Surat Terbuka Untuk Cania Citta Irlanie

feminis
perempuan bisa jadi apa saja!

Apa kabar Dik Cania yang baik hatinya?

Saya harap Dik Cania tetap dalam keadaan baik-baik saja dan selalu semangat dalam membela gagasannya. Maafkan saya sebelumnya, jika terlampau lancang menuliskan surat terbuka ini untukmu. Sebab, apalah saya ini—cuma pemuda kapiran. Namun, sejak pertama kali mengenal Dik Cania dari video seri Pamitya Meeting yang digagas oleh Mz Arman Dhani—penulis hipster idola saya itu—saya langsung terserang rasa kagum. Ternyata, di luar sana masih banyak perempuan muda dengan pemikiran cemerlang. Dik Cania lah contohnya.

Meskipun dalam video itu Dik Cania lebih banyak becandanya, tetapi diam-diam saya mendaras gagasan-gagasan yang Dik Cania lontarkan. Sebagian besar menarik. Dan saya bersepekat untuk itu. Maka, tak lama bagi saya untuk berusaha ingin mengenal Dik Cania lebih jauh .Saya pun mencari akun Facebook Dik Cania dan bertemanlah saya dengan Dik Cania. Saya cukup senang bisa berteman dengan Dik Cania di jejaring Facebook (meskipun itu hanya sebatas pertemanan maya, saya sudah senang. Apalagi jika kelak bisa kopdar dan berdiskusi).

Setelah pertemanan di Facebook terjalin, maka secara otomatis saya pun bisa rutin menyimak status Dik Cania, yang tentu sebagian besar selalu berisi gagasan-gagasan menarik. Dari status-status itu, saya bisa menarik kesimpulan (secara gegabah tentu saja) bahwa Dik Cania ini memang seorang liberalis yang kaffah. Tetapi Dik Cania, saya mohon maaf sekali lagi. Ada beberapa gagasan dari status Facebook Dik Cania yang mengganggu pikiran saya. Berikut saya bahas satu persatu. Dan perlu saya tekankan bahwa ini hanyalah sebatas kegelisahan saya. Apabila dirasa ada paparan saya yang salah atau gagal paham, silahkan dikonfirmasi lagi.

Tentang Laissez Faire

Di tengah gemuruh masa menjelang pencoblosan Pilkada Jakarta. Tiba-tiba saya membaca status Dik Cania, yang bunyinya begini:

Gerakan anti politik uang itu dasar paradigmanya sama dengan gerakan anti prostitusi; Musuh besar laissez faire.

Pernyataan itu langsung mengganggu pikiran saya. Apakah laissez faire memang begitu bebas, sehingga benar-benar tanpa batas? Apakah pemahaman saya tentang laissez faire selama ini salah? Saya pun ikut menuliskan komentar di status Dik Cania itu, dan Dik Cania membalas seperti ini:

Market has no limit. Every individual may sell and buy anything

Ternyata selama ini pemahaman saya tentang laissez faire memang salah.

Tak beberapa lama kemudian, Dik Cania juga membagikan sebuah link tentang ulasaan buku yang membahas laissez faire ini. Saya membacanya. Dengan sedikit pikiran dan perasaan ganjil. Ternyata, laissez faire memang serampangan. Agamanya tetap uang. Duh, saya sedih.

Market has no limit. Jika memang demikian cara Laisse Faire bekerja, maka premis yang sama juga bisa saya pakai untuk menghalalkan “penjualan budak di NTT”. Toh, pasar tak punya batas. Jadi, tentu saja semua boleh dijual. Apakah memang begitu?

Saya jadi ingat kata Einsten. Perbedaan antara jenius dan idiot adalah: jenius ada batasnya, sedangkan idiot tidak.

Tentang Keberpihakan Media dan Bias Kelas

Kegelisahan saya selanjutnya ialah ketika Dik Cania menulis seperti ini:

Nyuruh media netral sama kayak nyuruh pegulat gak ngelakuin kekerasan, dia kudu cipika-cipiki aja di atas ring

Saya sepakat dengan status Dik Cania ini. Memang tak ada media yang netral. Mereka pasti berpihak pada golongan tertentu. Tapi, ketika saya menuliskan pendapat saya bahwa seharusnya media membuat pernyataan redaksional atau manifesto akan keberpihakannya, Dik Cania kemudia menulis seperti ini.

ya ampuuun terus gunanya dia bikin artikel apa kalo musti ditulis gede-gede, “saya dukung ini” 😂 Ibarat film Logan yang bikin disclaimer, “Ini film tentang wolverine baru, X-24, dan di sini Logannya mati”

Dik, tak semua masyarakat kita paham dan sadar akan keberpihakan media. Sebagian mereka mungkin adalah kelas menengah ke bawah yang mudah sekali digiring. Ketika Dik Cania menuliskan komentar tersebut, Dik Cania seperti secara tersirat menunjukkan posisi kelas Dik Cania. Semacam varian laku politik identitas. Dik Cania seperti abai kelas. Padahal saya tahu Dik Cania ini salah satu pembaca Chantal Mouffe yang pemikir post marxist itu. Patner sejati dari Laclau Mouffe. Oiya, saya lupa, mereka sebenarnya seorang liberal yang bertopeng marxist. Mereka berdua kan pemikir post marxist yang malah menganjurkan upaya untuk meninggalkan konfrotasi kelas dan memilih jalan demokrasi radikal.

Tapi, semoga saja dugaan saya ini salah.

Oiya, soal keberpihakan media silahkan baca link ini dan ini

Tentang Feminisme

Oiya, kalau tentang feminisme, sebenarnya saya tak ingin berkomentar banyak soal ini. Sebab, sependek pandangan saya, di beranda akun facebook Dik Cania tak terlalu berbusa ketika bicara feminisme. Saya setuju dengan cara Cania ketika bicara feminisme. Dik Cania fokus pada aras perjuangan ekualitas gender. Tidak melulu soal otorisasi tubuh dan hal-hal yang justru membuat kajian feminisme jadi sebatas perkara tubuh perempuan.

Semoga Dik Cania juga tetap ajeg dalam posisi itu. Tidak seperti feminis di lapak sebelah yang mudah marah dan terkesan insecure itu. Saya pernah menyatakan pendapat saya tentang feminis radikal dan pandangan saya tentang feminis yang ideal itu seperti apa, eh mereka marah. Bahkan sempat ada yang bilang begini:”cowok kayak rakhmad ni, yang bikin gue bertahan jadi perawan tua.”

Di situ terkadang saya merasa nelangsa

Ketika saya menjelaskan duduk perkaranya, ia lantas menghapus komentarnya.

Saya ini bukan misoginis, bukan seksis, bukan lelaki yang mendewakan patriarki, dan bukan lelaki tolol yang gemar menggesek pantat perempuan di dalam transportasi umum. Tetapi, kenapa mereka begitu rentan? Eh maaf Dik Cania, saya kebablasan. Itu urusan mereka, bukan urusan Dik Cania. Hehehe.

Eiya, tapi apakah Dik Cania setuju dengan aborsi?

Jika jawabannya iya, kenapa alasannya?

Saya pun setuju dengan aborsi. Tapi tentu saja dengan catatan alasan tertentu. Kesehatan, misalnya.

Tetapi jika ada aborsi di luar alasan itu, saya menolaknya. Karena?

Dik Cania, saya pernah baca buku Rahim karya Fahd Djibran yang menceritakan betapa mengerikannya aborsi itu. Itu merupakan pembunuhan. Ngeri pokoknya. Jadi, saya berangkat dari dasar itu.

Tentang Agnostik

Seperti halnya orang beriman lain, seorang agnostik pun juga punya iman. Iman mereka tentu saja agnostik itu sendiri. Fenomena nyata yang ada di masyarakat. Bukti-bukti ilmiah. Jadi, tentu saja saya sangat menghargai iman Dik Cania itu. Saya sepakat, karena saya adalah penganggum ide ide pluralisme a la Ahmad Wahib. Dik Cania bebas untuk tidak percaya dengan surga dan neraka. Saya menghargai itu dan saya bersepakat.

Tentang Liberalisme

Maafkan saya Dik Cania. Jika memang liberalisme yang Dik Cania imani itu justru membuat orang jadi abai kelas dan membuat uang jadi tuhan, maafkan saya, saya akan lebih dulu murtad sebelum mengimaninya.

*

Oke. Sudah dulu. Saya berhenti menulis surat ini di sini.

Semoga berkenan.

Silahkan dikonfirmasi bila ada Logical Fallacy dalam surat ini.

Salam,

Rakhmad Hidayatulloh Permana

Pemuda yang mengagumimu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s