Berjalan

*

cemara

Aku berjalan saja. Menuju hutan cemara. Melalui setapak jalan batu-batu. Di sore hari yang semenjana. Melihat pucuk-pucuk cemara yang mulai ranggas. Seperti usiaku yang lekas. Mencuri dingin dari kulit pohon cemara yang mengelupas.  Juga galur-galur cahaya dari matahari yang tergantung di ufuk barat. Mengapa hidup harus dimaknai, tuan?

Alir sungai tak pernah mengirimkan bunyi riuh. Ia hanya menuntunku pada ricik yang tenang dan sendu. Suara sungai, adalah ritus doa yang tak pernah putus. Bukankah begitu, puan?

*

Berwisata Sebagai Laku Kolonial?

Tidak seperti orang kebanyakan, setiap akhir pekan saya lebih memilih diam di rumah— lebih tepatnya di kamar, ketimbang harus pergi pakansi ke tempat-tempat jauh yang menawarkan segala paket hiburan pereda penat. Ah, tentu saja saya naif. Tapi, saya punya alasan tersendiri; karena saya termasuk orang introvert yang lebih betah berlama-lama di kamar untuk melakukan banyak hal seperti membaca, menulis (seperti yang saya lakukan sekarang), menonton film di laptop dan tidur (inilah kegiatan yang lebih sering saya lakukan). Barangkali juga karena saya tak punya banyak uang untuk ke sana dan belum ada orang yang mengajak saya untuk pakansi. Namun, tentu saja, apa yang saya lakukan ini juga beralasan. Saya tidak ingin berwisata ke tempat–tempat yang biasa dikunjungi banyak orang karena saya tak ingin jadi turis. Ya, itulah sikap politik saya: saya tak mau jadi turis.

Tidak, saya tidak berlebihan. Karena sikap politik saya itu tidak terbersit tiba-tiba, ia muncul dan dibentuk oleh pergulatan pemikiran yang cukup sengit setelah saya membaca A Small Place karya Jamaica Kincaid. Sebuah buku kecil yang berisi narasi poskolonial tentang sebuah negeri kecil bernama Antigua. Negara ini terletak di antara apitan samudra pasifik dan laut Karibia.

kincaid

Dalam buku ini saya seolah-olah menjadi turis. Dan Kincaid adalah pemandu wisatanya. Kincaid memandu saya untuk menyusuri Antigua. Namun bedanya, bila kebanyakan pemandu wisata akan menceritakan segala hal yang baik tentang tempat itu, maka Kincaid justru sebaliknya. Saya diajak Kincaid untuk melihat betapa keadaan sosial di Antigua begitu menyedihkan. Orang-orang miskin dan para pejabat yang korup. Bahkan, pada salah satu bagian saya diajak untuk melewati sebuah rumah sakit bernama Holberton. Rumah sakit dengan fasilitas buruk dan hanya memiliki tiga orang dokter yang oleh warga Antigua tidak disegani. Belum lagi ketika saya diajak oleh Kincaid untuk mengenal para pejabat Antigua yang memiliki moral bobrok. Pendapatan yang diperoleh Antigua dari sektor wisata, sudah jelas tak menetes ke warganya. Dan telak, Kincaid membuat saya terlihat sebagai turis yang bodoh dan menjijikan. Ternyata, di balik pemandangan indah Antigua, terserak kotoran dan kebobrokan di pemerintahannya. Ini juga mengingatkan juga saya pada sebuah novel White Tiger karya Aravind Adiga.

Barangkali itulah yang disebut warisan kolonial. Lalu, apakah mereka pergi ke sana untuk berwisata, diam-diam telah melakukan laku kolonial?

Ah, saya tak tahu. Yang pasti, saya tak mau jadi turis yang ditunjuk hidungnya oleh Kincaid.

Tapi sungguh, jika memang berwisata itu perlu, maka saya akan lebih memilih tempat yang tak umum dikunjungi orang. Seperti hutan pinus yang berjarak 2 kilometer dari rumah. Saya akan berjalan dengan sepasang sandal butut saya, dan membawa buku bagus—mungkin puisi, kumpulan cerpen atau novel. Mungkin di sana saya hanya akan duduk dan melamun di bawah pohon pinus yang mulai ranggas. Begitu saja.