Bosku Adalah Mesin

Lebih Baik Bekerja Dengan Robot, Ketimbang Dengan Manusia

 

Seperti biasa, saya masuk dengan perasaan canggung. Saya melihat telinganya memerah. Itu pertanda dia sedang kesal. Wajahnya sedang bersungut-sungut. Dan dia adalah bos saya. Orang yang selalu saya patuhi setiap perintahnya dan terkadang saya abaikan juga.

“Kesal saya. Lebih baik bekerja dengan robot deh, daripada sama orang. Capek ngasih tahunya.”

Setelah mendengar omelannya, saya pergi dari ruangannya dengan membawa setumpuk pekerjaan yang tentu saja juga membikin saya capek dan kesal. Pernyataannya menggaung dalam batok kepala saya. Pernyataannya membawa saya pada pergolakan pemikiran yang cukup sengit. Tentang betapa absurdnya manusia itu.

Saya tahu, pada titik tertentu manusia adalah makhluk yang menyebalkan. Namun, manusia tentu saja tak bisa disamakan dengan robot atau mesin. Dua instrumen yang memiliki kepatahuan seratus persen. Jika disuruh A maka ia akan menjalankan A. Jika disuruh B dia akan menjalankan B. Sebab manusia adalah makhluk yang dibekali dengan perasaan. Maka, tentu saja ia harus diperlakukan dengan cara yang berbeda.

Jika, Anda memperlakukan seorang manusia layaknya mesin dan robot, Anda tak jauh berbeda dengan seorang fasis yang gemar mencabuki rakyatnya. Atau, barangkali Anda memang lebih baik bekerja dengan mesin yang berdengung atau robot dengan kecerdasan buatan dengan suara monoton. Saya yakin, kurang dua minggu Anda akan kehilangan kemampuan berbicara dan mendengar. Anda sedang berubah menjadi mesin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s