Prinsip Hidup

Prinsip hidup adalah sebilah pedang yang ditempa oleh seorang pandai besi bernama pengalaman. Kira-kira, itulah gambaran saya tentang: apa itu prinsip hidup?

Seringkali, ada beberapa orang yang gemar bertanya dengan pertanyaan “apa prinsip hidupmu?”. Dan tentu saja, pertanyaan itu tak mudah ditemukan jawabnya. Sebab, tak selamanya setiap orang punya sepaket definisi instan tentang prinsip hidup yang diyakininya. Kebanyakan orang, termasuk saya, adalah manusia-manusia yang sedang mencari atau membikin prinsip hidup itu sendiri.

Prinsip hidup bukanlah jamu pahit yang harus dicekokan kedalam batok kepala tiap manusia. Tiap manusia, berhak dan bebas memilih, membuat dan memakai prinsip hidup yang diyakiniya. Karena pada akhirnya kita tahu, setiap manusia berada pada posisi jarak pandang yang berbeda.

Yang perlu kita terima ialah: prinsip hidup yang baik adalah prinsip hidup yang tak merugikan orang lain. Prinsip hidup adalah sebilah pedang yang tak dipakai untuk memerangi musuh, melainkan sebilah pedang yang cukup digunakan untuk menebas segala benalu hidup yang membikin dirimu tetap kerdil dalam ketakutan.

 

Merenung

 

Merenung. Adalah salah satu hobi yang sejak kecil tak pernah saya tinggalkan. Sebagian orang, barangkali, yang sering melihat saya bengong, akan lebih mudah menyebut saya sedang melamun. Semacam kegiatan mubazir yang rentan. Konon, orang yang banyak melamun itu mudah dirasuki roh halus dan tak punya visi. Karena pekerjaannya hanya melamun. Terbuai dalam angan-angan dan ilusi. Abai dengan dunia yang serba keras dan cepat.

Saya kira, anggapan-anggapan semacam itu memang ada benarnya. Namun, pada titik lain, saya justru menganggap kebiasaan saya itu (jika tak pantas disebut hobi) adalah kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Kehidupan saya, menurut saya, sudah terlampau aus jika harus dijalani dengan rutinitas yang padat tanpa ada jeda untuk sekedar waktu merenung. Apalagi ketika bekerja telah menjadi bagian dari tanggung jawab. Hidup rasanya sudah menjadi begitu penat dan membosankan. Kadangkala, ada pikiran-pikiran jahat yang membujuk saya untuk bunuh diri saja. Dengan cara menabrak mobil tronton atau mengerat nadi di pergelangan tangan. Tapi, syukurlah, saya selalu disadarkan, bahwa masih ada kebahagiaan-kebahagiaan lain yang belum pernah saya cicipi. Ah, ironi!

Esai dan Sunyi yang Lain

Membaca sebuah buku kumpulan esai mampu menimbulkan sensasi berbeda dengan ketika membaca prosa atau puisi. Terkadang, ketika membaca esai, saya justru menemukan jejak-jejak wangi puisi di dalamnya atau terkadang juga alir prosa yang filmis. Saya termasuk salah satu pembaca yang cukup gandrung dengan tulisan berjenis esai. Banyak esais yang saya gandrungi. Goenawan Mohamad dan Mahbub Djunaidi, adalah diantaranya. Dua orang esais itulah yang paling mampu memicu rasa kagum saya. Goenawan Mohamad—atau yang lebih akrab dpanggil GM—selalu mampu menghadirkan esai-esai puitik dengan berbagai macam tema. Di tambah lagi, dengan pembendaharaan wawasan ensiklopedik itu, saya kian di buatnya bengong. Betapa samuderanya wawasan orang ini! Di satu sisi, Mahbub Djunaidi—atau yang akrab di sapa Bung Mahbub—adalah esais dengan kepiawain yang lain. Bung Mahbub mampu meracik sebuah esai serius dengan sedikit kritik pedas dan kelakar. Seringkali, saya dibuatnya tertawa tergelak oleh esai-esai satirnya.

*

Tapi, dua nama barangkali itu sudah cukup dikenal oleh para pembaca Indonesia. Nama mereka telah jadi klasik. Namun, mungkin, banyak orang yang belum tahu dan mengenal nama Agus Rois. Seorang esais muda berambut gondrong dengan kulit legam yang eksotis. Saya pun baru mengenal nama itu ketika ia ramai dibicarakan di Ubud Writer Festival karena memakai nama samaran Raisa Papa. Sebuah nama yang semacam jadi alegori bagi tulisannya. Tulisan yang rendah hati dan penuh sunyi. Sekilas, membaca esai-esai seperti sensasi ketika membaca esai-esai GM. Ada nafas puisi di situ. Ada yang sunyi dan transendental. Di Benoa, Saya Bertemu Sidharta—buku esai esai pendek Agus Rois— barangkali, dengan sembrono saya sebut, adalah anak tiri dari buku esai Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai karya Goenawan Mohamad. Dua buku ini lebih-kurang, membahas tema-tema yang hampir sama. Kemanusiaaan yang musykil atau Tuhan yang sembunyi dari sunyi ke sunyi.

*

Seperti dalam esai Pupuan, Agus Rois, dengan kalemnya, menuturkan pengalamannya ketika berjalan sendirian di sebuah jalan setapak di Pupuan bali. Dan dengan nada lirih, di antara pepohonan dan sayup senja, ia juga memcoba mengingat kembali peristiwa-peristiwa peperangan di masa lampau. Peristiwa-peristiwa yang menunjukkan tentang betapa pongah dan degilnya manusia. Nuansa ini juga pernah saya temukan di esai tatal pertama, ketika GM mengolok-olok manusia pongah yang sering bangga dengan lembing dan takhta.  Yang padahal kebijaksanaan dan keluhuran itu bisa saja muncul dari serpihan kayu yang rompal—yang disebut tatal.

Di beberapa esai lainnya, Agus juga menyelipkan puisi ketika ingin menggambarkan sebuah maksud. Ia menukil Sapardi dan Tagore ketika membahas anak-anak pasar badung. Mencoba melihat betapa anak-anak adalah lawan dari orang dewasa. Ketika nasib ditangan anak-anak tak pernah jadi rumit. Ketika orang dewasa begitu mudah suntuk dan putus asa, sedang anak-anak mungkin hanya tergelak dan menangis seperlunya.

Lalu di esai Di Benoa, Saya Bertemu Sidharta—esai yang diambil sebagai judul buku—Agus menceritakan kembali tentang hikayat Sidharta, sang pangeran yang diasingkan dari wajah muram dunia itu. Ia, lagi-lagi bicara tentang sunyi. Tentang apa yang perlu dipetik dan diabaikan. Dan tentu saja, pada akhirnya kensunyian adalah nama lain dari kekosongan. Dan ternyata, nuansa membaca esai ini juga saya temukan ketika membaca tatal ketiga dari GM. Ketika GM bertutur tentang Sidharta dan laku hidupnya menempuh ruang hidup yang sunya.

Mungkin saya berlebihan ketika membandingkan esai Agus Rois dan GM. Atau mungkin saya juga seolah-olah ingin menunjukkan bahwa Agus Rois adalah epigon dari GM. Tapi, di satu titik, maksud saya jauh dari itu. Saya hanya ingin menikmati tulisan yang tunggal dan memiliki nyawanya sendiri. Meskipun, dalam satu kesempatan, saya pernah bertanya kepada penulisnya:

“Apakah mas Agus suka baca GM?”

Nggak ada penulis di kita yg nggak terpengaruh GM. Secara bacaan ya,tulisnya di jendela percakapan di facebook.

*

Namun, di luar itu semua, esai-esai Agus Rois cocok untuk dinikmati oleh mereka yang yang sudah lelah dengan kejumudan hidup.

Dibaca di gigir telaga berwarna hijau sayu dengan gelombangnya yang tenang, sembari sesekali melirik dedaunan yang gugur dari pokok pohon. Atau melihat seekor kadal yang lintang pukang masuk ke dalam semak-semak. Sesederhana itu. Sesunyi itu.