

setitik nila

 

aku menemukan setitik nila di pipimu

ketika hendak kuusap, kau melerai tanganku

“itu bukan darah, tuan

setitik nila itu adalah kenangan

kenanganmu yang selalu basah.”

 

aku urung mengusapnya,

hanya memandangi bukit pipimu dengan sehikmat mungkin

namun perlahan-lahan ada yang berubah

setitik nila itu melebar,

semakin lebar hingga menutupi seluruh wajahmu

kemudian lehermu yang jenjang

kemudian kakimu yang panjang

 

dan setelahnya, aku tak melihat apa-apa lagi

kecuali kesedihanku yang tergenang dalam kenangan serupa titik nila.

 

2017

Misalkan Kita Di Aleppo

Misalkan Kita Di Aleppo

Misakan kita di Aleppo: kau akan rebah
hidup dalam apartemen yang bolong
karena biji mortil dan pekik suara ganjil
akan terus terdengar sepanjang arus
waktu yang tak hendak digerus

Tak kau tahu di Aleppo: musim dingin
akan membekukan darah para bocah,
sekerlip lilin seumpama nafas
nyawa seringan kapas
dan duka terus berpilin dengan gegas
di antara salju dan sekerat daging yang mengeras

Di Aleppo,
Baba Noel adalah santa
dengan sakantung hadiah
berisi tawa?
Namun, patutkah kita berbahagia?
Sedang perang selalu nyala
di mata para tuan dan puan
yang sibuk bermain api neraka

Misalkan, misalkan kita di Aleppo:
Harapan akan memucat
orang-orang papa memanggul cacat
dengan tangan buntung
dengan kaki buntung
Hidup menjelma gumpalan awan mendung
Nasib hanya selarik lagu buat berkabung

Tapi, misalkan kita di Aleppo:
orang-orang melempar laknat
doa terus keluar dari mulut bertuah,
masihkah orang-orang berperang karena aqidah?
barangkali tidak, tuan
perang adalah perut yang lapar

2017

Meremas Kebenaran

Akan tiba suatu masa, ketika orang-orang lebih sibuk mempercayai kebenarannya sendiri ketimbang menghargai orang lain. Dan kita, telah sampai pada masa itu. Kita bisa melihat buktinya dari riuh hingar bingar interaksi orang-orang di jagad internet. Kebenaranku adalah yang utama. Akulah manusia paling unggul yang paling paham segala hal tentang dunia. Orang lain hanyalah orang bodoh. Akulah Zarathrustra, mereka hanya kaum paria. Perkataanku adalah sabda. Perkataan mereka hanya suara berisik.

Di masa ini, kita telah mengenal istilah post-truth—atau yang secara umum dikenal sebagai kebenaran setelah kebenaran. Kebenaran sintetis yang diciptakan oleh presepsi masing-masing dari setiap orang. Orang-orang menjadi begitu teguh memegang kebenaran yang ia ciptakan dan percayai itu. Mereka abai terhadap kebenaran-kebenaran umum yang sangat dekat diri mereka. Mereka lebih memilih untuk asyik-masyuk ke dalam diri mereka. Mereka dengan gegabah menolak kebenaran dari luar yang sesungguhnya telah terang benderang. Mereka lebih suka dengan kebenaran dalam bentuknya yang paling elok. Kebenaran yang membuat mereka memiliki kuasa dan segala hal yang ingin dimiliki manusia.

Namun, sialnya mereka terlalu teguh memenggam kebenaran itu. Mereka sesungguhnya sedang meremas kebenaran. Sampai remuk.

Pada akhirnya, yang mereka pegang hanyalah kekosongan.

Barangkali.

Bangkai Tikus

Pagi-pagi betul aku melihat Pak Cecep sedang menenteng bangkai tikus yang ukurannya sangat gemuk. Kulihat, ia membawanya dengan memegang bagian ekor, sesekali tersirat rasa jeri dari wajahnya yang sudah nampak menua. Pak Cecep kemudian melemparkan bangkai tikus itu pada unggunan sampah di dekat gardu, yang terdiri dari berbagai macam sampah: rumput kering, kresek, kertas minyak bekas, dan kaleng-kaleng sarden. Ia mengambil pemantik api dari saku celana pendeknya lalu membakar unggunan sampah itu. Api mulai menyala, perlahan asap mengepul. Aroma sangitnya sampai ke hidungku.

Aku penasaran. Aku memberanikan diri untuk menghampirinya.

“Pak, bangkai tikus itu dapat dari mana?”

“Dari dapur rumahku.”

“Mati karena apa, Pak?”

“Mati setelah memakan remah roti yang sudah kucampur dengan arak oplosan.”

“Wah, ampuh juga ya.”

Kami mengobrol sembari melihat api yang membakar unggunan sampah itu. Aku juga melihat daging bangkai tikus tadi telah merekah dalam kobaran api. Lamat-lamat, api pun mulai jinak. Pak Cecep tiba-tiba mengambil galah yang terletak di atas atap gardu. Ia mencolok bangkai tikus tadi dengan galah, dari sampah yang terbakar. Bangkai tikus tadi sudah hangus sekali.

“Buat apa Pak? Kok dikeluarkan?”

“Buat dibawa pulang.”

“Buat?”

“Di makanlah.”

Pak Cecep kemudian memasukkan bangkai tikus tadi ke dalam keresek yang ia bawa dari rumah. Ia berjalan pulang ke arah rumahnya. Setelah sosoknya tak nampak, aku sekonyong-konyong memuntahkan seluruh isi perutku ke dalam got di belakang gardu. Pak Cecep memang menjadi aneh setelah anaknya mati karena keracunan arak oplosan.