Membaca adalah kegemaran sia-sia?

Bagi saya membaca adalah bentuk kebahagiaan lain selain tidur dan makan. Tapi, bagi sebagian orang-orang di sekitar saya, kegemaran saya adalah laku sia-sia. Tentu saja, pada beberapa poin mereka memang benar. Sebab, tujuan saya membaca hanya karena ingin membaca. Saya tak berharap dengan membaca lantas tiba-tiba saya akan jadi kaya mendadak. Atau dengan membaca lantas saya akan secara ajaib menjadi bocah jenius yang mampu memenangi olimpiade sains internasional. Saya tak berharap mendapatkan manfaat semacam itu. Meskipun banyak pula buku yang menjanjikan banyak hal semacam itu.

membaca-adalah-kunci-1
buku-buku aneh yang seharusnya jangan dibaca 🙂

Pernah pula, di kantor saya dulu, bos saya memarahi saya: “kamu itu jangan baca terus. Ini tuh dunia nyata. Bukan dunia mimpi kayak buku-buku yang kamu baca,” katanya dengan sedikit nada menghardik. Bahkan, ada rekan kerja yang menganjurkan saya untuk membakar semua buku-buku koleksi saya. Pada titik itu, saya sempat putus asa, dan sempat berpikir bahwa mereka seutuhnya benar. Buku-buku yang saya baca pun, sebagian besar adalah buku-buku aneh. Buku-buku yang tak menawarkan manfaat konkret bagi kehidupan. Buku jenis sastra dan filsafat, misalnya. Buku-buku jenis itu hanya akan membuat alam pikiran saya mengambang di semesta hampa, pikir saya waktu itu. Namun untunglah, saya bisa membunuh setan pembenci buku dalam kepala saya itu. Saya terus membaca dan tetap berbahagia.

Saya jadi ingat seloroh dari seorang dramawan norwegia, Henrik Ibsen: “Jika kau membongkar kebohongan hidup dari orang kebanyakan, maka kau telah merampas juga kebahagiaannya.” Mungkin itulah poinnya. Kebahagiaan tak lain adalah himpunan kebohongan yang tidak kita sadari. Kita tetap melakukan banyak hal yang kita sukai meskipun itu bohong dan sia-sia. Seperti kegemaran membaca. Banyak orang di dunia ini berpikir bahwa hidup harus konkret. Hidup harus menghasilkan manfaat nyata. Padahal pada satu titik hidup yang mereka jalani adalah kebohongan jenis lainnya. Dan saya, tentu enggan mengusik dan membongkarnya. Saya mengamini apa yang dikatakan Ibsen dan berharap semua orang menyadarinya. Kita harus terus berusaha membuat hidup ini baik-baik saja. Tidak boleh ada yang usil. Sebab kita terus berbahagia, dengan kebohongan yang terus kita jaga.

Sepakat kawan?

Advertisements

One Reply to “Membaca adalah kegemaran sia-sia?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s