Tenggat Usia

Bagi sebagian orang, usia adalah tenggat. Usia merupakan batas yang dipatok pada halaman kehidupan manusia. Setiap kali melewati sebuah fase, tanpa sadar manusia telah menancapkan usia sebagai penanda. Ketika kita menjalani masa sekolah, misalnya. Sekolah dasar menjadikan usia sebagai sebuah prasyarat paling penting. Bocah yang usianya masih terlampau belia tentu saja belum diperbolehkan bersekolah di sekolah dasar. Menurut pandangan umum, usia berbanding lurus dengan kemampuan berpikir seseorang. Meskipun, untuk beberapa kasus prasyarat ini bisa ditolerir. Adik saya adalah contohnya. Ia masuk sekolah dasar ketika belum menginjak usia genap 6 tahun. Ia masuk SD terlalu cepat. Alasannya, ia ingin bersekolah dengan saya—kakaknya. Akhirnya, dengan bantuan seorang guru, keinginan adik saya terkabul. Adik saya bersekolah dan satu kelas dengan saya. Dan sialnya, ia mampu mendapatkan juara dengan nilai yang gemilang, sedangkan saya tidak. Karena ulah adik saya itu, saya selalu dikira tidak naik kelas karena bisa sebaya dalam pendidikan dengan adik saya. Sungguh, kesebalan yang selalu saya bawa hingga masa akhir sekolah SMA.

Untuk kasus adik saya, kita bisa mafhum bahwa itu adalah sebuah keberuntungan. Karena, artinya adik saya mendapatkan bonus waktu ketika sedang meniti karir. Saat ini dia sedang merasakan itu. Menduduki sebuah jabatan manajerial di usia yang cukup muda. Lain halnya dengan saya, yang sekarang masih sibuk menganggur. Dan diam-diam saya merasa bahwa usia telah menjadi tenggat.

Saya masih percaya bahwa saya bisa memperoleh pekerjaan yang saya inginkan. Meskipun banyak kawan yang berujar bahwa pekerjaan itu sangat sulit untuk dicapai dan punya masa tenggat usia. Biasanya dibatasi pada usia 26 tahun. Tak apa. Paling tidak saya masih memiliki sisa waktu dua tahun lagi. Tapi terkadang saya juga takut dan khawatir dengan usia.

Ada juga beberapa kawan yang merasa bahwa menikah juga selalu dihadang oleh perkara bernama: tenggat usia. Maka tak sedikit dari mereka yang dirasuki kekwatiran tentang cap tak laku dan lain sebagainya. Alih-alih memenuhi tenggat usia (wajar) menikah, mereka justru terjerembab dalam keharusan menikah dengan siapa pun. Inilah yang mengerikan. Menikah dengan siapa pun. Cinta adalah urusan paling belakang. Sebab cinta bisa dibiasakan.

Padahal, jika kita mau sedikit santai dalam memandang tenggat usia, kita barangkali bisa sedikit berlaku bijaksana.

Tenggat usia barangkali adalah batas. Tapi, apakah kita yakin bahwa usia adalah batas dari sebuah hidup?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s