Media, Millenial & Saya

iStockphoto.com

Pada suatu malam Sabtu, saya menerima sebuah email. Emailnya berisi sepotong undangan untuk menghadiri sebuah acara psikotest di gedung Sentul Internasional Bogor.Undangan itu dari NET TV. Sebuah stasiun televisi tersohor, yang usianya sangat muda tetapi sudah jadi candu bagi masyarakat, khususnya kaum muda. Perasaan saya waktu itu, datar saja. Karena, sebenarnya saya tak terlalu berharap banyak untuk bisa bekerja di NET TV. Namun, NET TV memang menarik. Saya apply di website NET TV itu pun juga sekedar iseng saja. Saya melihat informasinya sekilas di NET TV yang jarang saya tonton. Itu pun, yang mendaftarkan juga bukan saya, tapi pacar saya.  Saya mendapat undangan, sedangkan pacar saya tidak. Padahal ia juga mendaftar. Taka apa, anggap saja saya perwakilannya.

Maka, segenap persiapan saya lakukan, meskipun iseng. Mencetak undangan dan ID card. Mempersiapkan alat tulis dan papan soal. Pada hari H, berangkatlah saya ke gedung Sentul Bogor yang pernah dipakai Justin Bieber untuk manggung itu. Sesampainya di sana, saya tiba-tiba terserang migrain. Saya pusing melihat lautan manusia. Gedung Sentul itu sudah seperti sarang semut.

Sial dan lucunya, seperti ada hal yang saya lupakan. Saya mencoba mengingat, kira-kira apa itu. Dan benarlah. Saya lupa membawa fotokopi ijazah. Salah satu syarat utama yang wajib dibawa. Tapi, tak apa. Saya berusaha tenang. Toh, saya hanya ingin merasakan pengalaman ikut psikotest di NET TV.

Ketika sudah masuk gedung, saya sebisa mungkin memilih tempat yang tak terlalu jauh dari panggung. Yang memungkinkan saya melihat para crew NET TV yang kece-kece itu. Ada banyak crew NET TV berseliweran. Beberapa di antaranya bahkan ada dari CREW abal-abal NET TV, yang konon adalah para pemain Sitkom ditayangkan di NET TV. Saya baru tahu info itu dari salah satu peserta. Yang saya tahu dari NET TV hanyalah nama Wisnu Utama. CEO yang sering disebut sebagai pelopor media paling sukses di Indonesia.

Acara dibuka dengan berbagai macam acara pemanis. Bagi doorprize, kesan peserta, dan sedikit perkenalan tentang NET TV. Sudah cukup, saya merasa mulai bosan.

Kebosanan saya mati ketika Wisnu Utama muncul untuk melakukan pidato sambutannya. Inilah yang saya tunggu-tunggu. Menonton seorang pelopor media tersohor langsung dari dekat. Ia tampil dengan gaya khas anak muda yang santai. Sama sekali tak menunjukkan kekakuan. Gayanya sungguh keren. Pantas saja ia sering dibandingkan dengan para CEO dunia. Seperti Bill Gates atau Steve Jobs.

Wisnu Utama pertama-tama berbicara tentang latar belakang berdirinya NET TV. Niatnya itu didasari atas kecemasannya melihat konten media televise yang itu-itu saja. Sebelum mendirikan NET TV, Wisnu menggandeng lembaga riset sekelas Nielsen untuk melakukan riset mengenai kecenderungan konsumsi tayangan masyarakat di Indonesia. Hasilnya, sebagian besar media televisi masih menyasar masyarakat penggemar sinetron a la opera sabun dan acara-acara musik popular (yang konon disebut sebagai sinetron lebay dan acara music alay). Sedangkan, pada ceruk lainnya, masyarakat kita juga gemar memamah tayangan TV berita yang sering menayangkan berita politik (tapi, sialnya. Konten berita mereka sangat tendisius dan tidak sehat). Dan tentunya, anda pasti tahu stasiun TV mana saja yang menyasar segmen konsumen seperti itu.

Wisnu sebisa mungkin mencari peluang pada ceruk konsumen yang belum terisi. Kira-kira, ceruk sempit mana yang belum terisi. Pada titik ini, ternyata Wisnu merasa khilaf. Ia seperti mengabaikan sebuah hal besar. Sisa ceruk itu tidak sempit. Ia masih lapang. Pasar itu adalah pasar yang sangat luas dan punya masa depan yang panjang. Pasar itu adalah: generasi millennial dan kelas menengah, yang pada era ini jumlahnya cukup massif. Golongan inilah yang seringkali disebut nitizen itu. Generasi digital yang gemar menenteng gawai canggih kemana pun mereka pergi. Generasi yang sering membikin gaduh jagad social media dengan berbagai macam isu. Dari yang cerdas sampai yang dungu. Generasi milenial adalah mereka yang terlahir pada rentang tahun 1980 sampai tahun 2000.

Wisnu percaya bahwa generasi millennial dan masyarakat kelas menengah adalah segmen yang potensial. Wisnu tak boleh mengecewakan mereka. Maka oleh karenanya, menurut Wisnu, NET TV harus memproduksi konten menarik yang juga mengandung edukasi. Itulah prinsip dasar dari NET TV. Selain itu, NET TV juga mengembangkan platform-platform digital untuk menjaring generasi digital ini. Dan usaha Wisnu tak sia-sia. NET TV baru berusia sekitar 3 tahun, dan sudah menjadi salah satu telivisi yang menjadi candu bagi para penontonnya.

Saya bersyukur sudah bisa mendapat secuil ilmu dari empunya bisnis media itu. Sebuah bisnis selalu berbeda bila ia mendapat sentuhan orang cerdas.

Sedangkan untuk urusan psikotest. Saya mengabaikannya. Alih-alih mengerjakan soal psikotes pauli secara telaten. Saya justru tertidur karena kantuk yang tertahan sejak pukul 2 dinihari.

NET TV adalah TV orang cerdas dan berkelas?

Seorang kawan pernah bercerita bahwa ia sebal dengan perkataan kawannya soal NET TV.

 “NET TV itu channel elegan. Bukan channel anak-anak alay.”

Menurutnya, pernyataan semacam itu justru membuat gap kelas yang tegas: antara kelas menengah ke bawah yang alay dan mudah digiring presepsinya dengan kelas menengah ke atas yang jumawa dengan kadar intelektualitasnya. Dia tidak suka dengan pola pikir semacam itu. Saya juga setuju dengan pendapat kawan saya itu. Seharusnya memang, tayangan yang berkualitas tak semata-mata diproduksi oleh media. Tapi, tayangan berkualitas selalu disaring dari saringan manusia cerdas. Tanpa kelas.

Lantas apa hubungan semua ini dengan saya?

Tidak ada. Saya bukan siapa-siapa. Mungkin saya adalah bagian dari generasi Milenial. Tapi, sungguh, saya bukanlah pasar potensial yang sering disebut oleh Wisnu Utama. Saya adalah saya. Saya adalah orang yang jarang menonton televisi. Kecuali untuk menonton serial kartun Spongebob. Sudah cukup. Hanya dengan itu, saya sudah bisa bahagia.

Selamat berjuang para generasi Millenial. Perjuangan kalian masih panjang!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s