Malas Bangun Pagi

Dik, kau tahu kenapa aku selalu malas bangun pagi?

Sebab, pagi adalah waktu dimana aku harus memikul kembali hidupku sebagai manusia yang ringkih. Padahal pada mulanya pagi adalah waktu yang harusnya dinikmati dengan suasana sendu dan lembam, tanpa direpotkan dengan rasa was-was dan tekanan. Pagi adalah angin dingin yang membelai tengkuk dan suara-suara riuh yang melenakan telinga.

Namun, ternyata kenyataan tak selalu menyediakan hal-hal indah. Setiap pagi aku harus menjadi manusia yang mau tak mau harus sedikit memelihara sedikit sifat culas. Sebab, pada momen itu para manusia merasa dirinya dituntut untuk bersaing dan menang!

Menindas atau ditindas?

Pagi, pada titik lain adalah belantara kehidupan yang liar. Ia bisa mencelakakan. Jika kau tak tahu jalan setapak untuk mencapai tempatmu, kau akan mudah tersesat. Jika kau setia menjadi tanaman hijau yang polos, kau akan mudah terinjak bahkan dibabat.

Begitulah, Dik, memang. Pagi adalah waktu ketika rasa lapar begitu menyala, maka tak heran jika manusia-manusia lapar itu menjadi beringas.

Namun, Dik, yang perlu kau ingat adalah: pagi tetaplah pagi. Waktu ketika langit sedang begitu indah untuk dinikmati. Waktu ketika udara begitu sejuk untuk dihirup. Waktu ketika tanaman-tanaman hijau masih digelayuti embun, sehingga begitu segar untuk dipandangi mata.

Pagi, Dik, pada titik yang lain akan selalu menjagamu untuk tetap menjadi manusia yang baik-baik saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s