Tanaman Hijau di Meja Kantor

Ketika memasuki belantara bernama dunia kerja, kau tak boleh terlalu hijau.

Kira-kira pesan semacam itulah yang tercetus dari kepala saya setelah menjalani sakit dan pahitnya menjadi pegawai kantoran fresh graduated. Tak punya pengalaman sama sekali, jam terbang nol. Saya tak tahu rimba, saya hanyalah bocah polos yang kelewat girang karena bisa langsung bekerja tanpa jeda waktu yang terlalu lama setelah pesta wisuda. Namun, ternyata kegirangan itu hanya berlangsung selama beberapa minggu saja, setelahnya saya dipaksa untuk mencicipi pahit dan perihnya dunia kerja.

Mulai dari olok-olok rekan kerja, tekanan dari atasan, atau bahkan harus menjadi wadah luapan kemarahan klien. Tapi, ada yang lebih pahit dan lebih perih dari itu semua, yaitu ketika saya harus merasakan pengalaman ketika dijatuhkan oleh rekan kerja yang sudah saya percaya. Itu, rasanya lebih pahit ketimbang buah mengkudu, lebih perih ketimbang luka yang ditetesi air jeruk nipis.

Padahal, sejauh itu saya sudah memperlakukan mereka dengan baik, bahkan saya sebisa mungkin menaruh rasa hormat yang sepantasnya. Paling tidak, saya tak mengganggu mereka atau mencurangi mereka. Namun ternyata hasrat untuk bertindak culas memang bisa muncul dengan sendirinya tanpa harus dipicu oleh alasan apapun. Yang sering terjadi adalah, saya harus menerima masalah yang sebetulnya bukanlah ulah saya. Semata-mata itu adalah ulah mereka. Dan itu menyakitkan. Ketika saya membela diri, justru malah saya yang mendapatkan kesan sebagai orang yang gemar melempar kesalahan kepada orang lain. Alhasil, kesan itu terus-menerus menempel pada saya dan saya menjadi wadah yang selalu sedia menampung segala macam kesalahan dan omelan-omelan atasan.

Hari-hari pun berlalu, saya lewati semua dengan hati dongkol dan penuh gerutu. Saya mulai terserang berbagai gejala yang umum melanda para pekerja kantoran: nyeri di tengkuk dan susah tidur.  Belum lagi pekerjaan yang tak kunjung beres.

Saya pun mulai mencoba meluapkan keresahan saya dengan berbagai cara. Mengeluh kepada orang tua atau sahabat. Mencoba menyerap nasihat-nasihat dari orang-orang yang pernah mengalami hal yang sama, dan sebagainya, dan sebagainya.

Hasilnya pun tak terlalu buruk. Saya kembali kedalam hidup yang seimbang. Dan kuncinya adalah:

  1. Jika kau curangi, kau harus terlebih dulu memasang benteng untuk menghindarinya. Atau bahkan, berbohong memang diperlukan untuk menyelamatkanmu dari lubang kesalahan. Dan sebisa mungkin jangan sampai siasatmu itu ikut mencelakakan orang lain. Tetaplah menjadi orang baik. Jangan jadi orang jahat dan jangan jadi orang yang dijahati.
  2. Jangan terbiasa mengandalkan orang lain. Kau tahu, kepercayaan itu mahal harganya. Terkadang, orang yang kau andalkan bisa dengan mudah mencurangimu.
  3. Tutup telingamu. Taruh hatimu di tempat kedap suara. Dan bekerjalah dengan sebaik-baiknya.

Nah, begitulah kawan. Semoga saranku ini cukup berguna untuk kalian yang baru saja (atau yang akan) terjun ke dalam dunia kerja.

Ingat, jangan terlalu hijau. Sebab, di luar sana terlampau banyak manusia bertaring dan matahari panasnya sudah kepalang jalang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s