Potret Dea Anugrah Sebagai Penulis Medioker

dea-anugrah
saya colong dari blog agrariafolk.wordpress.com, milik karib menulisnya

Dea Anugrah adalah seorang penulis laki-laki. Meskipun namanya mengesankan sebuah citra feminim yang menggemaskan, tetapi ia memang berjenis kelamin jantan. Dan ini adalah informasi yang pertama dan utama untuk mengenal Dea Anugrah lebih jauh. Ia menulis cerpen, puisi, dan kadangkala esai. Kini, ia bekerja di sebuah media daring yang kontennya selalu membikin mulut saya meracau: biadab! Dea adalah seorang pembenci karya buruk. Ia selalu melabeli para penulis karya buruk ini sebagai kaum medioker. Saya lantas mencari kata medioker di google. Medioker berarti adalah kecukupan, sedang-sedang, semenjana, atau yang biasa-biasa saja. Jadi, kurang lebih penulis medioker ialah seorang penulis yang karyanya biasa-biasa saja, dan bahkan terkesan buruk.

Tapi, sungguh, alih-alih melemparkan olok-olok itu pada penulis lain, Dea justru terserang virus medioker sendiri. Karyanya biasa saja dan buruk, menurut saya. Barangkali para fanboy atau fangirl Dea Anugrah akan segera mengumpati saya. Tapi, memang begitulah adanya.

Untuk lebih jelasnya, berikut saya paparkan beberapa alasan kenapa Dea Anugrah saya sebut sebagai penulis medioker. Ini adalah pembacaan saya atas dua buah karyanya—kumpulan cerpen Bakat Menggonggong dan kumpulan puisi Misa Arwah.

Cerita Manusia-Manusia Sampah

Saya membaca buku cerpen Bakat Menggongong sampai tuntas. Tapi, hanya tiga cerita yang mampu betah bertahan dalam benak saya selama berhari-hari.

Anda, tentu sudah sangat sering menemukan iklan tentang obat-obat mujarab yang mampu memberi tuah pada alat kejantanan lelaki, baik di tv, koran atau pun selebaran-selebaran yang terserak di jalanan. Para pembuat iklan semacam itu, sesungguhnya adalah  manusia-manusia jahat yang gemar usil dengan aib seseorang. Mereka pikir, semua orang akan rela mengumbar aib itu? Bahwa mereka terserang impotensi, bahwa mereka loyo seperti lontong basi? Saya kira, ini adalah sebuah bentuk kejahatan dalam varian lain.

Di tangan Dea Anugrah, masalah seperti ini, masalah tentang kejantanan seorang pria, bisa digubah menjadi cerita yang menarik nan lucu. Anda bisa menemukannya pada cerpen berjudul “Masalah Rumah Tangga”. Anda dikenalkan dengan seorang penulis bernama Nur Azis yang dibikin senewen oleh proyek tulisannya. Dan tentu saja, anda juga berkenalan dengan Linda, istri Nur Azis yang setia menemani si penulis berkantung mata tebal itu. Sungguh, cerita ini sebenarnya amat sepele. Hanya tentang seorang penulis stress yang diam-diam punya masalah dengan bagian selakangannya. Tapi, Dea berhasil membikin cerita ini menjadi terkesan estetik.

Cerita sepele lain juga bisa ditemukan pada cerita “Kemurkaan Pemuda E”. Cerita ini bahkan lebih sepele ketimbang cerpen “Masalah Rumah Tangga’. Apakah seorang pemuda yang membuka tutup toples acar mentimun itu penting untuk disimak? Jawabannya: ditangan Dea, semua bisa menjadi mungkin. Pemuda E bukan siapa-siapa. Malahan, dari penuturan sang narrator, Pemuda E tak lebih dari seorang pecundang yang berusaha menikmati sarapan paginya dengan perasaan baik-baik saja. Dan kisah semacam itu bisa menjadi penting di tangan Dea.

Cerita selanjutanya adalah cerita yang selalu membikin saya geli. Cerita ini semakin menebalkan kecurigaan saya perihal aib tersembunyi dari Dea Anugrah. Silahkan saja Anda baca sendiri cerpen berjudul “Perbedaan antara Baik dan Buruk”. Anda pasti tahu, apa yang saya maksudkan.

Dan dari tiga cerita yang saya sukai itu, Dea sebenarnya hanya menceritakan tokoh-tokoh manusia sampah. Peran hidup mereka tak cukup signifikan bagi dunia yang kian hari kian lapuk ini. Namun, entah mengapa, mereka seperti tokoh heroik yang ingin berbicara dari sudut pandang yang lain.

Puisi-Puisi Daur Ulang Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad adalah kunci. Barangsiapa yang ingin menulis sebuah esai atau sebuah puisi atau sebuah prosa atau apalah, dengan nuasa puitik sekaligus subtil, maka ia harus mencuri kemampuan penulis gaek bernama Tuan Goenawan Mohamad yang agung dan adiluhung semua tulisannya.

Dea Anugrah agaknya menyadari hal ini. Dan ia menerapkannya dengan baik pada puisi-puisi yang termaktub dalam buku Misa Arwah.

Pada halaman awal, Anda sudah disuguhi dengan puisi “Teringat Kuburan di Desa”.

Teringat Kuburan di Desa

selembar daun jati tua

jatuh

di atas sebuah makam purba.

o, pengetahuan, mengapa manusia

ingin bahagia?

/2011

Sejenak, setelah membacanya, Anda akan teringat sopotong kalimat dalam puisi Dingin Tak Tercatat karya Tuan Goen. Bunyinya hampir mirip:

Tuhan, kenapa kita bisa bahagia?

Sampai di situ, Dea Anugrah memang sedang mencuri logat khas Tuan Goen. Tapi, tentu di puisi lainnya, Dea berbicara dengan logat lain. Dari sebagian besar puisinya, Dea sering memakai beberapa metafora-metafora yang unik. Dan, beberapa mampu membetot rasa kagum. Terkadang, Dea juga berlagak seperti seorang Snobis, ketika ia memamerkan nama-nama seperti Vivian Bullwinkel dan Marx Grucho. Itu sah-sah saja sebenarnya. Kita mahfum, karena Dea Anugrah ini adalah jebolan jurusan Filsafat UGM. Sehingga, lazim saja jika ia ingin sedikit pamer. Dan saya termasuk yang terberkati karena kelakuannya itu. Saya jadi ingin lebih tahu banyak perihal konsumsi bacaan Dea Anugrah. Sampai-sampai ia bisa menulis kredo dengan metafor meriah, yang berbunyi seperti ini:

“Bahasa adalah tebing-tebing terjal tipis udara,

perangkap sang Ajal di makam raja-raja,

rahasia alkemi yang dikawal ajak berkepala tiga.

Maka sebuah sajak, seharusnya

tak mengulang yang telah ada.”

 

Penutup

Itulah beberapa alasan mengapa saya menyebut Dea Anugrah sebagai penulis medioker yang hanya mampu menghasilkan karya yang biasa saja dan buruk. Ya, tentu saja saya sebal dengan Dea Anugrah. Dalam usia yang masih kinyis-kinyis itu, mengapa ia bisa menulis seperti itu. Menulis dengan cara mengubah hal sepele menjadi terkesan estetik. Menulis dengan cara mengubah cerita banci selebor menjadi cerita yang patut disimak. Menulis dengan mengubah cerita seorang pecundang menjadi cerita seorang hero bijaksana. Menulis puisi dengan mengadopsi beberapa metafor yang unik dan menyebalkan.

Kenapa kamu bisa menulis seperti ini, wahai Dea Anugrah?

Saya sebal.

Mungkin lebih tepatnya iri.

Dea Anugrah, kamu seorang penulis medioker!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s