Tenggat Usia

Bagi sebagian orang, usia adalah tenggat. Usia merupakan batas yang dipatok pada halaman kehidupan manusia. Setiap kali melewati sebuah fase, tanpa sadar manusia telah menancapkan usia sebagai penanda. Ketika kita menjalani masa sekolah, misalnya. Sekolah dasar menjadikan usia sebagai sebuah prasyarat paling penting. Bocah yang usianya masih terlampau belia tentu saja belum diperbolehkan bersekolah di sekolah dasar. Menurut pandangan umum, usia berbanding lurus dengan kemampuan berpikir seseorang. Meskipun, untuk beberapa kasus prasyarat ini bisa ditolerir. Adik saya adalah contohnya. Ia masuk sekolah dasar ketika belum menginjak usia genap 6 tahun. Ia masuk SD terlalu cepat. Alasannya, ia ingin bersekolah dengan saya—kakaknya. Akhirnya, dengan bantuan seorang guru, keinginan adik saya terkabul. Adik saya bersekolah dan satu kelas dengan saya. Dan sialnya, ia mampu mendapatkan juara dengan nilai yang gemilang, sedangkan saya tidak. Karena ulah adik saya itu, saya selalu dikira tidak naik kelas karena bisa sebaya dalam pendidikan dengan adik saya. Sungguh, kesebalan yang selalu saya bawa hingga masa akhir sekolah SMA.

Untuk kasus adik saya, kita bisa mafhum bahwa itu adalah sebuah keberuntungan. Karena, artinya adik saya mendapatkan bonus waktu ketika sedang meniti karir. Saat ini dia sedang merasakan itu. Menduduki sebuah jabatan manajerial di usia yang cukup muda. Lain halnya dengan saya, yang sekarang masih sibuk menganggur. Dan diam-diam saya merasa bahwa usia telah menjadi tenggat.

Saya masih percaya bahwa saya bisa memperoleh pekerjaan yang saya inginkan. Meskipun banyak kawan yang berujar bahwa pekerjaan itu sangat sulit untuk dicapai dan punya masa tenggat usia. Biasanya dibatasi pada usia 26 tahun. Tak apa. Paling tidak saya masih memiliki sisa waktu dua tahun lagi. Tapi terkadang saya juga takut dan khawatir dengan usia.

Ada juga beberapa kawan yang merasa bahwa menikah juga selalu dihadang oleh perkara bernama: tenggat usia. Maka tak sedikit dari mereka yang dirasuki kekwatiran tentang cap tak laku dan lain sebagainya. Alih-alih memenuhi tenggat usia (wajar) menikah, mereka justru terjerembab dalam keharusan menikah dengan siapa pun. Inilah yang mengerikan. Menikah dengan siapa pun. Cinta adalah urusan paling belakang. Sebab cinta bisa dibiasakan.

Padahal, jika kita mau sedikit santai dalam memandang tenggat usia, kita barangkali bisa sedikit berlaku bijaksana.

Tenggat usia barangkali adalah batas. Tapi, apakah kita yakin bahwa usia adalah batas dari sebuah hidup?

Advertisements

Potret Dea Anugrah Sebagai Penulis Medioker

dea-anugrah
saya colong dari blog agrariafolk.wordpress.com, milik karib menulisnya

Dea Anugrah adalah seorang penulis laki-laki. Meskipun namanya mengesankan sebuah citra feminim yang menggemaskan, tetapi ia memang berjenis kelamin jantan. Dan ini adalah informasi yang pertama dan utama untuk mengenal Dea Anugrah lebih jauh. Ia menulis cerpen, puisi, dan kadangkala esai. Kini, ia bekerja di sebuah media daring yang kontennya selalu membikin mulut saya meracau: biadab! Dea adalah seorang pembenci karya buruk. Ia selalu melabeli para penulis karya buruk ini sebagai kaum medioker. Saya lantas mencari kata medioker di google. Medioker berarti adalah kecukupan, sedang-sedang, semenjana, atau yang biasa-biasa saja. Jadi, kurang lebih penulis medioker ialah seorang penulis yang karyanya biasa-biasa saja, dan bahkan terkesan buruk.

Tapi, sungguh, alih-alih melemparkan olok-olok itu pada penulis lain, Dea justru terserang virus medioker sendiri. Karyanya biasa saja dan buruk, menurut saya. Barangkali para fanboy atau fangirl Dea Anugrah akan segera mengumpati saya. Tapi, memang begitulah adanya.

Untuk lebih jelasnya, berikut saya paparkan beberapa alasan kenapa Dea Anugrah saya sebut sebagai penulis medioker. Ini adalah pembacaan saya atas dua buah karyanya—kumpulan cerpen Bakat Menggonggong dan kumpulan puisi Misa Arwah.

Cerita Manusia-Manusia Sampah

Saya membaca buku cerpen Bakat Menggongong sampai tuntas. Tapi, hanya tiga cerita yang mampu betah bertahan dalam benak saya selama berhari-hari.

Anda, tentu sudah sangat sering menemukan iklan tentang obat-obat mujarab yang mampu memberi tuah pada alat kejantanan lelaki, baik di tv, koran atau pun selebaran-selebaran yang terserak di jalanan. Para pembuat iklan semacam itu, sesungguhnya adalah  manusia-manusia jahat yang gemar usil dengan aib seseorang. Mereka pikir, semua orang akan rela mengumbar aib itu? Bahwa mereka terserang impotensi, bahwa mereka loyo seperti lontong basi? Saya kira, ini adalah sebuah bentuk kejahatan dalam varian lain.

Di tangan Dea Anugrah, masalah seperti ini, masalah tentang kejantanan seorang pria, bisa digubah menjadi cerita yang menarik nan lucu. Anda bisa menemukannya pada cerpen berjudul “Masalah Rumah Tangga”. Anda dikenalkan dengan seorang penulis bernama Nur Azis yang dibikin senewen oleh proyek tulisannya. Dan tentu saja, anda juga berkenalan dengan Linda, istri Nur Azis yang setia menemani si penulis berkantung mata tebal itu. Sungguh, cerita ini sebenarnya amat sepele. Hanya tentang seorang penulis stress yang diam-diam punya masalah dengan bagian selakangannya. Tapi, Dea berhasil membikin cerita ini menjadi terkesan estetik.

Cerita sepele lain juga bisa ditemukan pada cerita “Kemurkaan Pemuda E”. Cerita ini bahkan lebih sepele ketimbang cerpen “Masalah Rumah Tangga’. Apakah seorang pemuda yang membuka tutup toples acar mentimun itu penting untuk disimak? Jawabannya: ditangan Dea, semua bisa menjadi mungkin. Pemuda E bukan siapa-siapa. Malahan, dari penuturan sang narrator, Pemuda E tak lebih dari seorang pecundang yang berusaha menikmati sarapan paginya dengan perasaan baik-baik saja. Dan kisah semacam itu bisa menjadi penting di tangan Dea.

Cerita selanjutanya adalah cerita yang selalu membikin saya geli. Cerita ini semakin menebalkan kecurigaan saya perihal aib tersembunyi dari Dea Anugrah. Silahkan saja Anda baca sendiri cerpen berjudul “Perbedaan antara Baik dan Buruk”. Anda pasti tahu, apa yang saya maksudkan.

Dan dari tiga cerita yang saya sukai itu, Dea sebenarnya hanya menceritakan tokoh-tokoh manusia sampah. Peran hidup mereka tak cukup signifikan bagi dunia yang kian hari kian lapuk ini. Namun, entah mengapa, mereka seperti tokoh heroik yang ingin berbicara dari sudut pandang yang lain.

Puisi-Puisi Daur Ulang Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad adalah kunci. Barangsiapa yang ingin menulis sebuah esai atau sebuah puisi atau sebuah prosa atau apalah, dengan nuasa puitik sekaligus subtil, maka ia harus mencuri kemampuan penulis gaek bernama Tuan Goenawan Mohamad yang agung dan adiluhung semua tulisannya.

Dea Anugrah agaknya menyadari hal ini. Dan ia menerapkannya dengan baik pada puisi-puisi yang termaktub dalam buku Misa Arwah.

Pada halaman awal, Anda sudah disuguhi dengan puisi “Teringat Kuburan di Desa”.

Teringat Kuburan di Desa

selembar daun jati tua

jatuh

di atas sebuah makam purba.

o, pengetahuan, mengapa manusia

ingin bahagia?

/2011

Sejenak, setelah membacanya, Anda akan teringat sopotong kalimat dalam puisi Dingin Tak Tercatat karya Tuan Goen. Bunyinya hampir mirip:

Tuhan, kenapa kita bisa bahagia?

Sampai di situ, Dea Anugrah memang sedang mencuri logat khas Tuan Goen. Tapi, tentu di puisi lainnya, Dea berbicara dengan logat lain. Dari sebagian besar puisinya, Dea sering memakai beberapa metafora-metafora yang unik. Dan, beberapa mampu membetot rasa kagum. Terkadang, Dea juga berlagak seperti seorang Snobis, ketika ia memamerkan nama-nama seperti Vivian Bullwinkel dan Marx Grucho. Itu sah-sah saja sebenarnya. Kita mahfum, karena Dea Anugrah ini adalah jebolan jurusan Filsafat UGM. Sehingga, lazim saja jika ia ingin sedikit pamer. Dan saya termasuk yang terberkati karena kelakuannya itu. Saya jadi ingin lebih tahu banyak perihal konsumsi bacaan Dea Anugrah. Sampai-sampai ia bisa menulis kredo dengan metafor meriah, yang berbunyi seperti ini:

“Bahasa adalah tebing-tebing terjal tipis udara,

perangkap sang Ajal di makam raja-raja,

rahasia alkemi yang dikawal ajak berkepala tiga.

Maka sebuah sajak, seharusnya

tak mengulang yang telah ada.”

 

Penutup

Itulah beberapa alasan mengapa saya menyebut Dea Anugrah sebagai penulis medioker yang hanya mampu menghasilkan karya yang biasa saja dan buruk. Ya, tentu saja saya sebal dengan Dea Anugrah. Dalam usia yang masih kinyis-kinyis itu, mengapa ia bisa menulis seperti itu. Menulis dengan cara mengubah hal sepele menjadi terkesan estetik. Menulis dengan cara mengubah cerita banci selebor menjadi cerita yang patut disimak. Menulis dengan mengubah cerita seorang pecundang menjadi cerita seorang hero bijaksana. Menulis puisi dengan mengadopsi beberapa metafor yang unik dan menyebalkan.

Kenapa kamu bisa menulis seperti ini, wahai Dea Anugrah?

Saya sebal.

Mungkin lebih tepatnya iri.

Dea Anugrah, kamu seorang penulis medioker!

Media, Millenial & Saya

iStockphoto.com

Pada suatu malam Sabtu, saya menerima sebuah email. Emailnya berisi sepotong undangan untuk menghadiri sebuah acara psikotest di gedung Sentul Internasional Bogor.Undangan itu dari NET TV. Sebuah stasiun televisi tersohor, yang usianya sangat muda tetapi sudah jadi candu bagi masyarakat, khususnya kaum muda. Perasaan saya waktu itu, datar saja. Karena, sebenarnya saya tak terlalu berharap banyak untuk bisa bekerja di NET TV. Namun, NET TV memang menarik. Saya apply di website NET TV itu pun juga sekedar iseng saja. Saya melihat informasinya sekilas di NET TV yang jarang saya tonton. Itu pun, yang mendaftarkan juga bukan saya, tapi pacar saya.  Saya mendapat undangan, sedangkan pacar saya tidak. Padahal ia juga mendaftar. Taka apa, anggap saja saya perwakilannya.

Maka, segenap persiapan saya lakukan, meskipun iseng. Mencetak undangan dan ID card. Mempersiapkan alat tulis dan papan soal. Pada hari H, berangkatlah saya ke gedung Sentul Bogor yang pernah dipakai Justin Bieber untuk manggung itu. Sesampainya di sana, saya tiba-tiba terserang migrain. Saya pusing melihat lautan manusia. Gedung Sentul itu sudah seperti sarang semut.

Sial dan lucunya, seperti ada hal yang saya lupakan. Saya mencoba mengingat, kira-kira apa itu. Dan benarlah. Saya lupa membawa fotokopi ijazah. Salah satu syarat utama yang wajib dibawa. Tapi, tak apa. Saya berusaha tenang. Toh, saya hanya ingin merasakan pengalaman ikut psikotest di NET TV.

Ketika sudah masuk gedung, saya sebisa mungkin memilih tempat yang tak terlalu jauh dari panggung. Yang memungkinkan saya melihat para crew NET TV yang kece-kece itu. Ada banyak crew NET TV berseliweran. Beberapa di antaranya bahkan ada dari CREW abal-abal NET TV, yang konon adalah para pemain Sitkom ditayangkan di NET TV. Saya baru tahu info itu dari salah satu peserta. Yang saya tahu dari NET TV hanyalah nama Wisnu Utama. CEO yang sering disebut sebagai pelopor media paling sukses di Indonesia.

Acara dibuka dengan berbagai macam acara pemanis. Bagi doorprize, kesan peserta, dan sedikit perkenalan tentang NET TV. Sudah cukup, saya merasa mulai bosan.

Kebosanan saya mati ketika Wisnu Utama muncul untuk melakukan pidato sambutannya. Inilah yang saya tunggu-tunggu. Menonton seorang pelopor media tersohor langsung dari dekat. Ia tampil dengan gaya khas anak muda yang santai. Sama sekali tak menunjukkan kekakuan. Gayanya sungguh keren. Pantas saja ia sering dibandingkan dengan para CEO dunia. Seperti Bill Gates atau Steve Jobs.

Wisnu Utama pertama-tama berbicara tentang latar belakang berdirinya NET TV. Niatnya itu didasari atas kecemasannya melihat konten media televise yang itu-itu saja. Sebelum mendirikan NET TV, Wisnu menggandeng lembaga riset sekelas Nielsen untuk melakukan riset mengenai kecenderungan konsumsi tayangan masyarakat di Indonesia. Hasilnya, sebagian besar media televisi masih menyasar masyarakat penggemar sinetron a la opera sabun dan acara-acara musik popular (yang konon disebut sebagai sinetron lebay dan acara music alay). Sedangkan, pada ceruk lainnya, masyarakat kita juga gemar memamah tayangan TV berita yang sering menayangkan berita politik (tapi, sialnya. Konten berita mereka sangat tendisius dan tidak sehat). Dan tentunya, anda pasti tahu stasiun TV mana saja yang menyasar segmen konsumen seperti itu.

Wisnu sebisa mungkin mencari peluang pada ceruk konsumen yang belum terisi. Kira-kira, ceruk sempit mana yang belum terisi. Pada titik ini, ternyata Wisnu merasa khilaf. Ia seperti mengabaikan sebuah hal besar. Sisa ceruk itu tidak sempit. Ia masih lapang. Pasar itu adalah pasar yang sangat luas dan punya masa depan yang panjang. Pasar itu adalah: generasi millennial dan kelas menengah, yang pada era ini jumlahnya cukup massif. Golongan inilah yang seringkali disebut nitizen itu. Generasi digital yang gemar menenteng gawai canggih kemana pun mereka pergi. Generasi yang sering membikin gaduh jagad social media dengan berbagai macam isu. Dari yang cerdas sampai yang dungu. Generasi milenial adalah mereka yang terlahir pada rentang tahun 1980 sampai tahun 2000.

Wisnu percaya bahwa generasi millennial dan masyarakat kelas menengah adalah segmen yang potensial. Wisnu tak boleh mengecewakan mereka. Maka oleh karenanya, menurut Wisnu, NET TV harus memproduksi konten menarik yang juga mengandung edukasi. Itulah prinsip dasar dari NET TV. Selain itu, NET TV juga mengembangkan platform-platform digital untuk menjaring generasi digital ini. Dan usaha Wisnu tak sia-sia. NET TV baru berusia sekitar 3 tahun, dan sudah menjadi salah satu telivisi yang menjadi candu bagi para penontonnya.

Saya bersyukur sudah bisa mendapat secuil ilmu dari empunya bisnis media itu. Sebuah bisnis selalu berbeda bila ia mendapat sentuhan orang cerdas.

Sedangkan untuk urusan psikotest. Saya mengabaikannya. Alih-alih mengerjakan soal psikotes pauli secara telaten. Saya justru tertidur karena kantuk yang tertahan sejak pukul 2 dinihari.

NET TV adalah TV orang cerdas dan berkelas?

Seorang kawan pernah bercerita bahwa ia sebal dengan perkataan kawannya soal NET TV.

 “NET TV itu channel elegan. Bukan channel anak-anak alay.”

Menurutnya, pernyataan semacam itu justru membuat gap kelas yang tegas: antara kelas menengah ke bawah yang alay dan mudah digiring presepsinya dengan kelas menengah ke atas yang jumawa dengan kadar intelektualitasnya. Dia tidak suka dengan pola pikir semacam itu. Saya juga setuju dengan pendapat kawan saya itu. Seharusnya memang, tayangan yang berkualitas tak semata-mata diproduksi oleh media. Tapi, tayangan berkualitas selalu disaring dari saringan manusia cerdas. Tanpa kelas.

Lantas apa hubungan semua ini dengan saya?

Tidak ada. Saya bukan siapa-siapa. Mungkin saya adalah bagian dari generasi Milenial. Tapi, sungguh, saya bukanlah pasar potensial yang sering disebut oleh Wisnu Utama. Saya adalah saya. Saya adalah orang yang jarang menonton televisi. Kecuali untuk menonton serial kartun Spongebob. Sudah cukup. Hanya dengan itu, saya sudah bisa bahagia.

Selamat berjuang para generasi Millenial. Perjuangan kalian masih panjang!

Menjenguk Hutan

hutan
hutan hujan, diambil dari national geographic

Jika hutan adalah ibu.
Kita manusia memperkosa ibunya.
Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik.

 

Ada, tak ada manusia mestinya

Pohon-pohon itu tetap tumbuh.

—Bebal, Sisir Tanah

 

Hutan adalah tempat merenung bagi saya. Setiap pagi, setelah menonton film Spongebob dan mengudap semangkuk bubur ayam, saya mencoba untuk menyempatkan diri pergi ke hutan di belakang rumah. Memakai celana training, kaos oblong, dan sepasang kasut butut. Berjalan santai saja, terkadang juga lari-lari kecil. Barangkali juga agar ada sedikit bulir keringat yang keluar dari pori kulit saya. Sesampainya di hutan, saya duduk sejenak, menghela napas dan menghirup udara basah hutan. Segar rasanya. Saya juga gemar sekali memunguti biji pinus yang sungguh unik bentuknya itu. Saya juga suka duduk di rumput sembari dinaungi pohon-pohon berusia puluhan tahun. Sejenak, saya merenung. Semacam lamunan yang melenakan. Keindahan ini begitu puitis. Pagi di hutan, merupakan suasana yang sempurna.

Ternyata, kebahagiaan mudah sekali tercipta dari suasana hutan yang bening. Syukurlah, saya tinggal di sebuah desa yang masih asri, yang diapit oleh bebukitan dan hutan-hutan kecil. Jiwa saya masih terselamatkan.

Saya mencoba untuk menikmati kesunyian hutan. Suara-suara tonggeret yang nyaring. Juga ciap-ciap burung yang tak saya ketahui jenisnya. Saya biasanya  juga melihat ricik aliran kecil air di celah bebatuan yang dilebati lumut. Sungguh, ini seperti sebuah piknik yang mewah.

Semoga, kelak, anak-cucu-cicit saya juga bisa merasakan kebahagiaan jenis ini. Meskipun, saya tak pernah yakin apakah harapan saya akan berumur panjang. Saya berpikir seperti itu, setelah saya disuguhi dengan data-data yang menyedihkan tentang hutan.

Kota Bandung, yang hijau dan teduh itu. Yang dahulu dikenal sebagai kota seribu bunga (inilah alasan kenapa Bandung disebut sebagai kota kembang, bukan karena perempuannya cantik seperti kembang), kini telah menjelma menjadi kota metropolitan yang gerah. Setidaknya, ada beberapa titik hutan yang mulai terkikis di Bandung. Salah satunya yang paling mengkhawatirkan adalah hutan kota Babakan Siliwangi. Hutan ini mulai sakit. Hutan ini terancam hilang karena pengelolaan yang salah. Entah, sengaja atau tak disengaja. Namun, akibatnya sungguh menyedihkan. Telah terjadi penurunan muka air tanah dari 22,99 meter menjadi 14,35 meter. Maka, tak ayal ini pun menganggu ekosistem hutan. Ada 6 jenis burung yang migrasi karena ini. Kota Bandung ditaksir mengalami kerugian mencapai Rp. 10 Milyar karena masalah hutan Babakan Siliwangi ini.

Itu hanya dalam skala kota Bandung. Bagaimana jika kita bicara dalam skala Indonesia?

Menurut data yang dihimpun oleh lembaga Greenpeace Indonesia pada tahun 2013, Indonesia kehilangan hutan seluas 1,13 juta HA setiap tahunnya. Dari rentang tahun 2009 hingga 2013. Belum lagi masalah penggundulan hutan yang mencapai 4,5 juta HA.

Baiklah, itu adalah data pada tahun 2013. Namun, kita tahu bahwa pada tahun 2015 yang lalu Kalimantan dilanda kebakaran hutan hebat. Dan ini tidak terjadi di Kalimantan saja, tetapi juga terjadi di Sulawesi dan Papua. Dari data yang dihimpun oleh Katadata, setidaknya pada Juni sampai Oktober 2015 Indonesia telah kehilangan 2,6 juta HA lahan hutan suburnya. Angka ini stara dengan 4,5 kali lipat luas pulau bali. Jika ditaksir, dampak kerugian dari bencana ini mencapai Rp. 221 trilliun.

Sedangkan, pengembangan hutan menurut fungsinya juga timpang. Secara umum hutan dibagi tiga menurut fungsinya. Yaitu: hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi. Hutan konservasi ialah hutan yang dimanfaatkan sebagai suaka konservasi bagi flora dan fauna. Hutan lindung adalah hutan yang difungsikan untuk menjaga keseimbangan alam, khususnya untuk menjaga siklus air. Sedangkan hutan produksi, adalah hutan yang tentu saja dimanfaatkan utnuk produksi. Hutan yang pohonnya untuk dipanen dan dijadikan bubur kertas. Hutan yang ditanami pohon-pohon sawit yang banyak menghisap air itu. Hutan produksi, adalah hutan menu favorit para tuan dan puan berkantong tebal. Jadi, wajar jika hutan produksi pengembangannya lebih gencar, ketimbang hutan lindung atau hutan konservasi. Entah, kenapa kebahagiaan manusia kebanyakan selalu jatuh pada deret angka.

Padahal, mereka juga bisa menikmati kebahagiaan yang saya ciptakan setiap pagi.

Pergi ke hutan untuk melamun. Menjenguk hutan.

Tapi, saya tak tahu lagi, mungkinkan saya masih bisa berharap. apakah kelak, anak-cucu-cicit saya dan anda masih bisa menjenguk hutan?

Surat Terbuka Untuk Cania Citta Irlanie

feminis
perempuan bisa jadi apa saja!

Apa kabar Dik Cania yang baik hatinya?

Saya harap Dik Cania tetap dalam keadaan baik-baik saja dan selalu semangat dalam membela gagasannya. Maafkan saya sebelumnya, jika terlampau lancang menuliskan surat terbuka ini untukmu. Sebab, apalah saya ini—cuma pemuda kapiran. Namun, sejak pertama kali mengenal Dik Cania dari video seri Pamitya Meeting yang digagas oleh Mz Arman Dhani—penulis hipster idola saya itu—saya langsung terserang rasa kagum. Ternyata, di luar sana masih banyak perempuan muda dengan pemikiran cemerlang. Dik Cania lah contohnya.

Meskipun dalam video itu Dik Cania lebih banyak becandanya, tetapi diam-diam saya mendaras gagasan-gagasan yang Dik Cania lontarkan. Sebagian besar menarik. Dan saya bersepekat untuk itu. Maka, tak lama bagi saya untuk berusaha ingin mengenal Dik Cania lebih jauh .Saya pun mencari akun Facebook Dik Cania dan bertemanlah saya dengan Dik Cania. Saya cukup senang bisa berteman dengan Dik Cania di jejaring Facebook (meskipun itu hanya sebatas pertemanan maya, saya sudah senang. Apalagi jika kelak bisa kopdar dan berdiskusi).

Setelah pertemanan di Facebook terjalin, maka secara otomatis saya pun bisa rutin menyimak status Dik Cania, yang tentu sebagian besar selalu berisi gagasan-gagasan menarik. Dari status-status itu, saya bisa menarik kesimpulan (secara gegabah tentu saja) bahwa Dik Cania ini memang seorang liberalis yang kaffah. Tetapi Dik Cania, saya mohon maaf sekali lagi. Ada beberapa gagasan dari status Facebook Dik Cania yang mengganggu pikiran saya. Berikut saya bahas satu persatu. Dan perlu saya tekankan bahwa ini hanyalah sebatas kegelisahan saya. Apabila dirasa ada paparan saya yang salah atau gagal paham, silahkan dikonfirmasi lagi.

Tentang Laissez Faire

Di tengah gemuruh masa menjelang pencoblosan Pilkada Jakarta. Tiba-tiba saya membaca status Dik Cania, yang bunyinya begini:

Gerakan anti politik uang itu dasar paradigmanya sama dengan gerakan anti prostitusi; Musuh besar laissez faire.

Pernyataan itu langsung mengganggu pikiran saya. Apakah laissez faire memang begitu bebas, sehingga benar-benar tanpa batas? Apakah pemahaman saya tentang laissez faire selama ini salah? Saya pun ikut menuliskan komentar di status Dik Cania itu, dan Dik Cania membalas seperti ini:

Market has no limit. Every individual may sell and buy anything

Ternyata selama ini pemahaman saya tentang laissez faire memang salah.

Tak beberapa lama kemudian, Dik Cania juga membagikan sebuah link tentang ulasaan buku yang membahas laissez faire ini. Saya membacanya. Dengan sedikit pikiran dan perasaan ganjil. Ternyata, laissez faire memang serampangan. Agamanya tetap uang. Duh, saya sedih.

Market has no limit. Jika memang demikian cara Laisse Faire bekerja, maka premis yang sama juga bisa saya pakai untuk menghalalkan “penjualan budak di NTT”. Toh, pasar tak punya batas. Jadi, tentu saja semua boleh dijual. Apakah memang begitu?

Saya jadi ingat kata Einsten. Perbedaan antara jenius dan idiot adalah: jenius ada batasnya, sedangkan idiot tidak.

Tentang Keberpihakan Media dan Bias Kelas

Kegelisahan saya selanjutnya ialah ketika Dik Cania menulis seperti ini:

Nyuruh media netral sama kayak nyuruh pegulat gak ngelakuin kekerasan, dia kudu cipika-cipiki aja di atas ring

Saya sepakat dengan status Dik Cania ini. Memang tak ada media yang netral. Mereka pasti berpihak pada golongan tertentu. Tapi, ketika saya menuliskan pendapat saya bahwa seharusnya media membuat pernyataan redaksional atau manifesto akan keberpihakannya, Dik Cania kemudia menulis seperti ini.

ya ampuuun terus gunanya dia bikin artikel apa kalo musti ditulis gede-gede, “saya dukung ini” 😂 Ibarat film Logan yang bikin disclaimer, “Ini film tentang wolverine baru, X-24, dan di sini Logannya mati”

Dik, tak semua masyarakat kita paham dan sadar akan keberpihakan media. Sebagian mereka mungkin adalah kelas menengah ke bawah yang mudah sekali digiring. Ketika Dik Cania menuliskan komentar tersebut, Dik Cania seperti secara tersirat menunjukkan posisi kelas Dik Cania. Semacam varian laku politik identitas. Dik Cania seperti abai kelas. Padahal saya tahu Dik Cania ini salah satu pembaca Chantal Mouffe yang pemikir post marxist itu. Patner sejati dari Laclau Mouffe. Oiya, saya lupa, mereka sebenarnya seorang liberal yang bertopeng marxist. Mereka berdua kan pemikir post marxist yang malah menganjurkan upaya untuk meninggalkan konfrotasi kelas dan memilih jalan demokrasi radikal.

Tapi, semoga saja dugaan saya ini salah.

Oiya, soal keberpihakan media silahkan baca link ini dan ini

Tentang Feminisme

Oiya, kalau tentang feminisme, sebenarnya saya tak ingin berkomentar banyak soal ini. Sebab, sependek pandangan saya, di beranda akun facebook Dik Cania tak terlalu berbusa ketika bicara feminisme. Saya setuju dengan cara Cania ketika bicara feminisme. Dik Cania fokus pada aras perjuangan ekualitas gender. Tidak melulu soal otorisasi tubuh dan hal-hal yang justru membuat kajian feminisme jadi sebatas perkara tubuh perempuan.

Semoga Dik Cania juga tetap ajeg dalam posisi itu. Tidak seperti feminis di lapak sebelah yang mudah marah dan terkesan insecure itu. Saya pernah menyatakan pendapat saya tentang feminis radikal dan pandangan saya tentang feminis yang ideal itu seperti apa, eh mereka marah. Bahkan sempat ada yang bilang begini:”cowok kayak rakhmad ni, yang bikin gue bertahan jadi perawan tua.”

Di situ terkadang saya merasa nelangsa

Ketika saya menjelaskan duduk perkaranya, ia lantas menghapus komentarnya.

Saya ini bukan misoginis, bukan seksis, bukan lelaki yang mendewakan patriarki, dan bukan lelaki tolol yang gemar menggesek pantat perempuan di dalam transportasi umum. Tetapi, kenapa mereka begitu rentan? Eh maaf Dik Cania, saya kebablasan. Itu urusan mereka, bukan urusan Dik Cania. Hehehe.

Eiya, tapi apakah Dik Cania setuju dengan aborsi?

Jika jawabannya iya, kenapa alasannya?

Saya pun setuju dengan aborsi. Tapi tentu saja dengan catatan alasan tertentu. Kesehatan, misalnya.

Tetapi jika ada aborsi di luar alasan itu, saya menolaknya. Karena?

Dik Cania, saya pernah baca buku Rahim karya Fahd Djibran yang menceritakan betapa mengerikannya aborsi itu. Itu merupakan pembunuhan. Ngeri pokoknya. Jadi, saya berangkat dari dasar itu.

Tentang Agnostik

Seperti halnya orang beriman lain, seorang agnostik pun juga punya iman. Iman mereka tentu saja agnostik itu sendiri. Fenomena nyata yang ada di masyarakat. Bukti-bukti ilmiah. Jadi, tentu saja saya sangat menghargai iman Dik Cania itu. Saya sepakat, karena saya adalah penganggum ide ide pluralisme a la Ahmad Wahib. Dik Cania bebas untuk tidak percaya dengan surga dan neraka. Saya menghargai itu dan saya bersepakat.

Tentang Liberalisme

Maafkan saya Dik Cania. Jika memang liberalisme yang Dik Cania imani itu justru membuat orang jadi abai kelas dan membuat uang jadi tuhan, maafkan saya, saya akan lebih dulu murtad sebelum mengimaninya.

*

Oke. Sudah dulu. Saya berhenti menulis surat ini di sini.

Semoga berkenan.

Silahkan dikonfirmasi bila ada Logical Fallacy dalam surat ini.

Salam,

Rakhmad Hidayatulloh Permana

Pemuda yang mengagumimu 🙂

 

*

Setelah surat ini ditulis dan ditanggapi oleh Cania sendiri, kami menemukan beberapa titik temu dari kesalapahaman ini. Hal yang paling utama adalah soal ideologi liberal yang Cania anut. Ternyata, liberalisme yang ia imani dan bela bukan liberalisme yang tanpa batas. Tapi liberalisme yang pada titik tertentu mempertimbangkan faktor etis kemanusiaan. Untuk selengkapknya, silahkan baca di blog Cania.

Pagi Adalah Keheningan #Artsy1

Early Sunday Morning_Edward Hooper
Lukisan Early Sunday Morning karya Edward Hooper

Pagi adalah keheningan. Sebuah jeda untuk sekali lagi berpikir tentang sebuah pertanyaan ganjil dalam batok kepalaku: apakah hidup akan selalu berakhir dengan kehampaan?

Aku ingin memikirkannya, dengan menyusuri jalan-jalan pada sebuah kota yang sudah lama ditinggalkan oleh bahagia. Aku ingin menjawabnya, dengan tengkuk yang sudah lama tak dibelai oleh bias cahaya matahari pagi. Dan pada akhirnya, aku telah sampai pada aras waktu yang memaksaku untuk berhenti. Berhenti untuk bertanya. Menjalani pagi sebagaimana manusia pada umumnya. Mandi pagi, memakai parfum, memakai deodorant, memakai setelah kemeja yang sudah halus setelah disetrika, menyisir rambut yang telah dilumuri pomade murahan dan sarapan dengan semangkuk bubur instant yang hanya menawarkan rasa asin di lidah.

Aku akan berhenti bertanya. Berjalan menyongsong pagi. Berangkat ke kantor dengan pikiran seperti lemari es.

Semoga aku belum mati hari ini. Tapi, jika memang harus mati, hanya punya satu doa: semoga aku tidak terlahir kembali menjadi es krim yang leleh di ujung lidahmu.