Menjenguk Hutan

hutan
hutan hujan, diambil dari national geographic

Jika hutan adalah ibu.
Kita manusia memperkosa ibunya.
Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik.

 

Ada, tak ada manusia mestinya

Pohon-pohon itu tetap tumbuh.

—Bebal, Sisir Tanah

 

Hutan adalah tempat merenung bagi saya. Setiap pagi, setelah menonton film Spongebob dan mengudap semangkuk bubur ayam, saya mencoba untuk menyempatkan diri pergi ke hutan di belakang rumah. Memakai celana training, kaos oblong, dan sepasang kasut butut. Berjalan santai saja, terkadang juga lari-lari kecil. Barangkali juga agar ada sedikit bulir keringat yang keluar dari pori kulit saya. Sesampainya di hutan, saya duduk sejenak, menghela napas dan menghirup udara basah hutan. Segar rasanya. Saya juga gemar sekali memunguti biji pinus yang sungguh unik bentuknya itu. Saya juga suka duduk di rumput sembari dinaungi pohon-pohon berusia puluhan tahun. Sejenak, saya merenung. Semacam lamunan yang melenakan. Keindahan ini begitu puitis. Pagi di hutan, merupakan suasana yang sempurna.

Ternyata, kebahagiaan mudah sekali tercipta dari suasana hutan yang bening. Syukurlah, saya tinggal di sebuah desa yang masih asri, yang diapit oleh bebukitan dan hutan-hutan kecil. Jiwa saya masih terselamatkan.

Saya mencoba untuk menikmati kesunyian hutan. Suara-suara tonggeret yang nyaring. Juga ciap-ciap burung yang tak saya ketahui jenisnya. Saya biasanya  juga melihat ricik aliran kecil air di celah bebatuan yang dilebati lumut. Sungguh, ini seperti sebuah piknik yang mewah.

Semoga, kelak, anak-cucu-cicit saya juga bisa merasakan kebahagiaan jenis ini. Meskipun, saya tak pernah yakin apakah harapan saya akan berumur panjang. Saya berpikir seperti itu, setelah saya disuguhi dengan data-data yang menyedihkan tentang hutan.

Kota Bandung, yang hijau dan teduh itu. Yang dahulu dikenal sebagai kota seribu bunga (inilah alasan kenapa Bandung disebut sebagai kota kembang, bukan karena perempuannya cantik seperti kembang), kini telah menjelma menjadi kota metropolitan yang gerah. Setidaknya, ada beberapa titik hutan yang mulai terkikis di Bandung. Salah satunya yang paling mengkhawatirkan adalah hutan kota Babakan Siliwangi. Hutan ini mulai sakit. Hutan ini terancam hilang karena pengelolaan yang salah. Entah, sengaja atau tak disengaja. Namun, akibatnya sungguh menyedihkan. Telah terjadi penurunan muka air tanah dari 22,99 meter menjadi 14,35 meter. Maka, tak ayal ini pun menganggu ekosistem hutan. Ada 6 jenis burung yang migrasi karena ini. Kota Bandung ditaksir mengalami kerugian mencapai Rp. 10 Milyar karena masalah hutan Babakan Siliwangi ini.

Itu hanya dalam skala kota Bandung. Bagaimana jika kita bicara dalam skala Indonesia?

Menurut data yang dihimpun oleh lembaga Greenpeace Indonesia pada tahun 2013, Indonesia kehilangan hutan seluas 1,13 juta HA setiap tahunnya. Dari rentang tahun 2009 hingga 2013. Belum lagi masalah penggundulan hutan yang mencapai 4,5 juta HA.

Baiklah, itu adalah data pada tahun 2013. Namun, kita tahu bahwa pada tahun 2015 yang lalu Kalimantan dilanda kebakaran hutan hebat. Dan ini tidak terjadi di Kalimantan saja, tetapi juga terjadi di Sulawesi dan Papua. Dari data yang dihimpun oleh Katadata, setidaknya pada Juni sampai Oktober 2015 Indonesia telah kehilangan 2,6 juta HA lahan hutan suburnya. Angka ini stara dengan 4,5 kali lipat luas pulau bali. Jika ditaksir, dampak kerugian dari bencana ini mencapai Rp. 221 trilliun.

Sedangkan, pengembangan hutan menurut fungsinya juga timpang. Secara umum hutan dibagi tiga menurut fungsinya. Yaitu: hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi. Hutan konservasi ialah hutan yang dimanfaatkan sebagai suaka konservasi bagi flora dan fauna. Hutan lindung adalah hutan yang difungsikan untuk menjaga keseimbangan alam, khususnya untuk menjaga siklus air. Sedangkan hutan produksi, adalah hutan yang tentu saja dimanfaatkan utnuk produksi. Hutan yang pohonnya untuk dipanen dan dijadikan bubur kertas. Hutan yang ditanami pohon-pohon sawit yang banyak menghisap air itu. Hutan produksi, adalah hutan menu favorit para tuan dan puan berkantong tebal. Jadi, wajar jika hutan produksi pengembangannya lebih gencar, ketimbang hutan lindung atau hutan konservasi. Entah, kenapa kebahagiaan manusia kebanyakan selalu jatuh pada deret angka.

Padahal, mereka juga bisa menikmati kebahagiaan yang saya ciptakan setiap pagi.

Pergi ke hutan untuk melamun. Menjenguk hutan.

Tapi, saya tak tahu lagi, mungkinkan saya masih bisa berharap. apakah kelak, anak-cucu-cicit saya dan anda masih bisa menjenguk hutan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s