Berjalan

*

cemara

Aku berjalan saja. Menuju hutan cemara. Melalui setapak jalan batu-batu. Di sore hari yang semenjana. Melihat pucuk-pucuk cemara yang mulai ranggas. Seperti usiaku yang lekas. Mencuri dingin dari kulit pohon cemara yang mengelupas.  Juga galur-galur cahaya dari matahari yang tergantung di ufuk barat. Mengapa hidup harus dimaknai, tuan?

Alir sungai tak pernah mengirimkan bunyi riuh. Ia hanya menuntunku pada ricik yang tenang dan sendu. Suara sungai, adalah ritus doa yang tak pernah putus. Bukankah begitu, puan?

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s