Pekerja Rentan

Untuk mengisi waktu setelah melepaskan sebuah pekerjaan yang menyebalkan, saya menikmati waktu untuk membaca buku dan menonton film. Tentu, kedua kegiatan tersebut adalah selingan belaka di antara ritus hidup saya sebagai manusia. Sekarang, saya sedang membaca sebuah buku—masih dalam proses, belum tuntas—berjudul Surplus Pekerja di Kapitalisme Pinggiran karya Muhtar Habibi, diterbitkan oleh Penerbit MarjinKiri. Sebuah buku yang secara bernas menguliti masalah klasik yang hampir menjangkiti semua negara di dunia: pengangguran dan lapangan kerja!

Ya, masalah itu sangat berkaitan sekali dengan kondisi saya saat ini. Status saya sebagai seorang penganggur, menciptakan nuansa yang lain ketika saya memulai membaca buku ini. Muhtar, dalam bukunya mencoba untuk mengkritik negara karena secara tak langsung telah menciptakan lanskap buruk pada ranah lapangan kerja kita hari ini. Alih-alih menurunkan angka pengangguran, pemerintah justru menciptakan para pekerja rentan. Surplus pekerja. Alias mereka yang bekerja dari luar pagar produksi. Mereka, bekerja pada ranah yang menjadikan mereka sekedar baut dari sebuah mesin raksasa. Dengan upah yang minimal, mereka harus dipaksa bekerja dengan nafas yang selalu terengah. Hal ini, tidak lain dan tidak bukan, menurut Muhtar dalam bukunya, adalah ulah dari neoliberalisme negara. Muhtar dalam buku ini juga tak segan-segan menggunakan sebilah pisau bedah teori Marxis yang seringkali dianggap kacangan (entah, saya heran dengan mereka yang selalu menyebut komunis telah bangkrut).

Selama membuka tiap lembarnya, saya seolah-olah kembali pada masa ketika saya bekerja dulu. Sejujurnya, saya tak bisa dengan lantang menyatakan bahwa kemarin, saya adalah bagian dari pekerja rentan seperti contoh dalam buku ini. Bukan. Posisi saya pada waktu itu juga tak terlalu buruk sebenarnya. Bekerja di sebuah ruangan ber-AC dan dengan penampilan yang (cukup) necis. Namun, tentu saja, beban kerja itu tetap ada. Bahkan lebih berat. Sebenernya kemarin, saya juga adalah buruh. Bedanya, saya adalah buruh dengan penampilan rapi.

Memang, menjadi seorang pekerja pada ranah yang tak didisukai tak ubahnya seperti seorang pekerja rentan. Bekerja di luar pagar produksi. Varian lain dari sebuah alienasi.

Saya terus membaca buku ini.

Sembari menunggu, barangkali ada pekerjaan yang lebih baik. Pekerjaan yang tak memaksa saya menjadi baut mesin atau bolpoint dengan tinta yang bocor.

Saya merekomendasikan buku ini bagi meraka yang ingin, tahu bagaimana kondisi kaum pekerja rentan saat ini.

Advertisements