Aturan Warung Fotocopy

Warung fotocopy adalah kawan karib bagi mereka yang sedang dikejar deadline skripsi dan tugas-tugas akhir lainnya. Saya pun, dulu juga begitu. Dan tentu saja saya selektif ketika memilih warung fotocopy. Saya, seperti halnya mahasiswa kere lainnya, selalu mencari yang murah jasanya. Namun ternyata hukum itu berlaku: harga tak bisa bohong. Kualitas jasanya buruk. Jadi, pada akhirnya saya lebih memilih yang pas saja. Dan warung fotocopy langganan saya itu memiliki 3 aturan jasa pelayanan yang terpampang di dinding. Seperti ini bunyinya:

aturan-hidup
camkanlah ini!
  1. Jika ingin murah dan cepat, jangan minta bagus
  2. Jika ingin bagus dan murah, jangan minta cepat
  3. Jika ingin cepat dan bagus, jangan minta murah

Sejenak, saya pun mengulang-ulang bunyi aturan itu dalam kepala saya. Benar juga ya, pikir saya. Dan menurut saya aturan ini berlaku untuk segala aspek kehidupan. Misalnya, dalam bisnis. Saya saat ini sedang memulai bisnis ternak ikan lele. Modalnya sekitar 3 juta rupiah. Ada aturan yang berlaku dengan beberapa konskwensi seperti aturan warung fotocoy tadi.

20170217_155526.jpg
ikan lele yang sedang mengapung kawan
  1. Jika saya ingin untung besar, dengan menunggu lele itu sampai gemuk dan siap dipanen, saya harus menunggu berkisar antara 2-3 tahun. Untungnya lebih besar, sebab untuk urusan pakan, saya hanya perlu mengandalkan bangkai ikan tanpa harus membeli pakan apung.
  2. Jika saya ingin lele saya cepat besar dan siap panen, saya harus rela membeli 3-4 karung pakan apung yang harganya dua kali lipat dari harga modal ikan lele tadi. Dan, perhitungan laba bersihnya lebih kecil ketimbang pilihan pertama. Itulah konsekwensinya.

Jadi, aturan-aturan warung fotocopy tadi seakan mengingatkan saya kembali bahwa: hidup selalu menyediakan berbagai macam pilihan.

Hidup adalah potongan-potongan kecil yang tak sempurna. Kita tak bisa menuntut segala menjadi utuh dan sempurna. Kita harus sadar, ada yang harus kita pilih dan juga ada yang harus kita relakan. Begitulah hidup, berjalan, Dik.

Advertisements

Hari Belut Nasional

belut-uuu

Di Jepang, ada hari peringatan nasional yang unik. Hari itu adalah hari belut nasional atau Doyo No Ushi No Hi. Pada hari itu, seluruh masyarakat Jepang, dari anak-anak hingga kaum lansia merayakannya dengan memakan belut bersama-sama. Semacam festival, dimana berbagai macam belut diolah menjadi masakan yang bisa menerbitkan air liur. Salah satu jenis yang paling digemari adalah belut panggang. Belut panggang, biasanya adalah masakan yang diolah dari belut pilihan. Belut ini di ambil dari danau sekitar Shizuoka. Belut yang ditangkap kemudian dikuliti dan dibaluri oleh bumbu lokal khusus. Kemudian dipanggang dan taraa…

belut-panggang
belut panggang khas jepang

Ada juga belut yang direbus dan disajikan bersama wasabi. Segala macam jenis menu belut itu niscaya akan membuat anda semua meneteskan air liur. Namun, yang harus diingat dari makhluk yang serupa ular itu adalah: kelicinannya. Kelicinan itulah yang sesungguhnya berbahaya. Sifatnya itu, diam-diam bisa membunuh anda.

Saya pernah membaca sebuah berita dari portal berita daring, bahwa ada seorang bocah yang mati karena isi perutnya hancur setelah menelan belut yang masih hidup. Bocah itu, sesungguhnya tak sengaja. Ia tak hendak menelan belut itu, ia hanya ingin menciumnya. Namun, naas. Belut itu melewati tenggorokan, lalu ususnya, lalu mati.

Begitulah. Belut juga bisa berbahaya.

Dan saya pikir, tanggal 15 Februari 2017 kemarin, Indonesia seharusnya juga merayakan hari belut nasional. Karena…..

 

 

Tentu anda tahu alasannya.

Membaca adalah kegemaran sia-sia?

Bagi saya membaca adalah bentuk kebahagiaan lain selain tidur dan makan. Tapi, bagi sebagian orang-orang di sekitar saya, kegemaran saya adalah laku sia-sia. Tentu saja, pada beberapa poin mereka memang benar. Sebab, tujuan saya membaca hanya karena ingin membaca. Saya tak berharap dengan membaca lantas tiba-tiba saya akan jadi kaya mendadak. Atau dengan membaca lantas saya akan secara ajaib menjadi bocah jenius yang mampu memenangi olimpiade sains internasional. Saya tak berharap mendapatkan manfaat semacam itu. Meskipun banyak pula buku yang menjanjikan banyak hal semacam itu.

membaca-adalah-kunci-1
buku-buku aneh yang seharusnya jangan dibaca 🙂

Pernah pula, di kantor saya dulu, bos saya memarahi saya: “kamu itu jangan baca terus. Ini tuh dunia nyata. Bukan dunia mimpi kayak buku-buku yang kamu baca,” katanya dengan sedikit nada menghardik. Bahkan, ada rekan kerja yang menganjurkan saya untuk membakar semua buku-buku koleksi saya. Pada titik itu, saya sempat putus asa, dan sempat berpikir bahwa mereka seutuhnya benar. Buku-buku yang saya baca pun, sebagian besar adalah buku-buku aneh. Buku-buku yang tak menawarkan manfaat konkret bagi kehidupan. Buku jenis sastra dan filsafat, misalnya. Buku-buku jenis itu hanya akan membuat alam pikiran saya mengambang di semesta hampa, pikir saya waktu itu. Namun untunglah, saya bisa membunuh setan pembenci buku dalam kepala saya itu. Saya terus membaca dan tetap berbahagia.

Saya jadi ingat seloroh dari seorang dramawan norwegia, Henrik Ibsen: Jika kau membongkar kebohongan hidup dari orang kebanyakan, maka kau telah merampas juga kebahagiaannya.” Mungkin itulah poinnya. Kebahagiaan tak lain adalah himpunan kebohongan yang tidak kita sadari. Kita tetap melakukan banyak hal yang kita sukai meskipun itu bohong dan sia-sia. Seperti kegemaran membaca. Banyak orang di dunia ini berpikir bahwa hidup harus konkret. Hidup harus menghasilkan manfaat nyata. Padahal pada satu titik hidup yang mereka jalani adalah kebohongan jenis lainnya. Dan saya, tentu enggan mengusik dan membongkarnya. Saya mengamini apa yang dikatakan Ibsen dan berharap semua orang menyadarinya. Kita harus terus berusaha membuat hidup ini baik-baik saja. Tidak boleh ada yang usil. Sebab kita terus berbahagia, dengan kebohongan yang terus kita jaga.

Sepakat kawan?

Kenapa Mereka Gemar Berkelahi?

“Kira-kira, apa yang menyebabkan orang gemar berkelahi?”

“Pada akhirnya, semua perkelahian selalu berujung pada urusan perut.”

“Maksudmu?”

“Ia, rasa laparlah yang memaksa orang untuk berebut. Dan perkelahian selalu dimulai dari perebutan akan sesuatu, yang menentukan siapa yang menang dan kalah.”

“Aku tak paham maksudmu.”

“Kau ini bodoh atau tolol atau dungu? Begitu saja tidak tahu.”

“Apa maksudmu? Kau menantangku berkelahi?”

“*&@$&@^&^!&@&*^@*^$”

 

Continue reading “Kenapa Mereka Gemar Berkelahi?”