Merenung

 

Merenung. Adalah salah satu hobi yang sejak kecil tak pernah saya tinggalkan. Sebagian orang, barangkali, yang sering melihat saya bengong, akan lebih mudah menyebut saya sedang melamun. Semacam kegiatan mubazir yang rentan. Konon, orang yang banyak melamun itu mudah dirasuki roh halus dan tak punya visi. Karena pekerjaannya hanya melamun. Terbuai dalam angan-angan dan ilusi. Abai dengan dunia yang serba keras dan cepat.

Saya kira, anggapan-anggapan semacam itu memang ada benarnya. Namun, pada titik lain, saya justru menganggap kebiasaan saya itu (jika tak pantas disebut hobi) adalah kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Kehidupan saya, menurut saya, sudah terlampau aus jika harus dijalani dengan rutinitas yang padat tanpa ada jeda untuk sekedar waktu merenung. Apalagi ketika bekerja telah menjadi bagian dari tanggung jawab. Hidup rasanya sudah menjadi begitu penat dan membosankan. Kadangkala, ada pikiran-pikiran jahat yang membujuk saya untuk bunuh diri saja. Dengan cara menabrak mobil tronton atau mengerat nadi di pergelangan tangan. Tapi, syukurlah, saya selalu disadarkan, bahwa masih ada kebahagiaan-kebahagiaan lain yang belum pernah saya cicipi. Ah, ironi!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s